Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan


Notifikasi tak berhenti sepanjang hari hampir seminggu ini. Gempita Kemerdekaan semakin riuh. Bahkan warung biru tempatku biasa membeli makan siang sudah ramai dengan ornamen merah putih.

Sore tadi, Sachio melangkah pelan menuju sofa dan mulai sibuk dengan handphone-nya. Ucapan salam yang biasanya menggema dan menjadi rutinitas yang awalnya lucu, tak terdengar. Aku memandang suamiku dengan tatapan bertanya. Tapi suamiku hanya mengangguk pelan.

Adzan Maghrib menggema, Sachio yang tak pernah meninggalkan musholla, tak beranjak dari sofa. Ketika suamiku mencoba mengingatkan, Sachio bertanya apakah boleh sholat di rumah saja. Dan suami tanpa membantah langsung meng-iyakan.

Begitupun ketika adzan isya datang, Sachio kembali meminta izin untuk sholat di rumah.

Ketika selesai makan malam, Suami bertanya kenapa Sachio sedih. Sachio langsung terlihat menahan tangis sambil bercerita, "Kenapa Chio kalah Ayah, padahal Chio bisa, lomba tadi Chio pinter tapi katanya Chio juara tiga".

Bagi Chio, menang adalah juara satu. Padahal saat penyisihan lomba, dia selalu juara satu. Memang pada saat final, juara tiga.

Suami langsung mengingatkan Chio. "Kalau nggak mau kalah, nggak usah ikut lomba nak. Tapi kalau nggak ikut lomba, Chio nggak akan pernah tahu apakah kalah atau menang. Kalah menang adalah hal biasa nak, itu adalah salah satu cara untuk kita bisa menjadi lebih tangguh." 

Chio masih belum bisa menghilangkan kecewa di hati. Selalu begitu, setiap kali ada lomba, Chio belum bisa seratus persen menerima. Tapi Suami juga tak pernah lelah mengingatkan meskipun kadang aku yang mendengar juga  bosan.

Alhamdulillah semakin kesini, Sachio semakin bisa menerima, meskipun selalu diawali dengan kesedihan dahulu.

Chio.. Chio.. Dibalik sikapmu yang lembut dan mandiri, masih banyak hal yang harus kau pelajari, salah satunya adalah sikap nerimo.

Terima kasih ayah, yang tak pernah lelah mengingatkan Chio jika salah, dan membimbing Chio selalu.




Untuk Anakku tersayang

Bolehkan Ibu ingin sedikit bercerita…..

Suatu pagi aku terbangun, wajah kecil anakku yang tertidur lelap membuatku tertegun. Tiba-tiba aku teringat bentakan kerasku tadi malam, hanya karena anakku lupa merapikan peralatan sekolahnya.

“Anakku, mungkinkah aku terlalu keras padamu.”

“Tapi bukankah yang kuinginkan adalah yang terbaik untukmu juga nak.”

Aku ingin kau menjadi anak yang hebat dan bahagia. Kau harus lebih daripada ibu sekarang.

Nak, maaf jika Ibu sering membandingkanmu dengan yang lain bahkan kepada kakakmu sendiri.

Nak maafkan Ibu yang terlalu banyak meminta, ibu lupa nak, kau hanyalah anak kecil yang sedang belajar memahami sekitarmu.

Maafkan Ibu nak, Ibu terus dan terus menasihatimu padahal yang kau butuhkan bukan nasihat tapi teladan dari ibu.

Ibu marah ketika kau lalai mengerjakan tugasmu, padahal ibu sering menunda kewajiban ibu.

Ibu marah melihatku merengek meminta ini itu padahal kau hanya ingin perhatian ibu.

Ibu lupa nak, yang kau butuhkan bukan nasihat tapi kasih sayang dan perhatian dari ibu.

Ibu lupa kapan terakhir kali ibu memujimu,

Ibu lupa kapan terakhir kali menemanimu bermain

Ibu lupa kau adalah anak ibu, yang seharusnya lebih sering didekap dengan sayang dibanding bentakan dan ancaman.

Kapan terakhir kali Ibu mengecup keningmu nak, iya ibu ingat, ibu mengecup keningmu dengan tergesa, ketika mengantarku ke sekolah, hanya sebuah rutinitas bukan keikhlasan.

Nak, belum terlambat bukan, jika ibu ingin memperbaiki kesalahan ibu

Jadikan ibu sahabatmu nak, jangan benci ibu. Ibu akan selalu mendampingimu hingga kelak kau sudah besar dan bisa mengepakkan sayapmu sendiri terbang menggapai cita dan asamu.

Nak, kau adalah peniru ulung, kau mungkin salah mendengar nasihat ibu, tapi kau tak pernah salah meniru.

Jika hadiah terbaik dari seorang ayah pada anaknya adalah pendidikan dan pengasuhan, hadiah terindah dari seorang ibu adalah kasih sayang..

 

Untuk Ibu-ibu Hebat dimanapun berada,

"Anak-anak tidak pernah baik dalam mendengarkan orang yang lebih tua. Namun, anak-anak tidak pernah gagal dalam meniru orang yang lebih tua." - James Baldwin.

Tak perlu pergi ke ujung dunia untuk belajar tentang cinta dan keikhlasan karena pelajaran itu dapat kau lihat dari sosok seorang ibu."

"Siapakah yang paling setia mendoakan anak dan paling tulus mencintai kebaikan serta keburukan sang anak? Orang tua.”

Bu, kamu adalah sahabatku, guru pertamaku dan pembimbingku. Apa pun aku hari ini, adalah karenamu."

"Jika mentari tenggelam dan meredupkan cahayanya, cinta dan kasih ibu kepada anaknya tak akan pernah hilang hingga akhir hayatnya."

"Seorang ibu adalah dia yang dapat menggantikan semua yang lain tetapi yang tempatnya tidak dapat diambil orang lain." - Cardinal Mermillod

 

 

Surabaya, 10 Juni 2023

Untuk Semua Ibu Hebat Puri Cendekia




Papiku seorang pengajar.

Papiku adalah seorang pembaca.

Papiku adalah orang pertama yang mengenalkan buku kepadaku.


Tinggal di pelosok Provinsi Sumatera Selatan, aku hidup di kaki Gunung Dempo yang dipenuhi tanaman teh. Pagi dan malam udara membuat tubuh kami menggigil. Aku tinggal di dusun kecil jarak satu hutan dengan kecamatan Muara Pinang.

Papiku dan Mamiku adalah kepala sekolah dan sekolahku adalah bangunan paling ujung dari dusun yang berbatasan langsung dengan hutan lebat, tapi kali ini aku tidak ingin bercerita tentang sekolahku dan kampungku, aku ingin membagikan cerita tentang kesukaan pertamaku pada buku.


One of the advantage of principal in that era is you could keep the book in your house if your school have no place for it.

Papi punya rak rahasia yang tidak boleh dipegang kecuali atas ijinnya. Rak rahasia papi berisi buku-buku sastra yang sangat bagus. Beberapa yang kuingat adalah Buku buku terbitan Balai Pustaka seperti Siti Nurbaya, Dendam Tak Sudah, Atheis, Dibawah Lindungan Ka'bah, Perempuan Di Sarang Penyamun, Sengsara Membawa Nikmat dan banyak lagi buku-buku yang sekarang seolah asing di telinga kita.


Ketika itu aku masih kelas empat, dan entah kenapa meskipun tidak pernah les dan belajar calistung atau lainnya meskipun tinggal di dusun, di pelosok yang jauh dari pembangunan aku bisa membaca dengan sangat lancar.

Papi melihat ketertarikanku dengan buku, akhirnya menawarkan sebuah perjanjian jika aku bisa menamatkan satu buku dalam satu hari aku boleh membaca buku Papi.

Aku bahagia dengan tawaran Papi.

Alhamdulillah setiap hari sepulang sekolah aku akan tak sabar membaca buku dari Papi.


Buku pertama yang kupilih adalah Atheis, buku dengan cover hitam tebal. Tapi Papi bilang jangan langsung yang berat. Aku memilih buku lainnya dan pilihanku jatuh pada Buku Sengsara Membawa Nikmat. Aku membaca buku sampai habis dan malamnya aku mengembalikan buku yang selesai kubaca. Papi tidak banyak bicara hanya bertanya apakah aku menyukai ceritanya, dan aku menjawab suka.


Aku masih giat membaca sampai akhirnya buku di rak rahasia Papi habis dan aku dikenalkan dengan buku-buku cerita anak SD dari mulai fabel sampai cerita pahlawan seperti Kisah Hang Tuah, Gadjah Mada dan lainnya.

Dari banyak buku yang kubaca, aku paling suka buku di rak rahasia Papi. Papi bilang itu adalah buku dengan kualitas terbaik karena ditulis oleh sastrawan hebat yang kelak akan selalu diingat dan dikenang. 


Aku sempat berdiskusi tentang buku Atheis, tapi Papi bilang aku masih terlalu kecil untuk mengerti. Tapi Papi selalu berkata, jangan berhenti membaca karena buku adalah jendela dunia. Mungkin karena kesukaanku yang besar dengan buku akhirnya Papi mengirim aku  ke sekolah yang menurutku aneh bagi anak dusun sepertiku.


Iya, lepas SD aku dikirim ke kabupaten dengan angkutan yang kupanggil taksi. Taksi adalah angkutan seperti angkot di Pulau Jawa.

Di sekolah ini, aku melanjutkan hobbyku membaca. Aku bersyukur Papi menyekolahkanku di sekolah ini. Di sekolah ini aku bisa menghabiskan banyak buku dan mengenal banyak pengarang hebat yang sampai sekarang masih menjadi idolaku.


Aku akan bercerita tentang masa SMP-ku yang luar biasa di cerita selanjutnya.

Terima kasih Papi, yang sudah mengenalkanku dengan buku, tidak melarangku untuk memegang buku-buku kesayangan Papi dan selalu memberikanku semangat yang untuk membaca dan terus membaca.


 

Apa itu MILES?

Sebuah video tiktok lewat di beranda.

Ups.., ketahuan deh punya aplikasi Tiktok.

Tapi Bismillah selama digunakan untuk hal yang bermanfaat masih diperbolehkan.


Cerita inspiratif pertama kali kita dengarkan, pasti akan membuai pendengarnya, termasuk saya.

Sangat menyenangkan mendengarkan seorang mentor bicara. Adrenalin meningkat, sikap pesimisme hilang, semangat membara dan tak sabar ingin melakukan apa yang diajarkan sang mentor.

Pulang dari acara, kata-kata penyemangat masih lalu-lalang di kepala, sambil rebahan membayangkan kesuksesan yang ada di depan mata, mulai menghitung cuan dan tertawa sendiri bahagia.


Tapi setelah beberapa hari, kata-kata itu mulai tak berarti, pesimisme muncul, ternyata tak semudah itu menjadi sukses. Mulai lelah dengan usaha yang tak terlihat progressnya. Akhirnya menyerah.


Sang mentor lupa menyampaikan materi ini.

Sang mentor sibuk membuai peserta.

Ada banyak faktor yang sangat mempengaruhi kesuksesan seseorang.

Tak banyak orang memilikinya.

Sehingga disebut Unfair Anvantages.

Apa saja itu?


M for Money

Orang yang sudah tajir dari lahir pasti lebih mudah untuk sukses, karena Money is everything lah. Semua bisa diatur jika punya Money. Semua lebih mudah didapat dengan adanya Money. Beda cerita kalau kita tidak punya Money.

Singkat cerita Money make everything possible.


I for Intelligence

Jika kita dibesarkan dalam keluarga yang mampu dan berkecukupan dengan makanan bergizi, tingkat inteligensi kita tentu berbeda dari keluarga yang tidak mampu meskipun tidak selalu. Intelligence ini sangat menentukan dengan daya saing kita ketika mulai berkompetisi. Orang yang terlahir dengan Intelegensi tinggi pasti lebih capable dibanding yang Intelegensinya rendah.


L for Location

Lokasi atau tempat kita berada berpengaruh pada peluang kesuksesan kita. Orang yang dibesarkan di kota dengan banyak kesempatann yang bisa dicoba, dengan segala kemudahan, pasti akan lebih berhasil dibanding orang yang terlahir dan besar di pinggiran atau kota kecil yang semua serba sulit untuk digapai 


E for Education.

Banyak yang bilang ijazah tak penting, pendidikan tak penting. Mungkin untuk beberapa keahlian seperti petani atau pedagang kecil ijazah dan pendidikan adalah hal kesekian. Tapi ditengah gempuran tekhnologi dan berkembanganya semua sektor, pendidikan sangat menentukan. Setiap posisi pasti menginginkan orang yang benar-benar expert di bidang itu. Jadi salah satu yang mempengaruhi kesuksesan tentu pendidikan atau Education.


S for Status

Strata, kedudukan, jabatan serta kasta adalah salah satu yang masuk dalam unfair anvantages. Bukan rahasia jika anak pejabat pasti lebih mudah dibanding anak petani. Jabatan, kedudukan adalah faktor yang mempengaruhi proses sukses seseorang 


Pertanyaannya

Jika kita tidak punya 5 hal yang disebutkan diatas apakah kita masih berpeluang menjadi sukses?

Jawabannya Tentu Bisa

Masih banyak anvantages lain yang bisa kita gunakan.

Lebih detail di posting berikutnya.






Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLASJika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABARJika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR.

Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mataSeorang yang taat pada Tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulitBiarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.
Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSANKetika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASANKetika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN.

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHANKetika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHANKetika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAHAN HATI.

Tetap semangat….Tetap sabar….Tetap tersenyum…..Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN

TUHAN menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “KEBETULAN”Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamananMEREKA di bentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA.

[Disadur dari Buku "Sepatu Dahlan Iskan"]



Sedih bacanya....
Nggak kebayang sedihnya...
Semoga aku senantiasa bisa bersabar dan  berbakti kepada Mami Papi...aamiin
Dan semoga kelak putra putriku bisa bersabar menghadapiku ketika aku tlah tua dan tergantung pada mereka..aamiin

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tekhnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku.Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.

Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.


Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur..
Dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.





Hidup itu sederhana, nggak perlu dibikin ribet alias njelimet....
Kalau saya baca cerita ini, sedikit menyindir kaum ilmuwan atau expert di masing masing bidang yang disini diwakili profesi Professor. Kadang karena terlalu ingin memahami dan mendalami suatu bidang, kita lupa pelajaran - pelajarn sederhana yang kadang tak kalah pentingnya bagi kita.
Selamat membaca... selamat merenung...

Ada kisah mengenai pelaut tua dan seorang professor. Ini terjadi di zaman ketika orang orang masih bepergian dari satu Negara ke Negara lain menggunakan kapal laut, sebelum era penerbangan murah seperti zaman sekarang. Profesor ini hendak pergi dari Sidney ke San fransisco utk memberikan kuliah tamu.

Pada malam pertama di atas kapal, usai bertolak dari Sydney, Profesor barusan mendapat makan malam luar biasa menyenangkan di aula perjamuan, lalu ia pergi ke dek untuk menghirup udara segar laut. Ketika berjalan di dek, ia melihat seorang pelaut tua yg tengah bersandar di pinggiran kapal, menatap ke samudra di bawahnya.

Ia memutuskan untuk bercakap cakap dgn pelaut ini, karena meski kelihatannya pekerjaan sebagai pelaut ini sederhana, namun pria ini pasti telah mengarungi samudra selama waktu yg sangat lama. Pasti ia telah mempelajari sesuatu yg berguna. Professor selalu ingin meningkatkan limpahan pengetahuannya yang ia pikir sebagai makna hidupnya. Ia menghampiri pelaut itu dan berkata,” Pak tua, sudah berapa lama Anda melaut?”

Pelaut menjawab,” Sejak masih bocah, sekitar umur tiga belas,” Luar biasa!” kata Profesor,”Anda pasti tahu bahwa di lautan yg kita arungi ini ada begitu banyak kehidupan. Sebagai pelaut yg telah banyak makan asam garam, Anda pasti pakar dalam ilmu biologi kelautan, mengenai semua hewan yg menggantungkan hidupnya pada samudra di bawah kita ini, berikut semua arus dan terumbu karangnya. Mari kita berbincang mengenai oceanologi, ilmu kelautan.”
Pelaut bingung,” Haa? Emang laut ada ilmunya?
Apa?! “seru professor,” bertahun tahun di laut ANda tidak pernah membaca buku atau belajar mengenai isi samudra di bawah Anda?”
“Nggak lho” kata pelaut.”Anda sudah menyia nyiakan waktu Anda!” tukas professor seraya melangkah pergi dgn rasa kesal pada pria tua ini yang telah menghabiskan hidupnya di samudera tanpa pernah mempelajari mengenainya..

Besok malamnya, professor mendapat makan malam yg sangat lezat lagi sehingga hatinya sangat baik. Jadi ketika ia berjalan di dek utk kedua kalinya, lagi lagi si pelaut tua sedang berjaga di sana. Kali ini si pelaut sedang memandangi bintang bintang.
Kebetulan pula bahwa ini pun salah satu hobi professor : astronomi. Ia berpikir,”Ah , sudahlah. Pria tua malang ini mungkin tidak tahu banyak mengenai oceanologi, namun ia pasti tahu mengenai astronomi.: di zaman sebelum ada GPS, begitulah cara kita mengarungi lautan tanpa tersesat- dengan panduan bintang. Maka ia mendekati pelaut tua itu,” saya minta maaf soal kemarin malam. Anda mungkin tidak banyak tahu mengenai oceanologi, namun berani taruhan Anda pasti tahu mengenai astronomi, yg kebetulan hobi saya juga. Coba lihat rasi bintang Beruang Besar disana!
Pelaut itu terkesiap,”Beruang Besar apaan?” Itu! Bintang itu… di langit utara sana!” tunjuk professor,” Anda pasti tahu astronomi, itu kan yg memandu arah kapal kita!”Pelaut bingung,”Saya tidak tahu Anda omong apa.Kapten yg tahu soal beginian, bukan saya.”Apa?! lengking Profesor,”Bertahun tahun di laut, melihat langit di atas, Anda tidak pernah peduli belajar astronomi? Anda menyia nyiakan hidup saja !” Profesor pun melangkah dengan muak.

Pada malam ketiga, koki membuat makan malam yg luar biasa lezat, sehingga membuat suasana hati professor itu begitu nyaman. Ketika ia pergi ke dek, malam itu begitu indah, udara laut sepoi, semerbak, segar, sampai professor membatin,” Ya, sudahlah, aku akan memberinya kesempatan lagi.” Rupanya ia adalah professor di bidang meteorologi.
Ia menyadari bahwa para pelaut mungkin tidak tahu soal ilmu kelautan atau ilmu perbintangan, namun mereka pasti tahu soal cuaca. Sebab cuaca meliputi pola dan tenaga angin yang mendorong kapal, serta mengenai badai yang bisa menenggelamkan kapal, jadi cuaca pasti mutlak dipahami pelaut tua ini.
Ia menghampirinya dan berkata,” Maafkan saya. Sungguh saya minta maaf. Perangai saya jelek sekalu dua malam terakhir ini. Saya telah salah menilai Anda. Anda mungkin tak tahu menahu soal oceanologi atau astronomi, tapi saya yakin Anda pasti tahu soal meteorology, mengenai angin, cuaca yang bisa menghancurkan atau mendorong kapal ini ke tujuan.”
“meteor apa?! Kata pelaut.”Angin dan badai..” curiga professor.”saya tidak tahu apa apa. Saya Cuma pelaut biasa.” Ujar pelaut dengan lugunya. Murkalah professor,”Apaaaa?! Tolol! Dungu!Begoo! Bertahun tahun di laut! Betapa sia sianya! Kau sia siakan seluruh hidupmu! Profesor pergi dan bersumpah tak akan pernah bicara dengan orang bodoh itu lagi.

Malam keempat di laut, ia tidak hadir ke aula perjamuan untuk makan malam karena malam itu samudra mengamuk. Professor mabuk laut, menaruh apa pun dalam perutnya hanya akan langsung keluar lagi, jadi ia istirahat saja dalam kabinnya.

Malam makin larut, badai makin parah. Ia sampai bisa merasakan kapal makin bergoyang. Ia bisa merasakan gelombang laut menampar kapal dari jendela kabin. Sungguh cuaca malam itu sangat buruk. Ketika badai mencapai puncaknya pada tengah malam. Ia mendengar suara tabrakan, dentuman besar! Ia merasa takut. Setelah bunyi keras itu, sesaat hanya ada keheningan, diikuti suara orang berlarian dan kegaduhan di luar pintu kabinnya. Panik, ia membuka pintu dan coba tebak siapa yang sedang berlari di luar sana?
Si pelaut tua. Si pelaut tua itu berhenti sesaat, berpaling kearah professor dan berkata,”Pak professor, selama bertahun tahun Anda hidup, pernahkah Anda belajar berenang?”” Emm… tidak ada…” lirih professor.”Sia sia sekali hidup Anda ! Kapal ini akan tenggelam!” seru pelaut.
Moral kisah ini… wahai professor tua tolol, boleh saja belajar astronomi, oceanologi, atau meteorology, tapi yang paling penting untuk diketahui seorang pelaut adalah cara berenang.

Demikian pula, hal terpenting untuk diketahui dlm hidup bukanlah mengetahui soal elektronika, mobil, teknologi tapi bagaimana menjaga kepala tetap di atas permukaan air di dalam arus dan gelombang ketidakpastian hidup, namun sudahkah Anda belajar berenang andaikata kapal Anda tenggelam? Ketika Anda kehilangan seluruh harta Anda, bursa saham jatuh, ditinggalkan pasangan, ditinggal mati orang tersayang? Jika belum, maka kecewa dan duka akan meneggelamkan Anda.
Jadi apa yang dimaksudkan dengan berenang?

Mengetahui cara untuk peduli, berwelas asih, mengetahui apa yang benar benar penting dalam hidup. Pada saat itu, Anda tidak akan pernah tenggelam.
Memang masih akan terjadi hal hal yang tidak kita inginkan. Masih akan ada orang yang Anda sayangi meninggal, perpisahan, kehilangan, namun Anda memiliki welas asih luar biasa untuk melepas, kepedulian luar biasa terhadap lingkungan, tidak marah namun memiliki kasih sayang hebat terhadap masa lalu, terhadap masa masa indah yang dijalani bersama, untuk bisa mengucap terima kasih banyak.

Cinta kasih dan welas asih ini adalah apa yang membuka pintu hati menuju kenyataan – kehidupan dan kematian.




Suka banget baca cerita ini, mengingatkan kita betapa sering kita bertindak "seenaknya" pada orang tua kita. Semoga bisa menjadi pelajaran berharga untuk kita semua.

KISAH POHON APEL

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu, anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih."Ayo ke sini bermain-main lagi denganku.", pinta pohon apel itu."Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi.", jawab anak lelaki itu."Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."Pohon apel itu menyahut,"Duh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernahdatang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi.", kata pohon apel."Aku tak punya waktu,", jawab anak lelaki itu."Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?". "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah, tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.", kata pohon apel.Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya."Ayo bermain-main lagi denganku.", kata pohon apel."Aku sedih.", kata anak lelaki itu."Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?""Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian."Maaf anakku", kata pohon apel itu."Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.""Tak apa, aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.", jawab anak lelaki itu."Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.", kata pohon apel."Sekarang aku juga sudah terlalu tua untuk itu.", jawab anak lelaki itu."Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.", kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata."Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,", kata anak lelaki."Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu pun sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Pohon apel itu adalah orang tua kita.Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.




Ada kisah inspiratif yang bisa menyentil kita nich, aku sharing yach, moga bermanfaat. Orang Londo sich bilangnya
DON'T JUDGE A BOOK BY ITS COVER... nah kalo orang kebanyakan bilangnya Jangan Lihat cuma luarnya aja hehe..ntar ketipu...
Buat yang senantiasa bilang mau cari yang sesempurna mungkin,  hati-hati yach..
Buat yang  udah ngerasa dapet yang paling sempurna.. Yakin Loe??? hehe
Happy reading Frenzzz..

Seorang lelaki yg sangat tampan dan sempurna merasa bahwa Tuhan pasti menciptakan seorang perempuan yg sangat cantik dan sempurna pula untuk jodohnya. Karena itu ia pergi berkeliling untuk mencari jodohnya. Kemudian sampailah ia di sebuah desa. Ia bertemu dengan seorang petani yang memiliki 3 anak perempuan dan semuanya sangat cantik. Lelaki tersebut menemui bapak petani dan mengatakan bahwa ia ingin mengawini salah satu anaknya tapi bingung mana yang paling sempurna.

Sang Petani menganjurkan untuk mengencani mereka satu persatu dan si Lelaki setuju. Hari pertama ia pergi berduaan dengan anak pertama.

Ketika pulang,ia berkata kepada bapak Petani, ”Anak pertama bapak memiliki satu cacat kecil, yaitu jempol kaki kirinya lebih kecil dari jempol kanan.”

Hari berikutnya ia pergi dengan anak yang kedua dan ketika pulang dia berkata, ”Anak kedua bapak juga punya cacat yang sebenarnya sangat kecil yaitu agak juling.”

Akhirnya pergilah ia dengan anak yang ketiga. begitu pulang ia dengan gembira mendatangi Petani dan berkata, ”inilah yang saya cari-cari. Ia benar-benar sempurna.” Lalu menikahlah si Lelaki dengan anak ketiga Petani tersebut.

Sembilan bulan kemudian si Istri melahirkan. dengan penuh kebahagian, si Lelaki menyaksikan kelahiran anak pertamanya. Ketika si anak lahir, Ia begitu kaget dan kecewa karena anaknya sangatlah jelek. Ia menemui bapak Petani dan bertanya, “Kenapa bisa terjadi seperti ini Pak. Anak bapak cantik dan saya tampan, Kenapa anak saya bisa sejelek itu..?””

Petani menjawab, ”Ia mempunyai satu cacat kecil yang tidak kelihatan. Waktu itu Ia sudah hamil duluan.....”

Kadangkala saat kita mencari kesempurnaan, yang kita dapat kemudian, kekecewaan. Tetapi kala kita siap dengan kekurangan, maka segala sesuatunya akan terasa istimewa.




Seorang lelaki berdoa: "Oh Tuhan, saya tidak terima. Saya bekerja begitu keras di kantor, sementara istri saya enak-enakan di rumah. Saya ingin memberinya pelajaran, tolonglah ubahlah saya menjadi istri dan ia menjadi suami."

Tuhan merasa simpati dan mengabulkan doanya. Keesokan paginya, lelaki yang telah berubah wujud menjadi istri tersebut terbangun dan cepat-cepat ke dapur menyiapkan sarapan. Kemudian membangunkan kedua anaknya untuk bersiap-siap ke sekolah.

Kemudian ia mengumpulkan dan memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci. Setelah suami dan anak pertamanya berangkat, ia mengantar anaknya yang kecil ke sekolah taman kanak-kanak. Pulang dari sekolah TK, ia mampir ke pasar untuk belanja. Sesampainya di rumah, setelah menolong anaknya ganti baju, ia menjemur pakaian dan kemudian memasak untuk makan siang.

Selesai memasak, ia mencuci piring-piring bekas makan pagi dan peralatan yang telah dipakai memasak. Begitu anaknya yang pertama pulang, ia makan siang bersama kedua anaknya. Tiba-tiba ia teringat ini hari terakhir membayar listrik dan telepon. Disuruhnya kedua anaknya untuk tidur siang dan cepat-cepat ia pergi ke bank terdekat untuk membayar tagihan tersebut.

Pulang dari bank ia menyetrika baju sambil nonton televisi. Sore harinya ia menyiram tanaman di halaman, kemudian memandikan anak-anak. Setelah itu membantu mereka belajar dan mengerjakan PR. Jam sembilan malam ia sangat kelelahan dan tidur terlelap.

Tentu masih banyak pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang belum dikerjakan. Dua hari menjalani peran sebagai istri ia tak tahan lagi.
Sekali lagi ia berdoa, "Ya Tuhan, ampuni aku. Ternyata aku salah. Aku tak kuat lagi menjalani peran sebagai istri. Tolong kembalikan aku menjadi suami lagi."
Tuhan menjawab: "Bisa saja. Tapi kamu harus menunggu sembilan bulan, karena saat ini kamu sedang hamil."




Dulu, diawal-awal kerjaku disaat internet belum seheboh sekarang, belum lahir Fcebook, twitter,  chat room seperti YM atau BBM, aku pernah diberikan seorang sahabatku cerita menyedihkan ini. 

Pertama kali membacanya, aku menangis dan terus menangis. Aku mungkin masih belum menikah waktu itu, tapi aku bisa merasakan penyesalan pasangan suami istri ini dan kesedihan mereka. Dan ini menjadi salah satu kisah inspiratif yang paling kusukai  dan kuingat

Sekarang setelah aku menjadi ibu dari 2 putra putriku, aku mencoba untuk sedikit saja  bersabar untuk tidak tersulut emosi.
Aku memang masih belajar untuk tidak menjadi " ORANG TUA SUMBU PENDEK " .
Dan cerita ini menjadi salah satu refleksiku dalam proses belajar ini.

.....
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar
meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak
tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun.
Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk
bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang
dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai
tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari
marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru
ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak
jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan
kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin
menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka
ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya,
gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut
imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu
rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil
yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama
lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus
menjerit, 'Kerjaan siapa ini !!!' .... Pembantu rumah yang tersentak
dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah
padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi
diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak
tahu..tuan.' 'Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?'
hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari
kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata 'DIta yg membuat gambar itu
ayahhh.. cantik ...kan!' katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja
seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang
ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2
ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis
kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si
ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas
dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup
lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya.
Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut
menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil
luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil
menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga
menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si
pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan
anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah
tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. 'Oleskan
obat saja!' jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang
menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi
pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah
menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari
bertanya kepada pembantu rumah. 'Dita demam, Bu'...jawab pembantunya
ringkas. 'Kasih minum panadol aja ,' jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk
kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita
dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu
badan Dita terlalu panas. 'Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00
sudah siap' kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah
dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit
karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap
dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. 'Tidak ada pilihan..' kata
dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong
karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut...'Ini sudah
bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus
dipotong dari siku ke bawah' kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan
terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti
berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata
isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan
pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan
habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua
tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian
ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua
menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan
air mata. 'Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak
mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah..
sayang ibu.', katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa
sedihnya. 'Dita juga sayang Mbok Narti..' katanya memandang wajah
pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

'Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak
akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?...
Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil
lagi, ' katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar
kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah
terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada
akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan
ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski
sudah minta maaf...

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran
bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya
dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi...,
Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb
tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

ada yang mau memberi tanggapan???

haha.. selimutan ah.. teetep cantikkan?

Copy dari Note FB
 ·  ·  · Share · Delete
  • Sepcilea Ispengi and Martha Roza like this.
    • Heni Trimarsari suguh kejam ke dua orang tuany demi sebuah mobil harus menukar ke dua tangan putriny,sedih nian yuk ceritony tanpa sadar netes banyu mato nih.
      Friday at 1:51pm ·  ·  1
    • Q Masih Ufita aku pernah melihat cerita ini di tv (acara apa ya?....lupa), tp yg di potong cuma tangan yg kanan.....
      Friday at 2:06pm ·  ·  1
    • Yunita Hentika Heni Trimarsari, iyo dek, betapa mahal harga yang harus dibayar dari sebuah emosi yang tak dapat dikendalikan, ayuk jg sering marah2 , sampe sekarang, kadang dengan mengkambinghitamkan capek, kesal sma suami, stress pekerjaan kita bisa sangat lupa diri..
      Friday at 2:08pm · 
    • Yunita Hentika Q Masih Ufita, ini mungkin versi lama mbak, udah jadul file tahun 2001an, tapi masih sangat menyentuh sampe sekarang...
      Friday at 2:09pm · 
    • Q Masih Ufita owh....q liatnya baru aja kok, kr2 1 bln yg lalu....malah q jg sempet meneteskan air mata pas liatnya. Mungkn acar d tv itu mengadopsi dr cerita itu.....(acaranya tu pas yg kaya' ambil hikmahnya gt ;aah..
      Friday at 2:11pm · 
    • Yunita Hentika Q Masih Ufita, ah mungkin TransTV hikmah kehidupan atau apa gitu yang durasinya singkat2 itu ya mbak? iya sediiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih! kok tega yach????
      Friday at 2:30pm · 
    • Heni Trimarsari iyo yuk kadang karena kerjaan atau krn suami kadang anak2 jd korban tp klo mereka sudah tidur suka nangis lihat mereka baru nyadar klo mereka adalah malaikat2 kecil q yg selalu memberikan semangat hidup.
      Friday at 2:36pm · 
    • Q Masih Ufita iya gitu dech....q lupa,...tp ingat bgt critanya...
      Friday at 2:43pm · 
    • Q Masih Ufita aku suka baca2 tulisanmu tik.....bagus...nti kl udah nerbitin buku, q d kasih gratis ya.....hahaha..
      Friday at 2:44pm · 
    • Yunita Hentika Q Masih Ufita, alhamdulillah ada yang suka.. kemarin dibilangin bukunya dah terbit tapi belum diinfokan lagi... haha, aku lagi belajar nih mbak Ufit, doain yach mungkin duniaku disini ( jadi penulis beneran ). hehe
      Friday at 2:46pm · 
    • Q Masih Ufita apa judulnya?....coba kirim k trawas po'o....gratis utk perkenalan...
      Friday at 8:01pm · 
    • Yunita Hentika Q Masih Ufita DEAR MAMA, berisi kumpulan surat untuk ibu, antologi ( karya keroyokan ) kemarin ada even audisimenyambut hari ibu.
      Saturday at 11:29am ·  ·  1
    • Dnick Tyan Ya ampun butikkkkkk......jd teringat betapa aq merindukan seorang anak huk huk huk.....#asyem isuk2 wes garai sesek dodoku#
      Saturday at 11:59am ·  ·  1
    • Yunita Hentika Dnick Tyan. cup cup cayang, jangan nangis.. insyaAllah Tuhan akan menjawab doa kita, amin...
      Saturday at 12:06pm · 
    • Yunita Hentika Martha Roza, pa khabar ??? miss u
      Saturday at 5:40pm · 
    • Sepcilea Ispengi sediiihnya...yuuuk,,,kalo bukunya terbit info ya...must have tuuuu...
      Yesterday at 9:36am · 


Total Tayangan Halaman

Popular Posts

www.penulistangguh.com. Diberdayakan oleh Blogger.