Tampilkan postingan dengan label Billingual series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Billingual series. Tampilkan semua postingan


With a timid voice and idolizing eyes, the little boy greeted his father as he returned from work, "Daddy, how much do you make an hour?"
Greatly surprised, but giving his boy a glaring look, the father said: "Look, son, not even your mother knows that. Don't bother me now, I'm tired."
"But Daddy, just tell me please!? How much do you make an hour," the boy insisted.

The father finally giving up replied: " Twenty dollars per hour."
"Okay, Daddy? Could you loan me ten dollars?" the boy asked.

Showing restlessness and positively disturbed, the father yelled:
"So that was the reason you asked how much I earn, right?? Go to sleep and don't bother me anymore!"
It was already dark and the father was meditating on what he had said and was feeling guilty. Maybe he thought, his son wanted to buy something.

Finally, trying to ease his mind, the father went to his son's room.
"Are you asleep son?" asled the father.
"No, Daddy. Why?" replied the boy partially asleep.
"Here's the money you asked for earlier," the father said.
"Thanks, Daddy!" rejoiced the son, while putting his hand under his pillow and removing some money.
"Now I have enough! Now I have twenty dollars!" the boy said to his father, who was gazing at his son, confused at what his son just said. "Daddy could you sell me one hour of your time?"





Gaji papa berapa?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama."Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?""Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?""Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat."Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur.

Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?"Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. "Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong" katanya."Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Andrew. Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?""Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ?Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah"."Tapi Papa..." Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan Sarah.Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini"."lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut."Aku menunggu Papa dari jam 8.

Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.




There once was a boy who had a temper. His father gave him a bag of nails and told him that every time he lost his temper, he must hammer a nail into the back of the fence.

The first day the boy had driven 37 nails into the fence. Over the next few weeks as he learned to control his anger the number of nails hammered gradually dwindled down.

He discovered it was easier to hold his temper than to drive nails into the fence.
Finally the day came when he didn't lose his temper. He told his father and his father suggested that the boy now pull out one nail for each day that he was able to hold his anger. The days passed and the boy told his father that all the nails were gone.

The father took the boy by the hand and led him to the fence. He said look at the holes in the fence. The fence will never be the same, when you say things in anger, they leave a scar just like the ones on the fence. You can put a knife in a man and draw it out. it won't matter how many times you say I am sorry, the wound is still there. 
A verbal wound is as bad as a physical one. Friends are very rare. they make you smile and encourage you to succeed. They lend an ear, and always want to open their hearts to us. 


Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk 
mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan 
mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang 
setiap kali dia marah ...

Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia 
marah ... Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa 
ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa 
mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia 
memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia 
mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya 
bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke 
pagar. "Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah 
lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti 
sebelumnya. "Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu 
meninggalkan bekas seperti lubang ini ... di hati orang lain.

Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu ... 
Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada ... 
dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik ..."




Total Tayangan Halaman

Popular Posts

www.penulistangguh.com. Diberdayakan oleh Blogger.