Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan



Aku dan Kak Feri belajar bersama di ruang depan. Sambil kembali menjelaskan mengenai KPK dan FPB, Kak Feri membuat salinan rumus di buku tebal disampingnya. Kak Feri kelas tiga SMP dan langganan juara. Kak Feri selalu menghindar setiap kutanya mau lanjut SMA kemana. Jawaban basa basinya adalah belum tahu. Tapi aku menduga Kak Feri bohong. Ayah pernah terpeleset omongan bahwa Kak Feri akan melanjukan Sekolah ke luar pulau. Aku menduga paling jauh adalah Palembang, tapi Palembang bukan luar pulau.

Tepat jam dua belas, adzan Dzuhur berkumandang. Kak Feri menutup buku sambil menepuk kepalaku dengan sayang.

“Kakak yakin, Andin bisa menjadi yang terbaik di kelas, pemahaman Andin sudah bagus,” ujar Kak Feri sambil berdiri dan menyeret kursi ke belakang.

“Tapi bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai harapan?” aku menatapnya dengan ragu.

“Harus percaya diri dong Adek Kecil,” sahut Kak Feri sambil tertawa.

Aku baru ingin membantah ketika Ayah menghampiri Kak Feri menyuruhnya bergegas wudhu dan mengajaknya sholat ke masjid besar di Kampung Sebelas. Rumah kami terletak di kampung tujuh, berjarak sekitar lima ratus meter dengan masjid besar dan satu satunya di desa.

 

Juno

Minggu adalah hari libur bagi teman-temanku. Kadang saat mengantar kopi keliling kampung aku menemukan mereka bergelantungan di pohon Sawo di atas sungai besar yang membelah desa. Di saat lain mereka  berteriak senang menangkap ular sawah dengan badan penuh lumpur atau bermain Benteng di lapangan depan langgar. Anak perempuan lebih sering berlama-lama mandi dan mencuci di batu besar pinggir sungai sambil bermain air. Setelah badan menggigil karena hampir dua jam berendam di sungai mereka  akan duduk di akar Pohon Sawo dan membuka bekal yang dibawa dari rumah, makan dengan lahap sambil berbagi lauk.

Dimanapun teman-teman bermain dan menikmati hari, aku tidak menemukan sosok Andini. Kadang aku ingin hari berganti cepat ke Senin sehingga aku bisa bertemu dengan si gadis jutek itu.

Andini punya dunianya sendiri. Dia hanya akan ditemui di ayunan tua di belakang rumah, memeluk buku kesayangannya atau di meja ruang depan yang telihat  jelas dari seberang jalan. Asyik dengan buku pelajarannya.

Siang ini aku seharusnya mengantar kopi ke warung toke Ihsan di perempatan. Kuambil jalan memutar ketika pulang dan melewati rumah Andini. Ada motor Suzuki merah di parkir di bawah pohon Nangka di depan rumah Andini. Itu motor sepupunya.

Memuaskan rasa ingin tahuku, sepedaku kuayun sepelan mungkin. Andini sedang berkonsentrasi dengan buku di depannya. Dihadapannya, lelaki berkulit putih dengan rambut disisir menyamping, tampak geli sendiri sambil memainkan ekor kuda Andini. Tanpa sadar aku menarik tuas rem terlalu kencang hingga sepeda berhenti tiba-tiba. Andini mengangkat kepala dan  melihat ke arah jalan raya, tempat aku berdiri mematung di atas sepeda. Raut mukanya berubah cepat menjadi kaku. Dipalingkan cepat kepalanya kembali menekuni apa yang tadi diabaikannya sesaat.

Kukayuh sepeda sekencang yang kumampu. Mengapa aku harus peduli apa yang dilakukan Andini. Aku bahkan tak berteman dengannya. Tapi aku tahu setiap malam aku membayangkan bisa dekat dengan Andini, menjadi temannya, mengajarinya lompat jauh, lompat tinggi dan permainan bola kasti.

Aku ingin menjadi teman Andini. Aku ingin mendengar ia berbicara tentang novel-novel yang dibacanya. Aku ingin mengajarinya membuat pantun. Aku pintar membuat pantun dan puisi, Andini seharusnya tahu itu.

Tapi setiap kali aku ingin meyapa Andini, ucapan uwak Marzuki kembali terngiang di telingaku. Desas-desus orang kampung memang sampai di telingaku. Juno anak titipan. Juno anak buangan. Anak penunggu kebun. Anak siluman. Setiap kali ingin membantah, aku melihat kembali kulit legamku. Dan aku menyerah pada takdir yang entah akan membawanya menjadi apa.

Sebentar lagi ujian sekolah. Aku tahu aku tak akan lama lagi bisa melihat Andini. Lepas SD, kakeknya pasti akan menyekolahkannya di SMP terbaik di kota, mungkin di Palembang.

Waktuku tidak banyak. Aku harus bicara pada Andini. Aku hanya punya kesempatan sekarang, sebelum kelulusan. Aku harus mengembalikan buku tulis Andini dan meminta maaf atas semuanya.

Aneh rasanya membayangkan sekolah tanpa melihat si kutu buku jutek itu. Apakah aku bisa meminta bapak untuk menyekolahkanku ke kota juga agar bisa satu sekolah kembali dengan Andini. Tapi secepat khayalanku datang, secepat itu juga kutepis. Mana mungkin anak buangan sepertiku bisa bersekolah di kota seperti Andini.

Aku tak pernah tahu masa depan apa yang akan menjemputku. Hingga pada suatu sore yang gerimis, sebuah mobil Hardtop merah melintas di desa dan berhenti tepat di depan rumahku. Dan sejak saat itu garis hidupku berubah total. Aku bukan lagi Juno si anak buangan.

Aku Juno Damari bukan anak siluman...

Bersambung...


 


Jalanan desa penuh dengan siswa-siswi berseragam merah putih. Sekolah kami terletak di ujung desa berbatasan langsung dengan hutan Meruang yang terkenal angker. Rombongan babi hutan seringkali terlihat menyeberang pada jam enam ketika anak anak piket pagi.

Aku melewati Andini yang berjalan sendiri menenteng novel selebar buku tulis yang dibawanya sejak selasa. Anak ini kutu buku, aku tahu koleksi buku ayahnya sangat banyak. Aku pernah beberapa kali mampir ke rumah Kakeknya di hulu desa membawa kopi mentah untuk ditimbang. Di meja kayu panjang  di sisi teras samping, ada foto Andini dan Ayah Ibunya berlatar ribuan buku dari rak-rak kayu hitam. Andini berumur enam tahun di foto itu tampak bahagia dipangku orang tuanya.

Andini adalah gadis kecil yang kesepian. Teman baiknya adalah koleksi buku buku ayahnya. Tak punya saudara, tak punya teman dan tak punya kerabat. Ayahnya perantauan dari Jawa, Ibunya anak tunggal dari Uwak Marzuki. Satu-satunya teman yang terlihat dekat dengan Andini adalah Feri, sepupu jauhnya yang sekarang duduk di kelas tiga SMP. Tapi SMP terdekat berjarak hampir lima belas kilometer di dekat Pasar Baru di kecamatan, jadi mungkin hanya seminggu sekali Andini bisa bertemu sepupunya.

Meli pernah berkata Andini itu aneh, dia sering tertawa sendiri ketika membaca dan seperti berbicara sendiri di lain waktu. Bagiku itu juga aneh.

Aku pernah menegur Meli agar lebih akrab dan bersikap baik dengan teman sebangkunya. Meli balas melotot dengan marah “Kenapa tak kau sendiri yang akrab, kau malah jahat, setiap kali Andini menyapa hanya kau balas dengan tatapan”.

 

HARI MINGGU

Andini

Tak terasa kami sudah kelas enam. Sejak masuk tahun ajaran baru kami disiapkan untuk belajar dan mengikuti les tambahan dari Pak Sanusi. Ibuku sudah sering mengingatkanku untuk fokus dengn pelajaran dan mengurangi membaca novel.

Hari ini hari minggu, lepas pulang mengaji dari langgar Kyai Kip, aku duduk di ayunan tua di samping jendela besar yang menghadap ke kebun. Aku ingin menyempatkan membaca Buku Atheis. Aku sudah memohon selama hampir dua minggu pada Ayah agar diperbolehkan membacanya. Ayah sempat menunda-nunda dan berkilah masih banyak buku lain yang belum kubaca. Tapi buku yang ditandai Ayah sudah habis. Buku lainnya tak diperbolehkan karena belum cukup umur. Bahkan koleksi S Mara GD dengan Kapten Kosasihnya sudah habis kulahap. Aku tertarik dengan buku-buku ayah di rak kaca itu karena ada tulisan besar KARYA PUJANGGA BARU.

Sambil menimang buku bersampul hitam setebal hampir 500 halaman di tanganku aku melamun. Aku ingin menulis seperti Ayah. Aku ingin menjadi pendongeng hebat seperti Ayah. Dan aku akan menulis kisah yang bagus sampai diterjemahkan ke seluruh dunia. Ayah bilang buku yang bagus akan dibaca oleh semua bangsa. Buku yang bagus lekat di hati pembaca, meninggalkan jejak dan menjadi penyemangat bagi yang membaca. Aku ingin menulis buku seperti yang dimaksud Ayah.

 

Kisahnya baru dimulai ketika hidungku kembang kempis menghirup aroma sambal kentang dari dapur. Aromanya menguar memenuhi ruang tempatku duduk. Lantai kayu hitam berdecit ringan mengiringi kakiku menuju dapur. “Hatchiiiim, hatchiiim...”

Bersinku tak terkendali. Kulihat pinggan putih di meja bulat sudah terisi irisan tipis kentang goreng berbalut cabai merah. Ah tak tahan kuulurkan tanganku untuk mencicip ketika tepukan lembut dibahu membuatku urung.

“Cucilah tangan dulu Andin dan lekas panggil Ayah dan Kak Feri di depan,” Ibu menatapku dengan tersenyum sambil matanya bergerak lucu kearah ruang depan tempat Ayah dan Kak Feri mengobrol.

“Bolehlah cicip dikit Bu?” ujarku dengan tatapan memohon.

“Tak nak!, Tak elok anak perawan suka incip, nanti tak baik kalo sudah besar” Ibuku menjawab dengan sabar sambil mendorongku ke arah ruang tamu.

Aku bergegas menemui Ayah, kulihat sepupuku sedang asyik menghirup cuko berwarna hitam bikinan ibu. Gigi putihnya menyembul dari balik mangkok ketika melihatku mendekat. Kak Feri anak Makwo Eteh, ponakan Kakek. Usianya hampir 14 tahun, beda 5 tahun denganku. Berkulit putih dan berbadan gempal hampir seukuran Juno. Mungkin Kak Feri kalah tinggi dibanding Juno tapi Kak Feri jelas lebih tampan dibanding Juno. Aku tersenyum mebayangkan Juno bertemu dan berkelahi dengan Kak Feri, menebak siapa yang bakal menang. Seandainya Kak Feri tinggal dekat denganku aku akan mengadu setiap detik, mengadukan perlakuan teman-temanku, mengadukan Juno yang tak pernah ramah denganku. Rasanya menyenangkan hanya dengan membayangkan.

“Pagi-pagi sudah ngelamun aja adeknya kakak,” sapa Kak Feri hangat. Pipiku memerah ketahuan melamun.

“Kapan Kak Feri nyampe?” sahutku cepat menutupi gugup karena ketahuan membayangkan yang tidak-tidak.

“Baru lah, baru abis 8 ikok pempek” sahut Kak Feri dengan senyum lebar.

Ayah menghirup kopi hitam dari gelas panjang di atas meja, mengabaikan kami. Ayah sibuk dengan pikirannya sendiri. Kulirik meja segi empat kecil yang terlihat penuh dengan dua gelas kopi, cuko dan piring berisi pempek. Hanya tersisa dua buah pempek lenjer di sana, kuambil dan kumakan tanpa cuko. Aku masih mengunyah pempek kedua ketika Ibu mendekat dan mengajak kami ke dapur untuk sarapan nasi.

Kak Feri dan Ayah makan dengan lahap.

“Loh katanya dah habis 8 ikok pempek, ih kok masih kelaparan?” protesku melihat Kak Feri makan. Yang ditanya hanya senyum-senyum karena mulutnya penuh dengan makanan. Ibu kembali menepuk pundakku.

“Iya, nggak boleh bersuara kalo lagi makan, kecuali kentut,” jawabku dengan cemberut. Ayah hampir tersedak mendengar jawabanku lalu bunyi seperti kentut yang ditahan terdengar. Aku celingukan mencari siapa yang kentut. Dan senyum lebar Ayah menjawab rasa penasaranku.

“Maaf, nggak sengaja,” kata Ayah masih dengan senyum pepsodennya. Kak Feri dan Ibu ikut tertawa kecil.

Bersambung...

 


 


BAGIAN SATU

TERLAMBAT

 

Andini

Aku masih asyik menyelesaikan pohon faktor dari tugas yang diberikan Bu Mutia ketika pintu terhempas membuka dan seorang laki laki dengan tinggi badan melampaui teman sekelasku masuk bergegas menuju meja guru yang berjarak sejengkal dari tempatku. Aku tersentak ketika Bu Mutia memanggil namaku dan menyuruhku mengambil buku absensi kedisiplinan. “Tuliskan nama Jano, catat hari dan jam kedatangannya. Jangan lupa laporkan sabtu depan ke meja Ibu.” “Baik Bu Mutia” balasku memberanikan diri menatap Jano dengan penasaran, meskipun obyek didepanku tampak sibuk sendiri mengusap peluh yang menetes dari kening, leher dan lengannya yang gempal.

Bagaimana mungkin seorang anak kelas lima SD berpeluh sedemikian banyak pada jam delapan pagi, pikirku heran. Kami tinggal di  pegunungan dengan hutan lebat terbentang antar desa. Gigil kami di pagi hari rasanya masih membekas. Aneh.

 

...

Tatapan

Suara bel dari gong kecil didepan ruang guru terdengar sampai ke kelas kami yang terletak di ujung, dan berbatasan dengan pagar sekolah. Meli melompatiku yang masih berusaha memasukkan  LKS Matematika ke dalam laci meja. Sial, kepalaku hampir saja membentur meja. Aku sudah  bersiap meneriaki Meli ketika Jano melewati mejaku dan pukulan tangannya mendarat cukup keras di meja dan membuatku mendongak.

“Apa apan sih!” teriakku keras. Omelan yang seharusnya untuk Meli kualihkan ke Jano. Tanpa sadar aku berdiri menatapnya dengan sedikit mendongak berusaha menerka maksudnya.

Pertanyaanku hanya berbalas tatapan sekilas dari Jano. Tanpa berhenti, Jano melewatiku dengan pelan, tanpa bergegas tanpa menoleh dan tanpa rasa bersalah.

Aku teringat nasehat emak tentang Jano, “jangan terlalu dekat dengan Jano, dia berbahaya, dia berbeda dengan kita Andini, ”entah apa maksud emak.”

Aku masih berusaha menebak apa yang terjadi ketika suara riuh teman sekelas membuatku menoleh dan menghampiri. Keingintahuanku membuatku setengah berlari menuju pintu keluar dan menabrak tubuh hitam legam yang sedang bersandar santai di pintu kelas kami yang setengah terbuka. Tatapan mematikan kembali mengarah padaku, aku melupakan pening dan denyutan di keningku yang mungkin akan membiru karena kerasnya benturan dan segera berlalu menjauh. Jika tadi tujuan utamaku berlari untuk melihat paa ynag terjadi, sekaramg aku hanya ingin lari menjauh dari tubuh hitam menakutkan yang ada di depanku.

Suara Meli  dan Torik  yang memanggilku bersahutan makin keras ketika aku sudah mencapai lapangan. Puluhan anak riuh memperhatikan seekor kerbau yang terihat bingung menerjang kesana kemari di tengah lapangan. Bu Mutia, Pak Didi, Pak Dani dan guru lainnya terlihat berusaha menenangkan kerbau hitam itu ditengah riuh suara tepuk dan sorai murid. Terlihat kerbau semakin menjadi dan menerjang makin mendekat, semua murid berlarian masuk ke kelas  untuk menghindar termasuk aku. Sambil berusaha mengintip kerbau yang masih liar di halaman tiba tiba aku teringat Juno. Juno sehari hari bekerja dengan kerbau Pakwo Dodik.

 

Jano

Sial!!!

Untuk ketiga kalinya di minggu ini aku terlambat masuk kelas. Aku membuka pintu kelas dengan tergesa. Sambil melihat jam dinding di  atas papan tulis hitam, aku melihat sekilas ke arah meja diseberang meja Bu Mutia.

Benar benar murid teladan dan anak emas guru. Sementara teman sekelas lainnya asyik mengobrol atau saling melempar pesawat terbang kertas, anak perempuan itu asyik menyelesaikan soal matematika.

Aku tak perlu mengarang alasan berbeda setiap kali bertemu Bu Mutia. Beliau tahu dan mengerti benar alasanku terlambat. Hanya rutinitas yang membuatnya memanggil si judes itu untuk menuliskan namaku di buku catatan kedisiplinan siswa.

Namanya Andini. Si juara satu, jago bahasa inggris dan jago pidato. Aku lupa apakah karena kepintarannya atau judesnya yang membuat ia selalu diingat. Atau silsilah keluarga sebagai cucu Uwak Marzuki yang kaya raya.

 

Bel baru saja berbunyi ketika Si Bengal yang duduk disamping Andini melompatinya dengan tiba tiba. Aku akan lewat dan tak sadar mengetuk meja mereka dengan sedikit keras. Aku memberikan pandangan tak setuju dengan tingkah Meli ketika Si Jutek mulai berkicau. Sial!!! Suara cemprengnya langsung memecah keriuhan yang tadinya  tak seberapa.

Aku membayangkan Andini adalah sebuah petasan yang dipegang seorang penggugup. Kapanpun , kita harus selalu siap mendengar  ceracaunya. Terus terang suara omelannya membuat telingaku pekak. Kasihan sekali mamak dan bapaknya. Untunglah dia tak bersaudara.

 

LOMPAT JAUH

Andini

Suara Pak Ashari menggelegar di lapangan. Teriakannya membuat ciut semua siswi termasuk aku, tentu saja kecuali Meli. Kulirik sekilas tatapannya yang fokus menatap kolam pasir sekitar lima meter dari tempat kami berdiri.
Training putih hijau yang dipakainya terlihat pas di tubuhnya yang tinggi. Sambil bersiap menunggu peluit dari Pak Ashari, Meli menautkan jemarinya dan kletak kletak, terdengar suara mengerikan dari jemarinya yang direnggangkan dengan kencang. Oh ya ampun, dasar bengal!!.

“Priiit” suara peluit Pak Ashari hampir membuatku terjatuh. Sial!!. Untung tak ada yang memperhatikan betapa gemetarnya aku. Jika ada pelajaran yang paling kuhindari itu adalah Olahraga. Dan jika ditanya olahraga apa yang membuatku tak suka, aku akan berteriak semuanya.

Suara tepukan  mulai terpindai. Meli melompat dengan sempurna. Lompatannya jauh, bahkan mungkin paling jauh dibanding anak laki-laki yang sok jago sekalipun. Kalau ada yang menandinginya. Jano lah orangnya.

“Andini, giliranmu,” teriak Pak Ashari tanpa ampun.

Dan anak-anak mulai riuh menyorakiku. Aku tahu mereka senang menertawakanku di belakang. Mereka hanya bermanis manis jika butuh aku untuk menjelaskan soal Matematika atau membantu membuat pantun untuk tugas Bahasa Indonesia. Teman temanku semuanya munafik.

Lututku gemetar, pijakanku goyah dan bahkan beberapa detik setelah peluit ditiup aku masih gemetar berlari ke arah bak pasir lima meter di depanku. Aku berlari pelan dengan ragu. Hasilnya membuat pak Ashari melotot. Aku berlalu berusaha menepikan pelototan Pak Ashari dan  berlari menuju ke arah sungai kecil di belakang sekolah.

Sungai di belakang gedung  sekolah mengalir pelan tanpa riak. Dalamnya hanya sekitar lima belas sentimeter dengan luas sekitar dua meter. Airnya mengalir jernih dan menenangkan. Sambil mengusap titik air mata yang tak mampu kutahan, aku merendam kakiku. Sorakan teman teman di lapangan sayup terdengar dari tempatku duduk. Aku tak menyadari berapa waktu berlalu hingga hening. Tanpa tergesa kupakai kembali sepatu kets merah hadiah Ayah yang masih menyisakan ruang di kaki mungilku.

Aku berjarak lima meter dari pintu kelasku, pintu cokelat dengan tulisan akrilik  KELAS ENAM warna hitam yang baru dipasang sekitar sebulan lalu ketika langkah cepat seseorang melewatiku. Aku tahu tanpa menoleh siapa. Aromanya adalah aroma wangi kopi merah bercampur peluh, sedikit manis dan menyegarkan. Aku heran darimana kulit hitam legamnya berasal. Yang kutahu Uwak Ken punya kulit yang menarik untuk dilihat, bahkan Makwo Emi punya mata sipit dengan kulit putih seperti orang Tionghoa yang memang merupakan ras kebanyakan di kampungku. Mungkin benar kata orang, Jano anak buangan, Jano anak titipan penghuni kebun kopi di seberang sungai Lintang. Anak makhluk jadi jadian. Tanpa sadar aku bergidik pelan sambil mendekapkan tangan ke tubuh.

Tepat jam dua belas, gong kecil kembali berkelontang. Setiap pintu cokelat dihempas dengan keras diiringi teriakan ramai dari teman teman sebayaku. Aku membayangkan mereka adalah peluru yang berdesing dari senapan otomatis. Suara teriakan mereka adalah desingnya. Tanpa tergesa kusandang ransel hitam di atas meja dan menenteng novel Alisyahbana yang belum selesai kubaca menyusul teman temanku.

 

Juno

Jam tujuh kurang sepuluh menit aku sudah meletakkan tas  di meja. Meli tersenyum lebar menyambutku. Celotehnya lebih banyak terdengar kalau teman sebangkunya tak ada. Dengan tangan kurusnya Meli mengajakku ber-high five. Ditariknya lenganku menuju pintu keluar. Kekuatan tubuh Meli sedikit tak terduga. Orang mengira Meli kurang gizi karena tampak ceking dibanding teman temannya. Tapi banyak menduga ia punya kekuatan herkules wanita. Seperti sekarang, tarikannya membuat lenganku berdenyut protes. Makan apa sih nih anak.

“Hari ini Olahraganya lompat jauh!. Lihat bak pasirnya sudah diratakan dan bantalannya sudah disiapkan,” sapa Meli dengan gembira.

“Hmm, membosankan!” jawabku pelan sambil  bergerak meninggalkannya yang masih tersenyum memandang bak pasir  di ujung kiri lapangan.

 

...

Aku masih asyik memandangi sepatu bututku ketika suara anak anak terdengar lebih riuh dari biasanya. Giliran kami anak laki laki sudah selesai. Kulirik sekilas temanku yang masih berdiri pucat di garis start. Tubuh mungil itu gemetar. Melihat wajahnya aku teringat kambing Wak Samem yang terjebak di pagar kayu kemarin petang, putus asa.

Suara peluit Pak Ashari hampir saja membuat Andini terjungkal. Dengan  tak pasti diseretnya kaki kecil itu hingga akhirnya  sampai juga di bak pasir dengan pelan. Aku bahkan  mampu menghitung pasti berapa langkah yang dibutuhkannya untuk sampai di sana. Hasilnya bahkan lebih buruk dari perkiraanku.

Sorakan mengejek makin ramai terdengar. Mungkin itu luapan kekesalan teman temanku pada si anak emas. Mereka tak mampu mengunggulinya di mata pelajaran apapun, mereka selalu kalah, mereka jengkel. Hanya di pelajaran Olahraga mereka mampu membuat seorang anak kepala sekolah keok.

Kupikir pikir teman temanku cukup kejam. Mereka meneriaki Andini yang berlalu dengan kepala tertunduk ke arah belakang sekolah tanpa henti. Pak Ashari  seperti membiarkan. Aku sempat menatap Pamanku dengan tatapan bertanya, dan berbalas gerakan di bahu seakan berkata biarkan saja.

Lima menit setelah Andini menghilang di balik gedung sekolah, rasa ingin tahu membuatku melangkah ke arah yang sama. Aku melihat seorang anak kecil sedang merendam kaki di sungai dengan sesekali tangannya mengusap matanya yang basah. Andini menangis, aku tak pernah melihatnya menangis. Kurasa apa yang terjadi hari ini membuatnya malu. Aneh membayangkan si gadis jutek itu bersedih. Seperti minum seduhan  kopi yang bercampur dengan kulit, membuat kening bertaut.

Aku menunggu saat yang tepat untuk mengajaknya bicara, meskipun terlihat mustahil melihat sikapnya denganku. Bagaimanapun aku ingin bercerita yang sejujurnya pada Andini, adikku.

Bersambung...


 


Aku tahu tanpa melihat, sekarang sudah lebih dari jam Sembilan malam. Warung Ayuk Deti sudah tutup sekitar sejam lalu. Anak-anak sudah dipanggil pulang dan tidur dalam gelap. Pendar obor berkilauan dari  celah celah papan rumah panggung di desaku. Sebagian besar tetanggaku sudah terlelap. Disini malam beranjak lebih lambat. Jarum jam seakan bosan  berputar. Malam pekat dan mencekam. Ada banyak maling yang sedang mempersiapkan diri menyatroni rumah rumah juragan kopi. Musim kopi sedang berlangsung. Panen berhasil. Emas emas kuning yang dibeli di Pasar Besak pagar Alam dibeli dan ditumpuk di lemari pakaian  ditutup berlapis tumpukan pakaian. Banyak orang kaya dadakan di desa. Tapi tak ada yang bermewah mewah seperti orang kota. Kami terbiasa menimbun emas untuk dijual pada musim paceklik atau ujung musim. Kami hanya merayakan panen melimpah dengan membeli sekilo dua kilo daging kerbau atau ikan Guan. Itu sudah cukup untuk merayakan kebahagiaan kami. Budak kecik dibelikan baju baru, tak lebih dari sehelai.

Panen kebon Abah juga  berhasil. Hampir tiga ton kopi berhasil kami jual ke Toke Asep. Abah menyuruhku menitipkan uang hasil kopi pada Uwak Soleh untuk disetor ke Bank. Abah dari dulu bukan orang yang  senang membeli barang. Kasur kapuknya saja tak kunjung diganti.  Abah  bahkan cenderung pelit untuk urusan uang. Aku maklum kalau Abah punya anak perempuan, setahuku aku anak satu satunya Abah dan aku tidak tahu untuk apa uang  hasil panen di setor ke Uwak Soleh. Aku tahu Abah tidak suka berhutang. Menanyakan langsung ke Uwak Soleh aku merasa tidak enak. Abah sendiri diam setiap kali kutanya untuk apa uang hasil panen.

Di sini anak perempuan butuh uang untuk  biaya menikahkan. Dua ekor kerbau, sewa orkes melayu, negak balai dan lain-lain. Punya banyak anak gadis artinya harus siap uang banyak untuk sedekah. Anak lanang leb ih praktis. Tak kuat melamar anak gadis, merantau masih bisa jadi pilihan. Menikah dengan orang luar Sumatera. Gadis Jawa kabarnya tak telau banyak meminta asal saling suka.

Tiba-tiba aku ingin menghentikan waktu untuk sesaat. Tak sampai dua bulan lagi, ujian kelulusan SMP dilaksanakan. Aku sudah lama bertekat merantau ke tanah Jawa. Andi dan Ujang sudah pasti meneruskan SMA di Palembang. Meli dan Aida ingin merantau ke Bengkulu. Anton berangkat ke Jambi menyusul ayuknya. Aku ingin ke Pulau Jawa. Tepatnya ke Pulau Jawa paling timur. Ke tempat teman masa kecilnya sekarang berada.

Rutinitas yang biasanya Abah lakukan setiap hari sekarang menjadi rutinitasku selama liburan. Libur dua minggu sebelum ujian kelulusan bertepatan dengan musim panen kopi. Sekarang  Jam enam pagi, jalanan masih belum sepenuhnya terlihat. Jaket tebal yang biasa dipakai Abah rasanya tak mampu menahan dinginnya udara pegunungan. Mulutku mengeluarkan uap. Kugenggam cangkir kopiku lebih erat mencoba menyerap hangat yang masih tersisa di sana. Masih sekitar sepuluh menit lagi sebelum taksi tua milik Mang Ujang datang dan mengantar kami ke Kebon.

Banyak pekerja musiman yang ikut menunggu di pinggir jalan disamping warung Ayuk Deti. Panen Kopi memang menjadi magnet bagi perantau dari tanah jawa untuk ikut mengais rejeki dengan menyewakan tenaga mereka yang kuat untuk ikut memetik biji merah itu lalu memanggulnya hingga ke lumbung. Mereka tak banyak minta, dibayar sesuai banyaknya kopi yang berhasil dipetik lalu pulang. Abah pernah berkata, mereka adalah imigran yang ingin mengadu nasib disini. Secara materi hidup mereka sudah mencukupi. Rata-rata punya kebun sendiri atau usaha buka warung. Tapi panen kopi yang melimpah butuh banyak tenaga ekstra. Tak banyak orang aseli Tebing atau aseli Sumatera yang tertarik menjadi petani kopi kecuali mereka tak punya pilihan lain. Suatu pagi Abah pernah bertanya, apakah aku ingin menjual kebun kopi yang kami miliki dan menggunakannya untuk membuka usaha. Aku hanya diam sambil menatap mata Abah. Sejak itu Abah tak pernah bertanya lagi. Abah tahu, aku takkan pernah menjual kebunnya. Kebun kopi itu adalah hidupku.

Taksi berhenti tak jauh dari tempat pekerja itu berkumpul. Penampakan mereka tak jauh berbeda denganku. Jaket tebal, keranjang rotan dengan tali dari sarung yang dililit dan kupluk tebal sambil tak henti menautkan tangan mencoba menghalau dingin. Aku menyeberangi jalan penuh lubang dengan aspal yang berlubang disana sini, bergabung dengan mereka. Tinggiku menjulang hampir menyamai Mang Diran yang kutahu berasal dari suatu kota di Jawa Timur. “Ai ado bujang alap,“ suara Mang Ujang menyapaku dari balik kemudi. Kusambut tangan Mang Ujang dan menciumnya dengan takzim. Mang Ujang adalah adik Abah. Kuraih satu persatu tangan orang orang yang duduk berhadapan di taksi, aku yang paling kecil di sini. 

Aku duduk dekat pintu yang terbuka dengan kaki terjulur di depan. Diiringi udara yang mendesir dan gemeletuk mulut kami, taksi melaju kencang di jalanan yang lebih banyak lubang daripada aspalnya. Desaku tak pernah tersentuh roda pembangunan. Jangankan jalan, listrik pun masih tak kunjung datang. Suara klakson bersahutan memenuhi pagi. Setiap kali ada kendaraan terlihat dari arah depan dengan laju yang tak kalah kencangnya, tangan Mang Ujang otomatis menekan klakson panjang  untuk peringatan agar menjauh. Taksi kami tak mengurangi kecepatannya meskipun di tikungan atau berpapasan jalan dengan  taksi lain. Mang Ujang adalah satu dari banyak sopir ugal-ugalan di sini. Darah Sumatera memang tak bisa bohong, meledak ledak dan tak mau kalah. Doa sapu jagat kuucap dalam hati  sambil memohon Tuhan agar jangan terlalu cepat memanggil kami. Jangan sekarang, di saat ada banyak biji kopi yang siap kami petik dan ditukar emas. Kulirik Mang Diran dan teman temannya. Dengan mulut komat kamit dan muka seputih kertas mereka  khusyuk berdoa. Memang berbeda perangai orang Jawa dan Sumatera. Seperti wajan dan panci pindang. Aku tergelak dalam hati sampai lupa doaku  sendiri.

Setelah  lima belas menit perjalanan ke hulu desa. Kami sampai di pematang. Taksi Mang Ujang tak mampu mengantar kami lebih jauh. Jalan yang mendaki dan terjal tanpa aspal bukan tandingan. Di sinilah stamina kami diuji. Dua sampai tiga kilometer kedepan harus kami lalui dengan cepat sebelum matahari meninggi dan membuat perjalanan semakin sulit. Jalan itu selebar dua meter dan didominasi batu kerikil berukuran sedang dan batu batu besar yang menonjol disana sini. Kami berjalan beriringan dalam hening. Keranjang bergelayutan di leher kami. Kanan kiri kami adalah kebun orang yang mujur benar dekat dengan jalan raya tanpa perlu berjalan seperti kami. Makin dekat dengan jalan raya makin rawan dijarah garong kopi yang berkeliaran.

Kira-kira satu kilometer berjalan terlihat Dangau kecil rapi dari celah pepohonan. Aku melambatkan langkah. Terdengar gemericik air dari sungai kecil di belakang danau. Ada sebelas pijakan batu dari mulai ujung tangga di belakang dangau sampai ke tepian sungai kecil itu. Ada jemuran kayu di sebelah kanan dan kandang ayam di kirinya. Dangau itu terlihat sunyi. Tapi bekas api unggun di dekat gunungan biru terpal menandakan adanya  kehidupan. Tiba tiba aku membayangkan kaki kecil Andini melompat dari batu satu ke batu lainnya sambil membawa keranjang baju menuju sungai. Rambut ekor kudanya bergerak ke kanan ke kiri. Andini terlihat setidaknya empat kali dalam setahun di pondok itu ketika masih duduk di sekolah dasar. Pondok  itu milik Kakeknya yang tersohor. Uwak Marzuki. Tapi itu dulu, sebelum Andini merantau ke tanah jawa.

Bersambung ...





Jika kau sekedar singgah, 
Aku mohon, bersikaplah seperti tamu,
Agar aku tak salah,

Harus menyuguhkan kopi atau hati.

Juno masih tenggelam dengan buku tulis biru tipis di tangannya, ketika suara Abah terdengar memanggil namanya pelan. Abah tak segarang dulu lagi. Suaranya sekarang tak lagi lantang dan menggelegar. Suaranya meredup bersamaan dengan berat badan yang kian meyusut. Dulu Abah adalah orang paling perkasa di kampung satu. Badannya kekar dan atletis. Kulit sawo matang dan rambut hitam legam dengan tinggi di atas rata-rata orang Desa Tebing, 187 cm. Abah menonjol diantara kebanyakan petani kopi di daerah sini. 

Tapi empat tahun yang lalu tragedi menghampiri Abah, merampas harga diri Abah. Sejak itu Abah berubah. Abah makin jarang berkumpul dengan warga sekitar. Kalau dulu Abah bukan orang yang suka mengobrol, sekarang Abah benar-benar tidak ingin mengobrol dengan tetangga kanan kiri. Abah tetap rajin pulang pergi ke kebon kopi yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari desa menuju ke arah bukit di hulu desa. Tapi Abah mengabaikan undangan sedekah yang tak putus datangnya. Biasanya Abah paling diandalkan di Balai Lembongan untuk urusan menanak nasi dan memotong kerbau menjadi potongan yang tepat dimasak rendang, malbi, gulai sampai pindang daging. Dibutuhkan orang yang punya fisik kuat dan pengalaman seperti Abah agar daging kerbau bisa dimasak sesuai dengan jenisnya. 

“Ini Kopi Abah, masih panas, tunggulah sebentar” kuletakkan segelas kopi hitam pekat tanpa gula kesukaan Abah. Seperti kebanyakan orang Tebing dan sekitar, kopi adalah minuman wajib di pagi, siang, sore, malam dan ketika berbincang menemani malam. Semakin banyak orang bertamu atau kita bertamu, yang hampir setiap malam, sebanyak itu juga kopi diminum. Lima gelas kopi perhari adalah jumlah minimal yang diminum orang Tebing. Kopi adalah urat nadi dan hidangan sehari-hari di sini. Jika ada yang bisa menyaingi kopi itu adalah pempek dan cuko. Apalah jadinya penduduk Tebing tanpa kopi, pempek dan cuko hitam. 

“Besok senin kau baliklah ke Muaro Enim, naik mobil Pakcik Ujang, berangkat jam tujuh” suara Abah membuatku urung berdiri. “Juno masuk sekolah masih tigo hari lagi Abah, Juno balik minggu sore be” aku duduk di sisi pembaringan Ayah. Dipan baghi peninggalan Nek Anang. Sehelai kasur kapuk tipis tampak mengenaskan dibawah tubuh kurus Abah. Kasur kapuk itu menjadi saksi kekuatan dan keperkasaan Abah. Menampung berat tubuh Abah bertahun-tahun dan tetap setia meskipun  terlihat sekarat. Kasihan Abah harus merasakan papan kayu yg keras yang tak mampu dihadang kasur kapuk, kasihan mereka berdua.

“Ai alangke senang kau nih melamun, kau tuh lanang bukan gadis tujuh belasan”, bentakan Abah membuat mataku tertunduk. Merasa tak semestinya mengasihani Abah dan kasur kapuknya. Abah paling benci dengan rasa kasihan. “Abah istirahatlah, Juno besok yang ke Kebon” kutinggalkan Abah sebelum sempat membantah. Kututup pintu kayu cokelat dengan pelan, suara deritan papan yang kuinjak mengikutiku hingga di pintu ruang tengah. Kamarku terletak di ujung depan di sebelah kiri, dengan pintu tepat menghadap ke pintu masuk rumah. Tiga jendela kecil yang mengarah ke jalan utama masih terbuka lebar. Gorden bergoyang-goyang di topang papan bulat yang diletakkan seperti palang di tiap jendela. Ada kursi rotan kecil di dekat jendela paling kiri tempatku tadi duduk sambil merokok. Gelas berisi kopi sudah tandas, abu rokok berserakan di asbak putih bening yang rempal di salah satu bagian. Aku sengaja merokok di depan jendela sehingga asapnya terhisap udara pegunungan yang membuat gigil. Abah tak suka melihatku merokok, aku tahu. Tapi Abah tak pernah mengucapkannya. Aku malu sendiri menyadari kebodohanku. 

Andai Abah tahu alasan utamaku merokok sepanjang waktu. Tanganku terkepal ketika melihat wanita tua di bale-bale tua tepat di jendela seberang sedang mengaji seperti sengaja mencemoohku.

bersambung....

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

www.penulistangguh.com. Diberdayakan oleh Blogger.