Tampilkan postingan dengan label curhatQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhatQ. Tampilkan semua postingan


Entah mengapa untuk kesekian kalinya kejadian itu terulang lagi.

Aku tak pernah merasa tersingkirkan ketika percakapan mereka seakan tidak menyertakanku. 

Mereka berdiskusi tentang sesuatu yang memang jauh dariku. Tapi bukan berarti aku diabaikan, hanya seperti sesuatu yang aku merasa enggan untuk memberikan tanggapan. Dan sekali lagi itu juga bukan karena mereka tapi lebih kepada aku.

Ada kalanya aku mencoba menerka perasaan mereka terhadapku. Apakah aku masih penting bagi mereka, atau aku sudah semakin jauh dari kata akrab. Benar adanya ketika seorang berkata, jika kau tak pandai mendekatkan diri, jarak adalah musuh terbesarmu. Sebenarnya kata-kata ini kusimpulkan sendiri, hihi..

Padatnya aktivitasku membuatku semakin jauh dari yang dulu, biasa dekat.

Aku sibuk dengan duniaku. Weekend adalah waktuku untuk recharge energi untuk kembali fit di hari Senin. Jadi benar yang terjadi, chat-chat dan obrolan mereka bukan prioritasku lagi. Meskipun aku ingin, aku sudah tak fokus lagi. 

Tapi ada satu hal yang sering membuatku sedih. Selalu ada salah paham diantara mereka. Dan lucunya ketika ada yang ingin meluruskan atau sekedar menjelaskan, yang biasanya adalah aku, mereka seperti tak mau mendengar. Mereka lebih senang mengumbar ego dan yang meng-iyakan. Yang menjadi tertuduh adalah mereka sendiri secara bergiliran. Aneh rasanya, melihat kejadian aneh yang terus terjadi seperti ini.

Karena aku hanya bisa bercerita lewat tulisan, aku menuliskannya disini.



Notifikasi tak berhenti sepanjang hari hampir seminggu ini. Gempita Kemerdekaan semakin riuh. Bahkan warung biru tempatku biasa membeli makan siang sudah ramai dengan ornamen merah putih.

Sore tadi, Sachio melangkah pelan menuju sofa dan mulai sibuk dengan handphone-nya. Ucapan salam yang biasanya menggema dan menjadi rutinitas yang awalnya lucu, tak terdengar. Aku memandang suamiku dengan tatapan bertanya. Tapi suamiku hanya mengangguk pelan.

Adzan Maghrib menggema, Sachio yang tak pernah meninggalkan musholla, tak beranjak dari sofa. Ketika suamiku mencoba mengingatkan, Sachio bertanya apakah boleh sholat di rumah saja. Dan suami tanpa membantah langsung meng-iyakan.

Begitupun ketika adzan isya datang, Sachio kembali meminta izin untuk sholat di rumah.

Ketika selesai makan malam, Suami bertanya kenapa Sachio sedih. Sachio langsung terlihat menahan tangis sambil bercerita, "Kenapa Chio kalah Ayah, padahal Chio bisa, lomba tadi Chio pinter tapi katanya Chio juara tiga".

Bagi Chio, menang adalah juara satu. Padahal saat penyisihan lomba, dia selalu juara satu. Memang pada saat final, juara tiga.

Suami langsung mengingatkan Chio. "Kalau nggak mau kalah, nggak usah ikut lomba nak. Tapi kalau nggak ikut lomba, Chio nggak akan pernah tahu apakah kalah atau menang. Kalah menang adalah hal biasa nak, itu adalah salah satu cara untuk kita bisa menjadi lebih tangguh." 

Chio masih belum bisa menghilangkan kecewa di hati. Selalu begitu, setiap kali ada lomba, Chio belum bisa seratus persen menerima. Tapi Suami juga tak pernah lelah mengingatkan meskipun kadang aku yang mendengar juga  bosan.

Alhamdulillah semakin kesini, Sachio semakin bisa menerima, meskipun selalu diawali dengan kesedihan dahulu.

Chio.. Chio.. Dibalik sikapmu yang lembut dan mandiri, masih banyak hal yang harus kau pelajari, salah satunya adalah sikap nerimo.

Terima kasih ayah, yang tak pernah lelah mengingatkan Chio jika salah, dan membimbing Chio selalu.


 


Suatu hari notifikasi muncul di gawaiku.

Aku masih asyik dengan Novel Robert Galbraith ketika notifikasi lain muncul.

Kisah Robin dan Si Raksasa Cormoran Strike lebih menarik perhatianku daripada denting notif di gawaiku.

Jam 3 sore, anak lelakiku sudah sibuk menyiapkan sarung dan sajadah bersiap berangkat ke Musholla.

Aku meletakkan novel setebal 560 halaman di nakas dekat tempat tidur dan mulai beranjak ke arah dapur.

Kesibukanku baru berhenti tepat di jam 16.30, bersiap mandi dan sholat ashar.


Lepas Maghrib aku baru sempat melihat gawaiku.

Pesan bertubi datang dari group kecilku. Ajakan untuk kumpul bersama disambut riuh oleh temanku. Sambil saling bersahutan menentukan tempat bertemu. Aku tersenyum membaca pesan mereka, sambil berpikir alangkah indahnya jika nanti kami bisa bertemu disela kesibukan kami masing-masing yang seakan memenjarakan kami.


Tiba-tiba aku teringat, hari yang disepakati adalah hari aku dijadwalkan bertemu dengan salah satu temanku untuk pembahasan penting.

Aduh jadi enggak enak mau komen sementara yang lain sibuk memanggil namaku untuk memberikan respon.

Akhirnya aku memberanikan diri menulis permintaan maaf tidak, bisa ikut.

Tentu banyak hati yang kecewa, termasuk diriku 

Tapi aku juga tak bisa mengganti hari. Ah mungkin belum rejeki saja, next time pasti bisa.


Sambil melanjutkan novel yang tadi kubaca tiba-tiba aku teringat ini sudah kali ketiga kami tidak bisa meet up.

Dan lebih banyak aku yang selalu berbenturan jadwal padahal diawal selalu aku yg diminta menentukan tanggal. Dan entah kenapa selalu ada jadwal dadakan yang membuat acara kami batal.

Aku mulai menutup novel dan berpikir lama.


Aku mulai merasakan perasaan bersalah kepada teman temanku.

Aku ingat dulu aku selalu bisa menemukan waktu untuk berkumpul atau sekedar melepas rindu.

Kadang kami rujakan, makan bakso bareng atau sekedar nyemil gorengan di teras rumah.

Apakah karena sekarang aku bekerja aku mulai susah mengatur waktu. Apakah sekarang waktuku habis untuk bekerja.


Tapi aku selalu bisa menyempatkan diri untuk jalan-jalan, disela-sela sambangan Kakak di Pondok Pesantren. Aku juga selalu menyempatkan kulineran di tempat makan favorit di akhir pekan. Tapi aneh kenapa aku selalu berbenturan jadwal dengan acara meet up group kecilku?


Tiba-tiba aku seperti tertampar.

Astaghfirullah

Apakah aku mulai menepikan teman temanku.

Apakah aku mulai mengesampingkan group kecilku.

Apakah mereka bukan lagi prioritasku?

Apakah aku sudah meletakkan mereka di tempat yang bukan prioritasku lagi?

Iya... aku bukan terlalu sibuk

Aku bukannya sudah punya janji dengan yang lain.

Yang aku lakukan adalah menempatkan mereka sebagai prioritas kedua.


Jika saja aku masih menempatkan group kecilku di prioritasku, aku akan selalu menemukan waktu yang tepat untuk meet up.

Maafkan aku temanku.

Maafkan aku..



Jika ingin mengurai sejarah, hampir semua orang disekelilingku adalah guru.

Mami Papiku adalah Kepala Sekolah SD berpuluh puluh tahun di SD negeri di pelosok Sumatera.

Adikku Guru Bahasa SMA, adik iparku guru SMA.

Keluarga Papiku di Yogyakarta hampir semuanya guru dari mulai TK, SMP, STM hingga SMA.

Aku terlahir di lingkungan pengajar.

Jika liburan tiba, aku disuguhi cerita beraneka macam tentang kejadian di sekolah. Setiap hari aku diajak berdiskusi tentang murid-murid Mami Papi. Setelah dewasa aku mulai mengenal istilah-istilah sertifikasi, RPP, evaluasi kualitatif, evaluasi kuantitatif, project, buku panduan mengajar dan lainnya.

Secara tidak sadar, aku diajak masuk kedalam dunia guru. Aku jadi ingat pesan Mamiku, "Kalian anak anak Mami, kalo idak jadi guru, yo jadilah tenaga kesehatan," kami yang waktu itu masih kecil tidak begitu mendengarkan, tapi aku pernah bertanya, "kenapo cak itu Mami?, kenapo idak boleh jadi lainnyo?" Dan Mami menjawab, "Yo kalo jadi guru kan melanjutkan profesi Mami Papi, kalo jadi tenaga kesehatan kan pacak ngerawat Mami Papi kalo lah tuo".

Cukup lama baru aku menyadarinya, itu adalah keinginan sederhana dari orang tua, berharap anaknya bisa menjadi anak yang berhasil dan juga berbakti meskipun dikatakan dengan kalimat yang sederhana dan to the point.

Lepas SMA aku mencoba kuliah di Akademi Gizi Poltekes Yogyakarta. Alhamdulillah aku senang dan menikmati. Lepas dari kuliah aku tidak tertarik untuk kerja di Rumah Sakit ataupun Puskesmas seperti teman yang lainnya.

Aku sendirian mencoba masuk di dunia farmasi.

Alhamdulillah bergabung di Perusahaan Farmasi terbesar di Indonesia aku dapat banyak pengalaman dan juga cuan, haha..

Tapi setelah 8 tahun aku mulai tertarik untuk kembali kebidang awal aku kuliah yaitu ahli gizi.

Aku pindah menjadi Ahli Gizi di perusahaan PMA besar dan bertahan hingga 5 tahun sampai akhirnya aku harus resign dengan banyak pertimbangan.

Di tengah perjalananku sebagai Ahli Gizi, aku  tertarik dengan bidang yang dulu sempat kusisihkan. Setelah menjadi bagian dari Tsundoku, hihi... Aku ingin menikmati karya luar yang aseli dan aku akhirnya mencoba tantangan baru kuliah sambil bekerja dan bidang yang kuambil adalah Sastra Inggris sesuai dengan minat dan kegilaanku pada buku.

Jadi sebenarnya siapa sesungguhnya aku?

Aku masih sangat ingat kuliah Dietetika, Patologi Klinik, THP, Gizi Masyarakat. Aku juga masih suka utak-atik menu diet sambil menghitung jumlah kalori setiap porsi makanan. Aku suka memberikan konsultasi tentang ilmu gizi dan diet, aku menyukai semua hal tentang Gizi meskipun tak selalu aku praktekkan dalam keseharian, ups..

Aku selalu bergidik melihat minyak yang dipanasi berkali kali, ingat tentang wejangan salah satu dosenku tentang itu.

Disisi lainnya,

I love english, I love making conversation in english. I love practice it with people around me. I am far from expert but I am in love with english language.

Banyak novel sederhana level beginner yang sudah kutuntaskan. Classic genre is one of my favs. Dengan kuliah di Sastra Inggris aku jadi semakin tahu tentang sastra dan buku-buku yang wajib kubaca. I love reading much and  I lcollect books  like a psyco, haha.. Aku bahkan punya banyak koleksi yang mungkin hanya seperempat yang baru kubaca.

Dan,

Ketika akhirnya aku memutuskan untuk resign.

Sebuah kesempatan datang.

Aku diminta untuk menjadi guru, lebih tepatnya Guru Bahasa Inggris di sebuah lembaga TK.

Iya benar TK, Taman Kanak Kanak.

Dan lucunya aku menikmatinya.

Apakah ini  jawaban dari doa Mami?

Yang pasti aku menyukainya.



Jadi bagaimana bisa aku menjadi guru?




Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikan.
Sebagai balasannya, km menangis sepanjang malam.
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.
Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih
sayang. Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna Sebagai balasannya,
kau coret-coret dinding rumah dan meja makan
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian2 yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat
rumah
Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah. Sebagai
balasannya, kau berteriak.”NGGAK MAU!!”
Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.
Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.
Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu. Sebagai
balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.
Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang
hingga pesta ulang tahun
Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.
Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain
Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus
orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai di keluar rumah
Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena
sudah waktunya
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.
Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama
sebulan liburan
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya..
Saat kau berumur 15 tahun, pulang kerja ingin memelukmu Sebagai
balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli
kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke
kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau
tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?”
Sebagai balasannya, kau jawab,”Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan
orang!”
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus utk
karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,”Aku tidak ingin seperti Ibu.”
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus
perguruan tinggi
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1set furnitur untuk rumah
barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya
furnitur itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya ttg
rencananya di masa depan
Sebagai balasannya, kau mengeluh,”Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya spt
itu?”
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu Sebagai
balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana
merawat bayimu.
Sebagai balasannya, kau katakan padanya,”Bu, sekarang jamannya sudah
berbeda!”
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang
tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,”Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”.
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan
perawatanmu
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua
yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang, dan tiba-tiba kau
teringat semua yang belum pernah kau lakukan.



Sesungguhnya Mami  Papi adalah guru terhebat sekaligus pengobar semangat  yang takkan pernah padam bagi aku dan adik adikku... bagi kami ANAK ANAKMU.

Terima kasih ya Allah untuk jiwa jiwa baik hati, jiwa jiwa pahlawan yang punya tekad setegar karang, jiwa jiwa yang tak mengenal lelah  untuk membimbing dan mendidik anak anaknya.... yang kau sematkan pada MAMI PAPI kami.


Jadi inget dulu pas kuliah, kos–kosan yang menyenangkan. Bisa kelayapan kapanpun karena nggak ada ortu atau saudara yang tahu haha, tapi itu juga kalo bisa ngibulin ibu kostku yang galak abis.Aku memang anak rantau, hampir  21 tahun dari usiaku kuhabiskan di tanah rantau, sampai akhirnya aku terjebak  dan tertawan di kota Surabaya. Tapi jauh sebelum aku menjejakkan kaki di Surabaya atau Yogyakarta, aku pernah tinggal di sebuah kota kecil bernama LAHAT.

Kalo mau ditelusuri, aku ngerasa udah ngekost sejak kelas 1 SMP, maklum karena hidup didesa nan jauh terpencil di kaki gunung di pelosok Sumatera, sekolah waktu itu jadi hal yang mahal. Tapi bersyukur aku punya Mami Papi yang berfikiran sangat maju. Meskipun mereka hanyalah guru SD yang tinggal dipelosok, tapi mereka bertekad ke 5 anak anaknya harus maju. Dan maju itu artinya sekolah yang setinggi tingginya dan keluar dari desaku yang memang harus kuakui tidak terlalu bersahabat dengan pendidikan bagus.

Lepas SD, aku hijrah ke kota kabupaten Lahat yang jaraknya lumayan jauh untuk ukuran anak sekecil aku, sekitar 4 jam perjalanan yang menakutkan, mengerikan dan selalu menghantui malam malamku menjadi sebuah  mimpi buruk. Betapa tidak kontur jalan yang berliku tajam, dengan kelokan yang mengerikan, jurang di kiri kanan, hutan belantara yang sangat lebat... plus supir yang mengemudi sedikit diluar aturan.

Di Lahat, aku tinggal di rumah perumnas bersama tanteku yang ku panggil Cik Nis, aku belajar memasak sendiri, mencuci baju sendiri, nyetrika sendiri, aku belajar mandiri. Aku juga mulai menyadari perbedaanku dengan teman yang lain. Meskipun mampu, Mami tidak menyediakan fasilitas televisi di rumah, jadinya aku menjadi  tamu tetap tetanggaku yang kugilir secara teratur agar mereka tidak bosan menerima aku  yang ‘ numpang nonton TV’. Aku paling tak punya dibanding temanku. Bahkan untuk sekedar les tambahan pelajaran saja aku malu karena bajuku hanya itu itu saja. Satu satunya fasilitas paling mewah yang pernah kudapat waktu itu adalah “meja ligna“ sebutanku untuk sebuah meja belajar bagus dilengkapi laci, lemari berkunci, dan tentunya tempat buku.


Acara favoritku "Friday the 13th", hampir setiap malam jumat aku menantikannya, paling seru kalo pas hujan turun, atau tetanggaku pergi atau malah mati lampu. Aku akan menunggu tak sabar didepan rumah sambil membayangkan episode episode yang udah lewat dengan tak sabar didepan rumah. Akhirnya setelah dipanggil masuk, baru deh dengan langkah berat aku menuju kamar dan  mencoba tidur, sambil tetap komat kamit di mulut, berdoa semoga hujan reda, lamu cepat menyala  atau tetanggaku cepat pulang ...

Di Lahat, aku punya beberapa teman yang cukup akrab, tapi karena aku bukanlah seorang yang hebat ingatannya, lebih banyak yang lupa namanya dibanding yang kuingat. Di Perumnas, aku punya teman sekaligus tetangga yang selalu kudatangi kalau aku pengen lihat Film kesukaanku, namanya Riski, panggilannya Kiki. Kami bersekolah di SMP yang sama, berangkat dengan taksi ( sebutan untuk angkutan di Lahat ) yang sama dan pulang juga selalu bersama walaupun beda kelas. Yang kuingat, Kiki anak pertama, punya 2 adik, tidak terlalu banyak bicara, cenderung pendiam, dan jarang sekali keluar rumah. Rumah Kiki tepat didepan rumahku, rumah yang besar dan mewah dibanding rumahku. Kiki punya banyak barang barang mewah untuk anak seusiaku, alat tulisnya bagus, tasnya bagus, sepatunya bagus, bajunya juga bagus. Tapi aku ingat aku tidak terlalu iri melihat barang barang Kiki, mungkin karena Kiki baik denganku, entahlah.

Di Lahat, aku bersekolah di SMP Santo Yoseph, sebuah sekolah yang selalu kusebut keren karena seragamnya. Seragam merah kotak kotak yang menyala dnegan bentuk rok lipit yang bagus banget selalu membuatku bangga. Aku punya banyak teman di SMP, beberapa yang paling kuingat Venny, Melly, Iis, Jimmy, Yeti, Erika, dan lainnya. Sekali lagi , aku cukup parah dalam mengingat nama,  tapi aku masih sangat ingat wajah wajahnya. Layaknya di sekolah sedikit  swasta, selalu ada Kelompok orang Pinter, Kelompok Cewek Cantik dan Populer, Kelompok Anak tajir dan Kaya Raya, Kelompok anak Guru, Kelompok anak Pejabat,  dan seperti bisa ditebak , aku tidak masuk dalam kelompok manapun hahahaha...

Tapi aku bukan orang yang terlalu peduli dengan hal  hal itu, minimal waktu itu. Yang kuingat adalah meskipun sekolah katholik, dan aku seorang muslim, aku diperlakukan sama baiknya dengan yang lain oleh para guru, dan susternya. Aku belajar banyak hal, dari mulai kaligrafi, melukis, menari dan kegiatan kegiatan menarik lain. Aku pernah berkemah di halaman sekolah bersama teman sekolahku, Aku pernah ikut mengenal yang namanya Retret, aku boleh pinjam buku buku bacaan yang keren abis di perpus sekolahku, aku bahkan diajari nyanyi lagu “Twinkle Twinkle“ yang akhirnya menjadi lagu favorit aku dan anakku. Aku belajar banyak hal di sekolahku, aku belajar mengenal dunia yang jauh lebih menyenangkan  disini... aku membuka cakrawala baru di SMPku.

Masa kecilku, masa SMPku yang kurang lebih 3 tahun berjalan dengan sangat baik dan meninggalkan berjuta kenangan bagiku. Walaupun semangat belajarku belum tumbuh dengan baik, tapi aku menilai  masa ini adalah  awal baru dalam hidupku. Begitu banyak hal baru yang kudapat  waktu itu, dari  nonton bioskop  yang sebelumnya kebayangpun enggak, naik taksi pulang pergi sekolah, les tambahan, jalan jalan  sepulang sekolah, ... ah jadi kangeeen.

Untuk masalah pelajaran, aku tidak seperti anak kebanyakan yang belajar tiap malam,aku bahkan hampir tidak pernah belajar karena tidaka ada mami papi yang biasanya selalu setia mengajariku mengerjakan PR atau sekedar mengulang pelajaran yang didapat. Bahkan hampir tiap malam aku begadang, keluyuran ke tempat tetangga untuk numpang lihat TV. Tidak ada yang mengawasiku. Mungkin itulah penyebabnya , atau aku belum seratus persen bertanggung jawab terhadap tugas utamaku yaitu belajar.

Tapi walaupun akau selalu rangking 15-17 diantara 40 siswa sekelas, ada satu pelajaran yang aku sangat menonjol. Aku sangat suka bahasa Inggris, gurunya biasa kami panggil Ibu ATIK, wah aku sangat suka cara mengajar bu Atik, karena dia selalu memberi kami 10 kosa kata setiap pertemuan untuk diingat  di pelajaran berikutnya. Pokoknya top deh, bahkan aku sampai ambil les tambahan demi kesukaanku belajar bahasa inggris, dan hasilnya tidak mengecewakan. Di ujian akhir,  nilai NEMku untuk bahasa inggris adalah nilai sempurna atau 10. Pelajaran lain yang kusuka adalah matematika, yang ngajar ibu Yustina, sukaaaaa banget. Dari Bu Atik dan Bu Yustina aku belajar bahwa jadi guru yang baik adalah dengan  mengajar seikhlas mungkin, seceria mungkin dengan metode metode yang menyenangkan, jadi muridnya suka. Dulu pas ada pertanyaan guru favorit, Bu Atik dan Bu Yustina selalu dipilih oleh kami semua.

Terima kasih Mami, terima kasih Papi, karena berkat keikhlasan  kalian menjadikan kami anak anak hebat yang berpendidikan tinggi untuk bekal sukses  kami,
aku`bisa belajar banyak hal,
aku bisa mengenal hal hal baru yang sungguh menyenangkan,
aku bisa menanam berjuta kenangan yang akan selalu indah untuk diingat,
aku bisa merajut liar imajinasiku tanpa batas ..
aku bisa seperti sekarang.







Cerita ini terinspirasi dari putriku Balqis.

Anakku  Balqis, putri yang sangat cerdas dan kritis. Selalu berusaha menampilkan emosi dan spontanitas tak terduga dari setiap kejadian yang ada.

Ada cerita lucu tentang seteko teh dingin yang disimpan di kulkas mini kami.

Setiap  pagi putriku selalu berangkat  sekolah bersama sang Ayah, wajar bila mereka sangat akrab, aku tak memungkiri kalau terkadang putriku seakan lebih dekat ke suamiku dibanding aku. Dan karena kesibukanku maka aku tidak bisa berbuat banyak. Ditengah rutinitasku yang padat, selalu kusempatkan untuk membuat seteko teh manis yang akan kusimpan di lemari pendingin. Aku selalu tak sabar menantikan mereka pulang dan berebut saling mendahului untuk menikmati segarnya teh manisku.

Pernah mereka bertanya ,” kenapa  tidak dibikin 2 teko aja Bun?”,
Aku menanggapi keluhan mereka dengan tersenyum sambil menambahkan “satu teko bisa untuk 4 gelas kan? “.Tapi suamiku membantah “Buktinya kami selalu rebutan, besok bikin 2 teko ya Bun... please”.
Aku melihat ekspresi  lucu mereka, tapi berusaha tak terkecoh kubilang  “aturannya 2 gelas perhari sudah lebih dari cukup, ntar kena Diabetes!!".

Dan akhirnya mereka tidak pernah protes lagi, sampai suatu malam  putriku Balqis berteriak marah sambil menudingkan jarinya kearah suamiku yang sedang mengambil minuman dari lemari es “ada pencuri teh !!! “.

Aku terkejut dan melihat kearah suamiku dengan pandangan bertanya, tapi raut muka suamiku malah lebih membingungkan, antar kaget dan mau tertawa.

“Ayah minum apa?“ aku bertanya pelan sambil melirik putriku yang masih menampakkan ekspresi marah.

“Minum teh Bun“, suamiku menjawab pelan sambil menghampiri putriku dengan satu tangan masih memegang  gelasnya.

Tapi ayah sudah minum 2 kali, kakak baru 1 kali, itu teh kakak!!!” putriku merebut teh di tangan suamiku sambil marah.

“Oooh..” kami menjawab serentak tak mampu menghilangkan keterkejutan kami, rupanya putriku sangat jeli, dia tahu kalu 1 teko dibagi 2 orang artinya masing masing mendapat 2 gelas, dan dia menganggap suamiku  mencuri tehnya karena sudah minum gelas ketiga. Akhirnya kami tertawa bersama dan Balqis juga  ikut tertawa..... ada ada saja.

Pelajaran buat kami,
  1. Jangan anggap remeh hitungan matematis anak usia 4 tahun,
  2. Jangan  mencoba curang dengan anak usia  4 tahun,
  3. JANGAN MENCURI 'teh'nya....
Copy dari Note FBku
 ·  ·  · Share · Delete



Malam semakin pasti mendekat. Aku tahu ini memang belum terlalu larut, tapi kesendirian ini membunuhku. Sejenak kupandangi malaikat malaikat kecilku yang biasanya berceloteh riang tak putus mencoba meminta perhatianku. Mereka telah larut dalam kisah lainnya, menjelajahi dunia mimpi yang mungkin belum sepenuhnya mereka  fahami. Keletihan tak terlihat diwajah itu, yang ada hanyalah kedamaian. 

Acara televisi seperti biasa tidak ada yang menarik, membosankankan. Tak ada teman bicara, tak seperti biasanya, malam ini aku larut dalam duniaku, mencoba membunuh rasa sepi yang tak kunjung pergi. Ah berapa lama lagikah Ia kan datang?.

Tak  ada kegiatan, pelan kucoba  mengikuti alunan detik jam yang berdetak pelan dengan dengan irama yang sudah begitu kukenal. Mataku terpejam, mencoba hanyut dalam keheningan, tak berhasil. Deru kendaraan diluar membuatku kembali menajamkan pendengaranku. Hatiku berdebar kencang, tapi tak ada langkah mendekat, tak ada ucapan salam, tak ada ketukan pelan dipintu putih itu. Dan kejenuhan ini semakin membunuhku.

Cepatlah pulang, karena aku  benci menunggu, menunggu dalam ketidakpastian, menunggu sendirian.

Copy dari Note FBku




Hari ini,  Jumat, Ayah dan Kakak  berangkat agak siang karena kakak nggak ada les nari dan les sempoa, jadi bisa sedikit nyantai. Rutinitas pagi dari mulai mencuci (pake mesin cuci), menyiapkan sarapan, menyiapkan air panas untuk mandi Kakak dan Adek (karena yang kebagian tugas memandikan adalah ayahnya..hehe). Trus menyapu, menyiapkan peralatan camping harian (istilah kami untuk kakak yang masuk tempat penitipan anak sepulang sekolah) terus pastinya nyuapin  dua-duanya. 

Tepat jam 7, terlihat mereka sudah ganteng dan cantik  semuanya. Dengan mata yang tak lepas dari layar televisi menyaksikan film kartun kesukaan mereka. Apalagi kalau bukan badut kotak berwarna kuning yang konyol abis SpongeBob Squarepants. Mereka juga  udah sarapan semua, dengan menu yang sama, bihun kuah mix telur, wortel dan tahu yang yummy... Alhamdulillah pagi ini mereka tidak terlalu rewel makannya, jadi cepat selesai.

Sekilas kulihat lantai udah bersih dan  cucian udah dijemur, hmm.. kucari kemana kira-kira si Ayah. Ternyata lagi sibuk dengan sepatunya yang berusaha dibikin sekinclong mungkin. Saatnya belanja sayur buat masak hari ini. Kutarik stroller merah  dipinggir sofa, kuangkat jagoanku dan kudorong dengan pelan menuju perempatan perumahan sekitar 100 meter dari rumah.

Nyampe di  Pak Sayur, kulihat beraneka macam sayuran segar menggoda iman, tapi pilihan ku jatuh pada  kantong plastik bening dengan bulatan bulatan coklat yang membuatku melonjak kecil. 
Huaaaah nemu jengkol, akhirnyaaa... cepat kuambil kantong itu sebelum ditarik ibu-ibu lain yang kelihatan masih bingung mau mengambil yang mana.  Hmm.. udah kebayang sambel jengkol super pedes yang nanti akan kubikin. Makasih Pak.. udah mempertemukan jengkol pesananku.

Sampai di rumah, kuceritakan pada suamiku, temuanku. Seperti kuduga suamiku tambah nggak sabar pengen tahu gimana rasanya jengkol. Maklum karena sering kuceritain dan dengar dari teman teman, suamiku jadi super penasaran dengan makanan satu ini. Dan aku juga  sebetulnya bukan penikmat jengkol, tapi pernah makan, karena di Sumatera. Makanan satu ini bukan aja jadi lauk tapi sering juga buat kudapan alias cemilan  haha..

Ah udah ah kok ngelantur, sekarang saatnya masak sambal jengkol atau kalau di Sumatera disebutnya "sambal jeghing" dengan di
alek yang agak susah ditiru ...

Copy dari Note FBku



Ada banyak nasehat bijak yang kudapat dari teman temanku yang hoby nulis , sampe yang udah jadi penulis beneran. Ada yang bilang kalo emang pengen nulis, ya cepetan nulis.. jangan ditunda. Iya deh sekarang aku nulis lagi nih, mumpung jagoan kecilku dah terlelap dalam bobo paginya dan putri cantikku  masih disibukkan dengan sekolah TKnya. 
Tapi mau nulis apaan yach...kok bingung jadinya???

Pernah nanya juga ma teman, " mbak kalo nulis tapi nggak tahu mau nulis apa, gimana dong? "
Si teman jawabnya gini nih.. " oh mungkin maksudnya lagi nggak ada inspirasi gitu ya?, sebenarnya kita bukannya nggak punya inspirasi atau ide dikepala, mungkin selangnya aja yang lagi mampet, dipancing dikit dikit ntar juga keluar ! ".
Aku yang tadinya bengong, makin bengong aja, kok nyampe ke selang ya, emang paralon atau PDAM kok nyambungnya ke selang mampet hehe. Tapi karena akunya smart dan pinter, aku tahu kok maksudnya temanku itu haha.

Pagi ini, karena lagi mampet, iseng aku cari catatan kecilku di lepi, ada cerita lucu tentang studytour waktu kuliah..hihi jadi geli kalo inget, btw, study tour kuliahku tahun berapaan yach? kok rasanya dah lama banget.. oh iya tahun 1999..huaaaah jadul seruuuuuuuuuuu!!!. 

Nah karena udah kupancing dikit selangku yang tadi lagi mampet, akhirnya muncul ide buat nulis cerita lucu ini, ceritanya sih pendek banget, tapi nggak papa, kan seperti di update statusku sebelumnya.."MENULISLAH WALAUPUN HANYA 1 BARIS MINIMAL UPDATE STATUS ATAU NGETWITT.. " hehe

Gini ceritanya, dulu pas aku kuliah di Gizi ( akademi Gizi Depkes ) yang katanya sekarang berubah nama jadi POltekes, karena gabung sama AKBID, AKG, AKPER, AKL dlll.. aku juga kurang tahu ada berapa kampus yang digabung, yang pasti lebih dari satu deh, ada program akhir tahun, sebelum kelulusan,  yang namanya studytour. kegiatannya sih jalan jalan biasa ke daerah lain dan karena kampusku di Yogya berhati nayaman, kami  semua setuju untuk nyambangi kampus Gizi di malang sekalian jalan jalan di agrowisatanya.

Kalo inget , dulu aku tuh centil banget, udah tahu jalannya nanjak,  dan pasti rada terjal dan berbatu ( kan yang dituju kebun apel ) dan daerah pegunungan, aku masih aja nekat dengan sandal 10  sentiku haha. Heit jangan mikir aku pake high heels ya...bukaaan!!!. Itu tuh  model sendal jaman dulu yang tinggi banget kayak dikasih ganjel kayu setebal 10 senti... udah kebayang dong.

Bareng teman2, aku PD aja ndaki  dan menapaki ladang apel dengan rute naik turun, meskipun kakiku sakit banget nyeret sandal 10 sentiku. Temen2ku dulu seingatku jilbaber semua, jadi emang aku dari dulu udah nyeleneh,  tapi mereka baik kok, meskipun berkali kali minta istirahat mereka nggak marah, dan berkali kali merka nyaranin aku ganti sendal, aku cuek aja, aku bilang " enak kok, nggak sakit, cuma agak berat aja, ngak papa kok, beneran !!! " aku menjawab sambil berusaha menampilkan ekspresi seceria mungkin.. agak lebay kalo inget haha.

Lepas dari keliling kebun apel dan ngubek ubek pasar Songgoriti, aku cepet cepet naik bis dan berusaha mengistirahatkan kakiku yang terlihat mulai lebam dan senut senut. teman teman masih  banyak yang belum balik ke bis, setelah setengah jam menunggu di dalam, aku mulai bosan. Kuajak teman yang kebetulan ada di bis untuk membeli mangga di dekat  bis kami parkir.

Temanku terlihat ogah ogahan dan bilang " kan tadi dah dibilangin, kalo mau beli buah di area belanja aja, ntar ketipu dan lebih mahal "  temanku mencoba mengurungkan niatku.
" aduh, udah keluar, masa kita harus masuk lagi cuma buat beli sekilo mangga? " aku berteriak pelan dengan muka cemberut berusaha mengintimidasi temanku supaya ikut. Akhirnya  nggak tahu karena males nanggepin kecerewetanku, atau mungkin dia juga tergoda melihat mangga yang dijual, kami akhirnya berangkat juga.

Nyampe di tempat penjual, kami langsung  melakukan penawaran karena harga yang disebutkan memang lumayan tinggi.
terjadi percakapan singkat dengan bapak penjual mangga,
Penjual : " ayo neng, jadi berapa kilo?, kok dari tadi nawar aja, nggak beli beli! "
Aku      : " manis nggak, kalo manis aku beli 2 kilo "
Penjual : " ya manis dong neng, kalo nggak manis, balikin lagi deh "
Aku       : " beneran ya pak, ya udah aku ambil 2 kilo "
Penjual : " nih, 16 ribu neng "
Aku       : " makasih pak" aku berdiri sambil menenteng 2 kilo mangga belanjaanku ke bis.

Nyampe di bis, nggak sabar, kupinjam pisau temanku dan buru buru mengupas mangga yang baru kubeli, kuberikan potongan pertama ke temanku, tapi ekspresi yang kulihat sungguh tidak sedap dipandang. Temanku memuntahkan mangga yang dimakannya sambil memonyongkan bibirnya denagn mata setengah terpejam."kenapa" tanyaku penasaran. "aseeeeeeeeeeeeeeeeeeeem buanget !!" temanku berteriak kencang tepat dimukaku.
"ah masa sih, penjualnya bilang manis kok, belinya aja mahal, 8 ribu sekilo, lidahmu kali yang salah !" aku nyerocos  tanpa henti, setengah nggak percaya dengan ucapan temanku.
" kalo nggak percaya, makan aja sendiri, niiiiiih!! " temanku mulai marah sambil menyodorkan potongan mangga ditangannya yang udah dimakan separuh.
" idih jorok, aku kupas sendiri aja " aku menyahut sambil memasukkan potongan mangga ditanganku kemulut.
Tidak samapai setengah detik, mataku sudah terpejam  dengan lidah yang nyaris keluar saking nggak tahannya dengan ras asem dimulutku.
" Gilaaaaa, asem banget!!!, kurang ajar, aku ketipu!!!"

Kali ini, aku bener bener marah sama penjual mangga itu, aku ngak rela ditipu mentah mentah sama penjual mangga itu. langsung kuseret kakiku yang  masih lebam dan berdenyut tak berhenti kerah timur bis tempat penjual mangga itu duduk.
Masih dengan nafas ngos ngosan, aku meletakkan mangga dikantong plastik hitam itu ditimbangan. Penjual yang berniat menimbang mangganya terpaksa berhenti, dan menengadah melihat kearahku yang berdiri dengan tangan dipinggang.
Aku : "  Mangganya asem pak, aku mau uangku kembali"
Penjual : " Loh, barang yang udah dibeli, tidak bisa dikembalikan neng "
Aku : " Tapi bapak bilang mangganya manis, eh ternyata asem, aku mau uangku kembali! "
penjual : " Aduh neng, baru ketipu 2 kilo aja udh segitu hebohnya, tuh lihat bapak beli 5 karung asem semua,jadi bapak juga ketipu 5 karung, kalo neng mau uangnya balik, tunggu uangnya bapak yang 5 karung balik dulu aja,ntar bapak kembaliin "
Aku : " haaaaa!!!!"
Jawaban bapak penjual mangga bener bener bikin perutku tambah mules, kakiku tambah sakit dn sekarang kepalaku ikut ikutan puyenggggg.... NASIIIIIIIB NASIIIIIB............

Copy dari Note FBku







Kemarin sore aku agak panik, setelah mengamati dengan teliti tubuh putraku Sachio, terlihat jelas di wajah, leher, kedua lengan dan dada muncul bercak-bercak merah merata yang membuat Sachio semakin kelihatan bulat. 

Upss kupanggil suamiku dan kusuruh mengamati, spontaan suamiku bilang "Oh Chio kena gabag Bun!". Aku melihat sekali lagi kearah anakku dan berkata  "itu bukan gabag yah, tapi campak !!!". Hmm.. pantas saja tiga hari yang lalu mendadak Sachio rewel dan panas tinggi sampai 38.1 derajat Celcius. 

Aku ingat, waktu itu, Chio langsung kuberikan parasetamol dan Alhamdulillah, panasnya turun. Hanya hari-hari selanjutnya, Chio agak rewel, makan sedikit susah. Untungnya minum susunya tetep ngejoss alias semangat. Baru tiga hari kemudian ruam merahnya muncul. 

Aku sedikit khawatir dengan keadaan anakku, tapi mengamati perkembangannya, memang Campak yang dideritanya tidak terlalu parah. Alhamdulillah Chio tidak diare, panas juga cuma sekali, tidak disertai infeksi sluran nafas,  flu atau muntah. InsyaAllah daya tahannya kuat. Aku pernah membaca kalau anak terserang campak tapi sudah pernah diimunisasi, biasanya gejalanya tidak akan terlalu berat. Dan Sachio usia 10 bulan sudah pernah imunisasi campak, bahkan di bulan november kemarin sempat diulang lagi ( di  pekan imunisasi campak nasional ).

Walaupun Sachio udah nggak panas, udah nggak rewel dan makannya udah banyak, minum susu juga tetap semangat, rencananya, nanti sore, saya mau periksakan Sachio ke rumah sakit. Make sure aja, ini beneran campak dan sekalian minta langkah preventive biar tidak ada gejala tambahan dan dapat menanganinya dengan baik..

Cepat sembuh Sachio sayang.. IsyaAllah kalo udah kena sekarang, besok-besok nggak akan kena lagi. Aamiin..


APA ITU CAMPAK

Penyakit Campak adalah satu penyakit berjangkit. Campak (Rubeola, Campak 9 hari) atau dikenal dengan sebutan Gabagen (dalam bahasa Jawa); atau Kerumut (dalam bahasa Banjar). Dalam istilah medisnya disebut juga dengan Morbili, Measles.


PENYEBABNYA ADALAH VIRUS

Penyakit campak/measles disebabkan oleh virus Morbili. Pada tahun 60-an, di Amerika campak merupakan penyakit yang mengakibatkan kematian 400 balita setiap tahunnya. Gejala campak memang agak sulit dideteksi secara dini. Karena, gejala campak, seperti batuk, pilek, dan demam, menurut Sri, hampir sama dengan penyakit flu biasa. "Padahal, campak merupakan penyakit infeksi yang berbahaya." Bahkan, gejala munculnya bercak merah di kulit pun hampir mirip dengan karena keracunan obat atau alergi karena dingin.

Gejala awal penyakit campak ini dimulai dengan adanya batuk-batuk. Lalu, 1-2 hari kemudian timbul demam yang tinggi dan turun naik berkisar antara 38-40 derajat, selama lima hari. Biasanya dibarengi dengan mata merah dan seperti berair.

Pada saat itu pula, biasanya muncul bintik putih seperti Koplik spot di sebelah dalam mulut. Dan ini biasanya akan bertahan 3-4 hari. Kadang-kadang juga disertai dengan munculnya diare. Memasuki hari kelima demamnya akan tinggi sekali. "Pada waktu itulah, bercak merah mulai keluar."

Bercak merah campak berbeda dengan bercak biang keringat, misalnya. Karena, biang keringat tidak dibarengi dengan demam. Bercak-bercak merah ini muncul secara bertahap dan merambat. Lokasi "khusus" ini biasanya muncul pertama kali di belakang kuping, leher, dada ke bawah, tangan, kaki lalu ke muka.

Jadi, terang Sri, bercak-bercak merah ini tak sekaligus muncul ke seluruh tubuh. Perlu waktu, biasanya seminggu barulah memenuhi seluruh tubuh. Tetapi, jika daya tahan tubuh anak cukup bagus bercak merahnya tak terlalu menyebar atau tak terlalu penuh. Umumnya jika bercak merah ini sudah keluar, demamnya akan turun dengan sendirinya. Usai itu, kulit kemudian menjadi hitam bersisik, kira-kira selama 2 minggu. Timbul warna kehitaman itu merupakan periode penyembuhan. Lama-lama tanda hitam itu akan rontok, hilang atau sembuh dengan sendirinya.

Yang jelas, bercak-bercak merah ini menimbulkan gatal luar biasa. Yang dikhawatirkan, kata Sri, timbul infeksi karena anak menggaruk dengan tangan yang tidak bersih. Infeksi ini muncul seperti bisul-bisul kecil bernanah. Ditambah lagi kebiasaan yang tidak benar dari para ibu ini, yang tidak memandikan anak yang sedang terkena campak. "Padahal anak yang campak, bila panasnya sudah turun tetap harus dimandikan," tandas Sri. Minimal, dilap handuk basah untuk membersihkan keringatnya. Dan, usahakan untuk menggunakan sabun bayi yang tak terlalu merangsang kulit atau yang tak terlalu keras. Gosoklah seluruh bagian tubuhnya seperti biasa, asal tidak terlalu keras. Justru, bila anak tak dimandikan, anak akan berkeringat dan tentu rasanya lebih gatal lagi. "Dengan mandi anak akan merasa nyaman. Nah, untuk mengurangi rasa gatalnya, sehabis mandi bisa dibedaki dengan salycyl talc," papar Sri.


KOMPLIKASI

"Yang terang, disebut campak apabila demam itu berlanjut dengan timbulnya bercak-bercak merah. Kita sering salah kaprah, bila anak demam tinggi dan tidak mengeluarkan bercak-bercak merah, menandakan bahwa campaknya tidak keluar. "Tanpa bercak merah, kendati demamnya tinggi, namanya bukan campak."

Anak yang terkena campak ini tergolong sakit berat. Paling tidak menghabiskan waktu sakit selama tiga minggu. Dan campak ini juga dikategorikan atas ringan dan berat. Disebut ringan, kata Sri, apabila setelah keluar campak, demamnya akan turun. "Sedangkan campak yang berat bila sampai ada komplikasinya. Komplikasi itu bisa terjadi disepanjang berlangsung penyakitnya," jelas Sri. Komplikasi terberat bisa sampai menimbulkan kematian. Radang paru (pneumonia) merupakan komplikasi yang paling sering mengakibatkan kematian pada anak.

Komplikasi ini bisa terjadi karena virus Morbilli bisa menyebar melalui aliran darah ke mana-mana. Selain ke kulit, ke selaput lendir hidung, mulut, pencernaan. Bahkan bila virus itu masuk ke daerah otak bisa menimbulkan kejang-kejang, kesadaran menurun/ensefalopati.

Bila ke daerah pencernaan bisa menimbulkan diare atau muntah-muntah sehingga anak kekurangan cairan atau dehidrasi. Selain itu karena ada sariawan juga membuatnya perih dan tak mau makan. "Umumnya campak yang berat ini terjadi pada anak yang gizinya buruk," ujar Sri.

Perlu diketahui, campak ditularkan lewat udara yang terhisap melalui hidung atau mulut. Karena penularannya terjadi langsung, penyakit campak menular begitu cepat. Penularan sudah berlangsung 1-2 hari sebelum keluarnya bercak-bercak merah. Karena itu, anak yang campak harus diisolasi agar tidak menularkan pada anak yang lain. Ia pun perlu mendapat istirahat yang cukup. Kemudian, makan bergizi.


PENANGANAN CAMPAK

Anak yang diduga terkena campak harus dipastikan dulu apakah betul-betul campak atau bukan. Bila diagnosis sudah ditegakkan, dan tak ada komplikasi, anak cukup dirawat di rumah. "Tetapi, bila sampai terjadi komplikasi harus dirawat di rumah sakit."

Yang terang, bila campak tak diobati akan berbahaya karena dampaknya yang bisa bermacam-macam tadi. Anak pun akan rewel, sulit minum, tak bisa tidur, bisa kejang, kekurangan cairan, sesak nafas dan sebagainya. "Jadi jangan punya anggapan bahwa campak didiamkanpun tak apa-apa. Karena ini termasuk penyakit berat," tandas Sri.

Dan, pengobatan campak dilakukan untuk mengobati gejalanya. Hal ini disebabkan karena penyebab campak adalah virus. "Jadi, bukan mematikan virusnya. Karena begitu gejala penyakitnya timbul virusnya sendiri sudah tak ada," jelas Sri. Jadi, anak akan diberi obat penurun panas untuk demam, obat sariawan untuk sariawan (bila ada), dan obat diare untuk mengatasi diarenya. Dan obat batuk untuk mengobati batuknya. Lalu disiapkan pula obat anti kejang bila anak punya bakat kejang.

Sebaiknya anak berpantang makanan yang merangsang batuk, seperti goreng-gorengan, permen dan coklat. Selain itu, berilah anak makanan yang mudah dicerna.

Umumnya bila anak terkena campak akan rentan sehingga mudah sekali terkena penyakit lain. Misalnya bila di sekitarnya ada yang flu, radang tenggorokan atau bahkan TBC, maka diapun bisa terkena. Biasanya masa rentan ini berlangsung sebulan setelah sembuh.


IMUNISASI

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya timbulnya campak pada anak?

Untuk diketahui, semua penyakit virus itu bersifat endemis. Artinya penyakit itu tidak mengenal musim, karena bisa muncul sepanjang tahun. Karena itu, pencegahan dilakukan hanya dengan imunisasi campak. "Imunisasi pertama dilakukan pada usia antara 6-9 bulan. Lalu diulang pada usia 5-6 tahun atau ketika sekolah TK atau SD kelas satu."

Vaksin campak ini tergolong ringan sekali, tak ada efeknya. Cuma biasanya setelah satu minggu, badan agak hangat dan adakalanya diare. "Tapi, vaksin ini lebih ringan daripada vaksin DPT."

Karena umumnya campak banyak menyerang anak usia balita, itulah mengapa imunisasi diberikan di bawah usia setahun. Karena itu bila dalam satu keluarga, misalnya kakaknya yang usia TK terkena campak, lalu ada adiknya yang masih bayi, orang tua harus ekstra hati-hati. "Jika adiknya belum diimunisasi akan berbahaya sekali. Sebaiknya kakak atau adiknya dipisahkan dari rumah, misalnya dititipkan atau tinggal sementara di rumah nenek atau saudara lainnya," saran Sri.

Kemudian, lakukan pemantauan terhadap si adik selama kurang lebih tiga minggu, apakah tertular atau tidak. Bila adiknya tak terkena dalam waktu itu, segera berikan imunisasi. "Tapi, bila yang terjadi dalam waktu 3 minggu itu adiknya terkena campak, tak perlu diimunisasi tapi harus diobati." Hal ini disebabkan, lanjut Sri, vaksin imunisasi merupakan virus yang hidup tapi dilemahkan. Jadi, kalau sudah tertular virus dalam badannya maka jangan diberikan lagi.

Anak yang sudah mendapatkan imunisasi diharapkan tak terkena campak. Karena sudah ada imunnya. Kalau toh terkena tak akan sampai berat. Perlu diingat, "Seorang anak akan terkena campak sekali seumur hidup. Kalau dikatakan sampai 2-3 kali terkena campak, itu salah, berarti diagnosisnya tak betul," kata Sri.

Dan bila masa kecilnya tak terkena campak bisa saja terkena di usia setelah besar. Kecuali bila daya tahan tubuhnya kuat, ada kemungkinan tidak terkena.

Nah, sudah lebih jelas kan, Bu, Pak. Jadi, tidak panik lagi, ya.
(Dedeh kurniasih.(nakita))


MERAWAT ANAK CAMPAK


Bila anak tak perlu dirawat di rumah sakit, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua tatkala merawat anak campak, diantaranya:


* Isolasi

Anak campak perlu diisolasi, karena akan mudah menularkan pada yang lain. Terutama bila ada saudaranya yang masih bayi. Apalagi bila dia belum mendapat imunisasi campak. Pisahkan mereka. Atau, untuk sementara, bayi Anda mengungsi dulu ke rumah nenek atau saudara lain.


* Peralatan Khusus

Untuk sementara waktu, selama sakit dan pemulihan, siapkan peralatan khusus untuk si penderita. Misalnya, piring, gelas, sendok, handuk, dan sebagainya. Ini untuk menghindrai penularan lewat kontak tak langsung.


* Pengobatan yang Benar

Beri anak pengobatan yang selayaknya. Tentu saja atas konsultasi dan resep dokter. Sehingga Anda bisa memberikan pengobatan yang tepat.


* Jaga Kebersihan

Kendati dia sedang sakit, apabila sudah tidak panas, Anda tetap perlu memandikannya. Agar si anak tetap merasa segar dan untuk mengurangi rasa gatal yang ditimbulkan.



===
ARTIKEL LAIN 

Campak adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, lemas, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan bintik merah di kulit (ruam kulit).

Penyebab

Penyebabnya virus morbili (paramiksovirus).
Virus ini terdapat dalam darah dan sekret (cairan) nasofaring (jaringan antara tenggorokan dan hidung) pada masa gejala awal (prodromal) hingga 24 jam setelah timbulnya bercak merah di kulit dan selaput lendir.

Cara penularan melalui droplet dan kontak, yakni karena menghirup percikan ludah (droplet) dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita morbili/campak.
Artinya, seseorang dapat tertular Campak bila menghirup virus morbili, bisa di tempat umum, di kendaraan atau di mana saja. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum rimbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada. Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul.
Sebelum vaksinasi campak digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama pada anak-anak usia pra-sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit ini.
Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun).

Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah:
• bayi berumur lebih dari 1 tahun
• bayi yang tidak mendapatkan imunisasi
• remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.


Gejala

Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari (referensi lain menyebutkan sekitar 10-20 hari, 2-5 hari) setelah terinfeksi, yaitu berupa:
- nyeri tenggorokan
- sariawan
- hidung meler
- batuk
- nyeri otot
- demam
- mata merah
- fotofobia (rentan terhadap cahaya, silau).
Namun, gejala ini tidak semuanya terjadai pada tiap penderita tergantung dari stamina masing-masing.


Gejala klinis dibagi menjadi 3 stadium, yakni:
• Stadium awal (prodromal)
• Stadium timbulnya bercak (erupsi)
• Stadium masa penyembuhan (konvalesen)


Stadium awal (prodromal)
Pada umumnya berlangsung sekitar 4-5 hari, ditandai dengan: panas, lemas (malaise), nyeri otot, batuk, pilek, mata merah, fotofobia (takut cahaya), diare karena adanya peradangan saluran pernapasan dan pencernaan.
Pada stadium ini, gejalanya mirip influenza.
Namun diagnosa ke arah Morbili dapat dibuat bila 2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik).di dinding pipi bagian dalam (mukosa bukalis) dan penderita pernah kontak dengan penderita morbili dalam 2 minggu terakhir.


Stadium timbulnya bercak (erupsi)

Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul terjadi sekitar 2-5 hari setelah stadium awal. Ditandai dengan: demam meningkat, bercak merah menyebar ke seluruh tubuh, disertai rasa gatal. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta di leher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang tubuh, lengan dan tungkai, sedangkan ruam di wajah mulai memudar. Selanjutnya gejala tersebut akan menghilang sekitar hari ketiga.
Kadang disertai diare dan muntah.
Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang.
Demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari.

Stadium masa penyembuhan (konvalesen)
Pada stadium ini, gejala-gejala di atas berangsur menghilang. Suhu tubuh menjadi normal, kecuali ada komplikasi.


Komplikasi

Pada anak yang sehat dan gizinya cukup, campak jarang berakibat serius. Namun komplikasi dapat terjadi karena penurunan kekebalan tubuh sebagai akibat penyakit Campak. Beberapa komplikasi yang bisa menyertai campak:
1. Infeksi bakteri : Pneumonia dan Infeksi telinga tengah
2.Kadang terjadi trombositopenia (penurunan jumlah trombosit), sehingga       
pendeita mudah memar dan mudah mengalami perdarahan
3. Ensefalitis (radang otak) terjadi pada 1 dari 1,000-2.000 kasus.
4. Bronkopnemonia (infeksi saluran napas)
5. Otitis Media (infeksi telinga)
6. Laringitis (infeksi laring)
7. Diare
8. Kejang Demam (step)


Diagnosa

Untuk mendiagnosa dapat dilakukan dengan:
• Secara klinis, yakni berdasarkan riwayat timbulnya penyakit (anamnesa) dan  pemeriksaan fisik (physic diagnostic) seperti berdasarkan gejala dan ruam kulit yang khas.
• Pemeriksaan Penunjang, antara lain: pemeriksaan darah, serologis dan biakan virus (mahal).

Diagnosa Banding
Artinya, kemungkinan penyakit lain yang mirip dengan Campak, diantaranya:
• German measles
• Eksantema subitum
• Infeksi virus lain
• Infeksi Stafilokokus, dan lain-lain.


Pengobatan

Sebenarnya tidak ada pengobatan khusus untuk campak.

Ada dua cara pengobatannya. Untuk Campak dalam kondisi yang tidak berbahaya, cukup dengan:
• Rawat jalan
• Cukup mengkonsumsi cairan dan kalori
• Pengobatan simptomatis, artinya mengurangi gejalanya saja, semisal: obat penurun panas (parasetamol / asetaminofen), obat batuk, dan lainnya. Yang terpenting adalah memperbaiki keadaan umum.
• Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotic.

Dalam kondisi yang lebih akut sebaiknya:
Perlu rawat inap (opname)
Penatalaksanaan sesuai Standard Operational Procedure (sop) atau Prosedur Tetap.
Yang ini Pre Memori aja ya. (PM)

Copy dari Note FBku



Total Tayangan Halaman

Popular Posts

www.penulistangguh.com. Diberdayakan oleh Blogger.