Monster kesepian

Detail buku:
Judul asli: Frankenstein
Penulis: Mary Shelley
Penerjemah: Anton Adiwiyoto
Tebal: 312 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan III 2009
ISBN: 978-979-22-5096-1

Sinopsis:

Dokter Victor Frankenstein ingin menciptakan makhluk sempurna dengan menggabungkan ilmu pengetahuan dan ilmu gaib. Dari sisa-sisa tubuh orang mati, ia membuat makhluk raksasa dengan kekuatan luar biasa… dan menghidupkannya. Tetapi ketika makhluk itu membuka mata, Frankenstein melarikan diri denganrasa takut yang amat sangat.

Makhluk itu pun keluar ke dunia ramai, berusaha mencari teman dan cinta, namun yang diperolehnya justru kebencian dan ketakutan. maka ia pun bersumpah akan membalas dendam pada sang pencipta yang telah memberikan napas hidup baginya. Dengan kekuatannya yang luar biasa, ia berkelana hingga ke ujung dunia… untuk menghancurkan semua orang yang dicintai Frankenstein

Diawali oleh surat yang ditulis Robert Walton kepada Margareth adiknya. Walton bercerita tentang pelayarannya untuk mencari tempat yang jauh dan belum terjamah manusia. Pelayarannya terjadi pada abad ke 17, seabad sebelum kisah ini dibuat (1818). Obsesi Walton tentang keinginannya untuk menyingkap lebih dalam misteri kehidupan dan keinginannya untuk mencari seorang sahabat diceritakan dgn indah disetiap suratnya. Pada akhir suratnya Walton bercerita tentang pertemuannya dengan seorang pemuda yang kelak diketahui bernama Victor Frankenstein.

Lalu Frankenstein memulai ceritanya kepada Wilton. Frankenstein kecil yang putra dari salah seorang paling terkemuka di Jenewa, ibunya seorang yang baik hati dan penuh kasih sayang. Frankenstein mempunyai adik lelaki kecil Ernest dan William, adik angkat cantik yang begitu disayanginya bernama Elizabeth dan seorang sahabat setia bernama Clerval.
Hidupnya sangat bahagia, meskipun ibunya meninggal di usia yg sangat muda. Frankenstein lebih dulu mengenal dunia gaib lewat buku Cornellius Agrippa, sampai akhirnya Frankenstein masuk perguruan tinggi dan mulai terobsesi dengan ilmu pengetahuan.
Frankenstein muda yang tampan mulai terobsesi untuk menciptakan sesuatu dari pengetahuan yang dimilikinya.
Siang dan malam sampai berbulan bulan Frankenstein hidup terasing di lab kecil di apartemennya untuk mewujudkan mimpinya.
Sampai akhirnya Monster itu benar benar hidup. Makhluk setinggi 2 Meter dengan wajah pucat dan wajah mengerikan itu akhirnya hidup.

Frankenstein setelah berbulan bulan menyiksa diri tanpa makan, tanpa tidur begitu terkejut melihat sapaan makhluk yang diciptakannya. Bayangkan seluruh tubuhnya diambil dari potongan mayat yang dijahit satu persatu.
Frankenstein bukan saja takut dengan makhluk ciptaanya, tapi juga membencinya.

Makhluk tak bernama itu, dengan fisik yang menjulang dan wajah mengerikan ternyata tak mampu menemukan teman. Diceritakan bagaimana makhluk tsb tinggal sembunyi sembunyi di kandang milik sebuah keluarga Prancis yang baik hati, menolong keluarga tsb dgn menyediakan kayu bakar dan menebang pohon tapi pada akhirnya ketika makhluk itu menampakkan wajahnya, keluarga tsb menjerit, pingsan, berusaha memukulnya dan akhirnya tergesa pindah dan meninggalkannya sendirian.

Perasaan tak diinginkan, ditolak dan dibenci membuat makhluk itu menyimpan dendam dan kebencian pada penciptanya.
Satu persatu orang orang dekat dan disayangi Frankenstein terbunuh. Sampai akhirnya  makhluk itu berjanji tidak akan menyakiti manusia jika Frankenstein bersedia menciptakan pasangan untuknya. Kalut dan tak berdaya Frankenstein mengabulkan keinginan makhluk ciptaannya.

Cerita ini adalah sebuah kisah tragedi yang diceritakan dengan bahasa yang indah khas sastra klasik. Menceritakan bagaimana ilmu pengetahuan dianggap segalanya pada waktu kisah ini ditulis. Obsesi yang berlebihan dan kepercayaan yang mulai luntur pada Tuhan.

Penyesalan Frankenstein tak mampu mengembalikan keadaan. Bahkan meskipun mampu menciptakan makhluk, Frankenstein tak mampu menghidupkan Elizabethnya tersayang dan orang orang yang disayanginya.

Penyangkalan terhadap hasil ciptaannya membuat Frankenstein malah menciptakan monster, padahal di awal penciptaannya, walaupun secara fisik rupanya  sangat buruk, makhluk tersebut bukanlah makhluk yang jahat. Keterasingan dan penolakanlah yang mengubahnya juga ejekan dan pandangan merendahkan dari makhluk lainnya (manusia).

Banyak sekali hikmah dan renungan yang bisa kita ambil dari kisah ini. Obsesi dan ambisi yang berlebihan tak akan menghasilkan kebahagiaan.

Banyak juga kutipan dan kata kata berupa pertanyaan yang sering kita temukan dlm hidup.

“Semua orang membenci apa saja yang punya buruk rupa. Tapi mengapa aku harus dibenci kalau keadaanku paling penyedihkan di antara semua makhluk hidup. Bahkan kau, penciptaku, membenciku dan mencelaku, ciptaanmu?” p.131

“Sadarilah betapa berbahaya orang memiliki ilmu pengetahuan. Dan juga yakinlah betapa lebih bahagia orang yang menganggap kota kediamannya sebagai dunianya, daripada orang yang ingin menjadi lebih besar daripada yang diizinkan kondratnya.” p. 63

“Sungguh aneh hakikat ilmu pengetahuan! Sekali masuk ke otak, ilmu pengetahuan akan terus berpegangan erat-erat seperti kancing-kancingan melekat pada batu.” p.163

“Kita beristirahat, tetapi impian mampu meracuni tidur lelap.Kita bangun; satu pikiran akan mengeruhkan perasaan.Kita merasakan, membayangkan, mempertimbangkan; tertawa atau menangis.Memeluk kesedihan, atau melemparkan kemalangan.Semua sama saja: sebab sbaik kegembiraan maupun kesedihan akan lenyap dengan mudah.Kemarin takkan sama dengan esok.Semua akan selalu berubah-ubah!” p. 129


Spesifikasi Buku 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Pengarang : Mary Higgins Clark
Kelompok : Novel
Bahasa : Indonesia
Cover : softcover

Sinopsis:

Novel pendek Sindrom Anastasia mengisahkan pengarang sejarah terkenal Judith Chase yang tinggal di London. Judith yang menjadi yatim-piatu semasa perang Dunia II ingin menelusuri asal-usulnya. Ia menghubungi psikoanalis ternama untuk menghipnotisnya supaya mundur ke masa lalu.

Ternyata Judith tidak sekedar mundur ke masa kanak-kanaknya, ia terjebak dalam pusaran sejarah yang menjadi tema buku-buku karangannya. Saat kembali ke masa kini, ia mulai sering menderita hilang ingatan. 

Sementara itu London mulai diteror berbagai bom. Apa yang terjadi saat Judith hilang ingatan? Siapakah yang menyebar teror bom itu?Selain Sindrom Anastasia, buku ini juga berisi empat cerita lain yang tak kalah serunya. Cinta seorang murid sakit jiwa pada gurunya, istri yang curiga bahwa suaminya telah melakukan pembunuhan, roh saudara kembar yang membantu kembarannya yang terancam bahaya, dan usaha seorang ibu mencari putrinya yang dibawa lari suaminya. 

Dijamin anda akan terus membaca sampai halaman terakhir. Menurutku..... Hmm.... Kalau biasanya Marry Higgins Clark menulis sebuah novel utuh bertema misteri, disini ada 5 cerita berbeda yang ingin disampaikan. 

Aku tahu setiap pengarang punya ciri masing masing, dan MHC punya ciri khas yang kuanggap sangat unik dan berkelas. Aku mencoba menuliskan ciri khas dari novel-novel MHC, salah satunya adalah tokoh utama yang selalu wanita, biasanya berumur diatas 30 tahun, berkeluarga dan berkelas. 

Marry juga bukanlah penulis yang suka menjabarkan sex dengan vulga. Kesantunannya dalam berbahasa punya daya pikat sendiri. Aku mengoleksi hampir 20 novel karyanya dan tak pernah puas untuk menambah dengan koleksi yang lainnya. 

Aku menyukai novel ini, meski singkat tapi uraiannya benar-benar hidup dan menambah wawasan. Berlatar cerita jaman kejatuhan Charles I,  ratusan tahun silam. Cerita ini sarat akan sejarah kelam kerajaan Inggris. 

Aku tak percaya bahwa roh dari masa lalu bisa hidup dalam tubuh kita dan mengendalikan diri kita. Sedikit menyerupai Split Personality, dimana sang tokoh punya dua kepribadian yang sangat bertolak belakang.

Tokoh Judith Chase yang lembut, dan menyenangkan tiba tiba harus tergeser oleh pribadi baru dari masa lalu, Margareth Carew. Bukan tanpa alasan Margaret memilih tubuh Judith untuk digunakannya membalas dendam di masa lalunya. 

Baginya Judith sangat pas, dia akan bertunangan dengan  calon PM Inggris Stephen Hallet, seorang keturunan Simon Hallet yang telah menghianati dan menyakitinya di masa lalu. 

Hati-hati ketika kau menyadari banyak waktumu yang tak bisa kau ingat sepenuhnya, seakan hilang tanpa jejak. Mengingatnyapun kau tak mampu. Mungkin saat itulah kepribadian baru telah mengambil alih dan menggunakan tubuhmu.



1. 1984 by George Orwell
2. Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain
3. Alice in Wonderland by Lewis Carroll
4. The Amazing Adventures of Kavalier & Clay by Michael Chabon
5. An American Tragedy by Theodore Dreiser
6. Angela's Ashes by Frank McCourt
7. Anna Karenina by Leo Tolstoy
8. The Diary of a Young Girl by Anne Frank
9. The Archidamian War by Donald Kagan
10. The Art of Fiction by Henry James
11. The Art of War by Sun Tzu
12. As I Lay Dying by William Faulkner
13. Atonement by Ian McEwan
14. Autobiography of a Face by Lucy Grealy
15. The Awakening by Kate Chopin
16. Babe by Dick King-Smith
17. Backlash: The Undeclared War Against American Women by Susan             Faludi
18. Balzac and the Little Chinese Seamstress by Dai Sijie
19. Bel Canto by Ann Patchett
20. The Bell Jar by Sylvia Plath
21. Beloved by Toni Morrison
22. Beowulf: A New Verse Translation by Seamus Heaney
23. The Bhagava Gita
24. The Bielski Brothers: The True Story of Three Men Who Defied the Nazis, Built a Village in the Forest, and Saved 1,200 Jews by Peter Duffy
25. Bitch in Praise of Difficult Women by Elizabeth Wurtzel
26. A Bolt from the Blue and Other Essays by Mary McCarthy

Warner Bros. Television / Via maybefabulous.blogspot.com
27. Brave New World by Aldous Huxley
28. Brick Lane by Monica Ali
29. Bridgadoon by Alan Jay Lerner
30. Candide by Voltaire
31. The Canterbury Tales by Chaucer
32. Carrie by Stephen King
33. Catch-22 by Joseph Heller
34. The Catcher in the Rye by J. D. Salinger
35. Charlotte's Web by E. B. White
36. The Children's Hour by Lillian Hellman
37. Christine by Stephen King
38. A Christmas Carol by Charles Dickens
39. A Clockwork Orange by Anthony Burgess
40. The Code of the Woosters by P.G. Wodehouse
41. The Collected Stories by Eudora Welty
42. A Comedy of Errors by William Shakespeare
43. Complete Novels by Dawn Powell
44. The Complete Poems by Anne Sexton
45. Complete Stories by Dorothy Parker
46. A Confederacy of Dunces by John Kennedy Toole
47. The Count of Monte Cristo by Alexandre Dumas
48. Cousin Bette by Honore de Balzac
49. Crime and Punishment by Fyodor Dostoevsky
50. The Crimson Petal and the White by Michel Faber
51. The Crucible by Arthur Miller
52. Cujo by Stephen King
53. The Curious Incident of the Dog in the Night-Time by Mark Haddon

Warner Bros. Television / Via bookreviews.me.uk
54. Daughter of Fortune by Isabel Allende
55. David and Lisa by Dr Theodore Issac Rubin M.D
56. David Copperfield by Charles Dickens
57. The Da Vinci -Code by Dan Brown
58. Dead Souls by Nikolai Gogol
59. Demons by Fyodor Dostoyevsky
60. Death of a Salesman by Arthur Miller
61. Deenie by Judy Blume
62. The Devil in the White City: Murder, Magic, and Madness at the Fair that        Changed America by Erik Larson
63. The Dirt: Confessions of the World's Most Notorious Rock Band by                  Tommy Lee, Vince Neil, Mick Mars and Nikki Sixx
64. The Divine Comedy by Dante
65. The Divine Secrets of the Ya-Ya Sisterhood by Rebecca Wells
66. Don Quixote by Cervantes
67. Driving Miss Daisy by Alfred Uhrv
68. Dr. Jekyll & Mr. Hyde by Robert Louis Stevenson
69. Edgar Allan Poe: Complete Tales & Poems by Edgar Allan Poe
70. Eleanor Roosevelt by Blanche Wiesen Cook
71. The Electric Kool-Aid Acid Test by Tom Wolfe
72. Ella Minnow Pea: A Novel in Letters by Mark Dunn
73. Eloise by Kay Thompson
74. Emily the Strange by Roger Reger
75. Emma by Jane Austen
76. Empire Falls by Richard Russo
77. Encyclopedia Brown: Boy Detective by Donald J. Sobol
78. Ethan Frome by Edith Wharton
79. Ethics by Spinoza
80. Europe through the Back Door, 2003 by Rick Steves

Warner Bros. Television / Via bellesbookshelf.blogspot.com
81. Eva Luna by Isabel Allende
82. Everything Is Illuminated by Jonathan Safran Foer
83. Extravagance by Gary Krist
84. Fahrenheit 451 by Ray Bradbury
85. Fahrenheit 9/11 by Michael Moore
86. The Fall of the Athenian Empire by Donald Kagan
87. Fat Land: How Americans Became the Fattest People in the World by          Greg Critser
88. Fear and Loathing in Las Vegas by Hunter S. Thompson
89. The Fellowship of the Ring by J. R. R. Tolkien
90. Fiddler on the Roof by Joseph Stein
91. The Five People You Meet in Heaven by Mitch Albom
92. Finnegan's Wake by James Joyce
93. Fletch by Gregory McDonald
94. Flowers for Algernon by Daniel Keyes
95. The Fortress of Solitude by Jonathan Lethem
96. The Fountainhead by Ayn Rand
97. Frankenstein by Mary Shelley
98. Franny and Zooey by J. D. Salinger
99. Freaky Friday by Mary Rodgers
100. Galapagos by Kurt Vonnegut
101. Gender Trouble by Judith Butler
102. George W. Bushism: The Slate Book of the Accidental Wit and Wisdom         of our 43rd President by Jacob Weisberg
103. Gidget by Fredrick Kohner
104. Girl, Interrupted by Susanna Kaysen
105. The Gnostic Gospels by Elaine Pagels
106. The Godfather: Book 1 by Mario Puzo
107. The God of Small Things by Arundhati Roy
108. Goldilocks and the Three Bears by Alvin Granowsky
109. Gone with the Wind by Margaret Mitchell
110. The Good Soldier by Ford Maddox Ford
111. The Gospel According to Judy Bloom
112. The Graduate by Charles Webb
113. The Grapes of Wrath by John Steinbeck
114. The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald
115. Great Expectations by Charles Dickens
116. The Group by Mary McCarthy
117. Hamlet by William Shakespeare
118. Harry Potter and the Goblet of Fire by J. K. Rowling
119. Harry Potter and the Sorcerer's Stone by J. K. Rowling
120. A Heartbreaking Work of Staggering Genius by Dave Eggers
121. Heart of Darkness by Joseph Conrad
122. Helter S The True Story of the Manson Murders by Vincent Bugliosi and        Curt Gentry
123. Henry IV, part I by William Shakespeare
124. Henry IV, part II by William Shakespeare
125. Henry V by William Shakespeare
126. High Fidelity by Nick Hornby
127. The History of the Decline and Fall of the Roman Empire by Edward              Gibbon
128. Holidays on Ice: Stories by David Sedaris
129. The Holy Barbarians by Lawrence Lipton
130. House of Sand and Fog by Andre Dubus III
131. The House of the Spirits by Isabel Allende
132. How to Breathe Underwater by Julie Orringer
133. How the Grinch Stole Christmas by Dr. Seuss
134. How the Light Gets In by M. J. Hyland
135. Howl by Allen Ginsberg
136. The Hunchback of Notre Dame by Victor Hugo
137. The Iliad by Homer
138. I'm With the Band by Pamela des Barres
139. In Cold Blood by Truman Capote
140. Inferno by Dante
141. Inherit the Wind by Jerome Lawrence and Robert E. Lee
142. Iron Weed by William J. Kennedy
143. It Takes a Village by Hillary Rodham Clinton
144. Jane Eyre by Charlotte Bronte
145. The Joy Luck Club by Amy Tan
146. Julius Caesar by William Shakespeare
147. The Jumping Frog by Mark Twain
148. The Jungle by Upton Sinclair
149. Just a Couple of Days by Tony Vigorito
150. The Kitchen Boy: A Novel of the Last Tsar by Robert Alexander
151. Kitchen Confidential: Adventures in the Culinary Underbelly by Anthony        Bourdain
152. The Kite Runner by Khaled Hosseini
153. Lady Chatterleys' Lover by D. H. Lawrence
154. The Last Empire: Essays 1992-2000 by Gore Vidal
155. Leaves of Grass by Walt Whitman
156. The Legend of Bagger Vance by Steven Pressfield
157. Less Than Zero by Bret Easton Ellis
158. Letters to a Young Poet by Rainer Maria Rilke
159. Lies and the Lying Liars Who Tell Them by Al Franken
160. Life of Pi by Yann Martel
161. Little Dorrit by Charles Dickens
162. The Little Locksmith by Katharine Butler Hathaway
163. The Little Match Girl by Hans Christian Andersen
164. Little Women by Louisa May Alcott
165. Living History by Hillary Rodham Clinton
166. Lord of the Flies by William Golding
167. The Lottery: And Other Stories by Shirley Jackson
168. The Lovely Bones by Alice Sebold
169. The Love Story by Erich Segal
170. Macbeth by William Shakespeare
171. Madame Bovary by Gustave Flaubert
172. The Manticore by Robertson Davies
173. Marathon Man by William Goldman
174. The Master and Margarita by Mikhail Bulgakov
175. Memoirs of a Dutiful Daughter by Simone de Beauvoir
176. Memoirs of General W. T. Sherman by William Tecumseh Sherman
177. Me Talk Pretty One Day by David Sedaris
178. The Meaning of Consuelo by Judith Ortiz Cofer
179. Mencken's Chrestomathy by H. R. Mencken
180. The Merry Wives of Windsor by William Shakespeare
181. The Metamorphosis by Franz Kafka
182. Middlesex by Jeffrey Eugenides
183. The Miracle Worker by William Gibson
184. Moby Dick by Herman Melville
185. The Mojo Collection: The Ultimate Music Companion by Jim Irvin
186. Moliere: A Biography by Hobart Chatfield Taylor
187. A Monetary History of the United States by Milton Friedman
188. Monsieur Proust by Celeste Albaret
189. A Month Of Sundays: Searching For The Spirit And My Sister by Julie               Mars
190. A Moveable Feast by Ernest Hemingway
191. Mrs. Dalloway by Virginia Woolf
192. Mutiny on the Bounty by Charles Nordhoff and James Norman Hall
193. My Lai 4: A Report on the Massacre and It's Aftermath by Seymour M.            Hersh
194. My Life as Author and Editor by H. R. Mencken
195. My Life in Orange: Growing Up with the Guru by Tim Guest
196. Myra Waldo's Travel and Motoring Guide to Europe, 1978 by Myra                    Waldo
197. My Sister's Keeper by Jodi Picoult
198. The Naked and the Dead by Norman Mailer
199. The Name of the Rose by Umberto Eco
200. The Namesake by Jhumpa Lahiri
201. The Nanny Diaries by Emma McLaughlin
202. Nervous System: Or, Losing My Mind in Literature by Jan Lars Jensen
203. New Poems of Emily Dickinson by Emily Dickinson
204. The New Way Things Work by David Macaulay
205. Nickel and Dimed by Barbara Ehrenreich
206. Night by Elie Wiesel
207. Northanger Abbey by Jane Austen
208. The Norton Anthology of Theory and Criticism by William E. Cain,                    Laurie A. Finke, Barbara E. Johnson, John P. McGowan
209. Novels 1930-1942: Dance Night/Come Back to Sorrento, Turn, Magic             Wheel/Angels on Toast/A Time to be Born by Dawn Powell
210. Notes of a Dirty Old Man by Charles Bukowski
211. Of Mice and Men by John Steinbeck
212. Old School by Tobias Wolff
213. On the Road by Jack Kerouac
214. One Flew Over the Cuckoo's Nest by Ken Kesey
215. One Hundred Years of Solitude by Gabriel Garcia Marquez
216. The Opposite of Fate: Memories of a Writing Life by Amy Tan
217. Oracle Night by Paul Auster
218. Oryx and Crake by Margaret Atwood
219. Othello by Shakespeare
220. Our Mutual Friend by Charles Dickens
221. The Outbreak of the Peloponnesian War by Donald Kagan
222. Out of Africa by Isac Dineson
223. The Outsiders by S. E. Hinton
224. A Passage to India by E.M. Forster
225. The Peace of Nicias and the Sicilian Expedition by Donald Kagan
226. The Perks of Being a Wallflower by Stephen Chbosky
227. Peyton Place by Grace Metalious
228. The Picture of Dorian Gray by Oscar Wilde
229. Pigs at the Trough by Arianna Huffington
230. Pinocchio by Carlo Collodi
231. Please Kill Me: The Uncensored Oral History of Punk Legs McNeil and              Gillian McCain
232. The Polysyllabic Spree by Nick Hornby
233. The Portable Dorothy Parker by Dorothy Parker
234. The Portable Nietzche by Fredrich Nietzche
235. The Price of Loyalty: George W. Bush, the White House, and the                        Education of Paul O'Neill by Ron Suskind
236. Pride and Prejudice by Jane Austen
237. Property by Valerie Martin
238. Pushkin: A Biography by T. J. Binyon
239. Pygmalion by George Bernard Shaw
240. Quattrocento by James Mckean
241. A Quiet Storm by Rachel Howzell Hall
242. Rapunzel by Grimm Brothers
243. The Raven by Edgar Allan Poe
244. The Razor's Edge by W. Somerset Maugham
245. Reading Lolita in Tehran: A Memoir in Books by Azar Nafisi
246. Rebecca by Daphne du Maurier
247. Rebecca of Sunnybrook Farm by Kate Douglas Wiggin
248. The Red Tent by Anita Diamant
249. Rescuing Patty Hearst: Memories From a Decade Gone Mad by                     Virginia Holman
250. The Return of the King by J. R. R. Tolkien
251. R Is for Ricochet by Sue Grafton
252. Rita Hayworth by Stephen King
253. Robert's Rules of Order by Henry Robert
254. Roman Holiday by Edith Wharton
255. Romeo and Juliet by William Shakespeare
256. A Room of One's Own by Virginia Woolf
257. A Room with a View by E. M. Forster
258. Rosemary's Baby by Ira Levin
259. The Rough Guide to Europe, 2003 Edition
260. Sacred Time by Ursula Hegi
261. Sanctuary by William Faulkner
262. Savage Beauty: The Life of Edna St. Vincent Millay by Nancy Milford
263. Say Goodbye to Daisy Miller by Henry James
264. The Scarecrow of Oz by Frank L. Baum
265. The Scarlet Letter by Nathaniel Hawthorne
266. Seabiscuit: An American Legend by Laura Hillenbrand
267. The Second Sex by Simone de Beauvoir
268. The Secret Life of Bees by Sue Monk Kidd
269. Secrets of the Flesh: A Life of Colette by Judith Thurman
270. Selected Hotels of Europe
271. Selected Letters of Dawn Powell: 1913-1965 by Dawn Powell
272. Sense and Sensibility by Jane Austen
273. A Separate Peace by John Knowles
274. Several Biographies of Winston Churchill
275. Sexus by Henry Miller
276. The Shadow of the Wind by Carlos Ruiz Zafon
277. Shane by Jack Shaefer
278. The Shining by Stephen King
279. Siddhartha by Hermann Hesse
280. S Is for Silence by Sue Grafton
281. Slaughter-house Five by Kurt Vonnegut
282. Small Island by Andrea Levy
283. Snows of Kilimanjaro by Ernest Hemingway
284. Snow White and Rose Red by Grimm Brothers
285. Social Origins of Dictatorship and Democracy: Lord and Peasant in                the Making of the Modern World by Barrington Moore
286. The Song of Names by Norman Lebrecht
287. Song of the Simple Truth: The Complete Poems of Julia de Burgos by           Julia de Burgos
288. The Song Reader by Lisa Tucker
289. Songbook by Nick Hornby
290. The Sonnets by William Shakespeare
291. Sonnets from the Portuegese by Elizabeth Barrett Browning
292. Sophie's Choice by William Styron
293. The Sound and the Fury by William Faulkner
294. Speak, Memory by Vladimir Nabokov
295. Stiff: The Curious Lives of Human Cadavers by Mary Roach
296. The Story of My Life by Helen Keller
297. A Streetcar Named Desiree by Tennessee Williams
298. Stuart Little by E. B. White
299. Sun Also Rises by Ernest Hemingway
300. Swann's Way by Marcel Proust
301. Swimming with Giants: My Encounters with Whales, Dolphins and                   Seals by Anne Collett
302. Sybil by Flora Rheta Schreiber
303. A Tale of Two Cities by Charles Dickens
304. Tender Is The Night by F. Scott Fitzgerald
305. Term of Endearment by Larry McMurtry
306. Time and Again by Jack Finney
307. The Time Traveler's Wife by Audrey Niffenegger
308. To Have and Have Not by Ernest Hemingway
309. To Kill a Mockingbird by Harper Lee
310. The Tragedy of Richard III by William Shakespeare
311. A Tree Grows in Brooklyn by Betty Smith
312. The Trial by Franz Kafka
313. The True and Outstanding Adventures of the Hunt Sisters by Elisabeth         Robinson
314. Truth & Beauty: A Friendship by Ann Patchett
315. Tuesdays with Morrie by Mitch Albom
316. Ulysses by James Joyce
317. The Unabridged Journals of Sylvia Plath 1950-1962 by Sylvia Plath
318. Uncle Tom's Cabin by Harriet Beecher Stowe
319. Unless by Carol Shields
320. Valley of the Dolls by Jacqueline Susann
321. The Vanishing Newspaper by Philip Meyers
322. Vanity Fair by William Makepeace Thackeray
323. Velvet Underground's The Velvet Underground and Nico (Thirty Three and a Third series) by Joe Harvard
324. The Virgin Suicides by Jeffrey Eugenides
325. Waiting for Godot by Samuel Beckett
326. Walden by Henry David Thoreau
327. Walt Disney's Bambi by Felix Salten
328. War and Peace by Leo Tolstoy
329. We Owe You Nothing – Punk Planet: The Collected Interviews edited             by Daniel Sinker
330. What Colour is Your Parachute? 2005 by Richard Nelson Bolles
331. What Happened to Baby Jane by Henry Farrell
332. When the Emperor Was Divine by Julie Otsuka
333. Who Moved My Cheese? by Spencer Johnson
334. Who's Afraid of Virginia Woolf by Edward Albee
335. Wicked: The Life and Times of the Wicked Witch of the West by                        Gregory Maguire
336. The Wizard of Oz by Frank L. Baum
337. Wuthering Heights by Emily Bronte
338. The Yearling by Marjorie Kinnan Rawlings
339. The Year of Magical Thinking by Joan Didion



 

Menunggu tak selalu membosankan
Tak peduli berapa lama kau menunggu 
Semua tergantung pada siapa yang kau tunggu

Gemericik tak begitu terdengar
Ada kaca tebal yang menjadi penghalang
Tapi...
Tarian air dan embun yang menghiasi pagar dan kaca di depan tempatku duduk membuaiku

Aku Menunggu
Dan aku ditemani sahabat baikku 
Tak apa...
Aku tak akan membuatmu tergesa menghampiriku
Aku menikmati waktuku

Banyak hal yang membuatku nyaman disini
Sahabat kesayangan menghiburku
Kali ini aku diajak mengikutu wanita tua mungil di apartemen tua
Baju merah yang dipakainya membuatku terlempar ke masa lalu, ketika rambut panjangku tergerai indah menawan hatimu
Dan ketukan keras pintu kaca membuatku tersadar, ada dia yang kutunggu disana, berusaha menepikan hujan diatas bahu

Aku pun Bangkit, menutup buku tua yang tadi menemaniku, bergegas menemuimu

Lelaki Tangguhku..


Icon Mall
Sudut depan Burger King
Kamis, 26 Januari 2023
15.54 WIB  


Boyen sedang mendengarkan lembut suara Mamak yang bercerita tentang Legenda Boneka Sigale-gale.

"Dulu sekali, boneka Sigale-gale dapat bergerak sendiri layaknya manusia karena ada roh yang merasuki boneka kayu tsb. Tapi iyu dulu nak, sekarang bonekanya hanya dapat bergerak dengan bantuan tali tali yang dipegang sang dalang."

"Tapi Mak, apa Boneka Sigale-gale tidak capek harus menari 7 hari 7 malam?" desah Boyen dengan mata setengah tertutup.

"Roh yang masuk hanyalah roh tak berdaya yang terperangkap di sana krn keegoisan manusia nak."
Lirih suara Mamak hanya sayup terdengar di telinga Boyen kecil.

Lama setelah tertidur, Boyen bermimpi, Mamaknya menangis di atas tempat tidurnya.
Perlahan angin bertiup kencang, menghempas bilah kayu jendela di kamarnya.
Hujan turun lebat bagai ditumpahkan tergesa oleh manusia langit.
Boyen masih mampu melihat jelas di mimpinya, bagaimana sosok Mamaknya memudar dan kemudian menghilang bagai cahaya yang meredup perlahan.

"Mamak!!!"
Boyen tergesa keluar dari selimut tebal yang menghangatkannya semalam.

"Apa yang Mamak ceritakan semalam tidak sungguh sungguh terjadi kan Mak?, mana mungkin ada roh terperangkap di dalam boneka kayu."
Tanya Boyen tak sabar.

Mamak terdiam. Dibelainya lembut rambut, telinga, wajah dan mata Boyen.
Didekapnya sekuat tenaga ke dada sambil terisak lirih.

"Maafkan Mamak, Boyen, karena menunda kepergianmu. Tak seharusnya Mamak terus menginginkan kau tinggal disini.
Pergilah nak, pergilah temui roh Sigale-gale, kalian sama sama lelaki, mungkin kalian bisa berteman."

Dengan mantap di lemparkannya boneka kayu sebesar telapak tangan di meja makan ke tungku pembakaran tempatnya biasa menanak nasi.

Ada suara memilukan memanggil Mamak Mamak Mamak.
Ada suara terbakar dan rintihan lirih.
Ada jiwa  kecil yang tak rela pergi.

...
.#DiikutkanGiveawayYuniZai
Alhamdulillah menang hihi

Nyoba bikin cerpen mini.


Ingatkah kau,
Sewaktu kaki kaki mungil kita berkejaran di lantai papan dan menimbulkan suara berderit yang membuat kesal mereka.

Ingatkah kau,
Ketika pekatnya malam belum tersibak dan suara sapu berdentum mengetuk lantai papan tepat di kamar kita tidur bersama, dan kita pun dengan mata setengah terpejam berjalan beriringan menuju pancuran tua di halaman belakang untuk berwudhu.

Ingatkah kau,
Saat liburan tiba, kita disibukkan dengan pembagian kerja sambil semua tak ada yang mau mengalah.

Ingatkah kau,
Saat hari kalangan tiba di desa kita, setiap deru taksi yang berhenti di depan rumah akan disambut dengan kepala kepala mungil yang tak sabar menanti buah tangan.

Ingatkah kau,
Setelah sholat subuh, Mami akan membekali kita dengan uang 100 rupiah untuk membeli #gonjing untuk menghangatkan tubuh kita yang mengigil mencoba menghalau angin pegunungan.


Kita akan berjalan pelan menapaki jalan yang gelap menuju langgar ngaji tempat teman teman bermain kita telah menunggu gembira.

Lalu setelah sholat subuh selesai ditunaikan, kita akan mengambil Al Qur'an kecil di atas meja dan selendang segitiga putih dan bersiap menuju langgar mengaji di tengah desa.

Jalanan gelap, bahkan kerikil yang biasa berserakan di jalan desa tak mampu kita lihat dengan jelas. Dengan menahan gigil yang semakin menerkam, kaki kaki kecil kita tergesa melangkah.

Sebuah bangunan sederhana terang benderang menanti kita. Petromaks besar tlah menyala terang dan teman sebaya tlah riuh berkumpul.

Ada jeda  mendebarkan ketika langkah kaki yang begitu kita kenal mulai mendekat. Wajah keras Kyai Kip menyembul di pintu langgar dan serentak ruangan menjadi senyap.

Tertatih lidah mungil kita mengeja ayat demi ayat dan mencoba membaca dengan sebaik mungkin hingga tiba giliran kita untuk "menghadap".

Disanalah ujian kita yang sesungguhnya, mental kita diuji, bacaan kita didengar dengan seksama lalu tajwid kita dikoreksi.
Dan akhirnya kita hanya mampu berdoa, semoga bacaan kita dapat diteruskan ke ayat selanjutnya agar terhindar dari bacaan itu itu saja.

Pagi mulai merekah, ketika langgar kita bubar. Jalanan yang tadi tertutup pekat mulai tersibak. Rumah panggung disekitar kita mulai berbenah. Suara sapu, air yang mengucur atau sekedar percakapan antara tetangga mulai terdengar.

Langkah kita kembali bergegas, menyiapkan diri untuk sekolah dan bertemu kembali dengan teman mengaji di halamn sekolah.

Tak berapa lama, jalan desa kembali dipenuhi anak anak berseragam merah putih.


Karakter #Mahoni dan #Sigi di novel #MEMORY karya penulis kesayanganku #WindryRamadhina

Cerita yang memikat, bercerita tentang masa kecilnya yang penuh dengan aroma kayu, pernis dan suara palu dipukul seakan bercerita bagaimana sosok Ayah yang dibencinya sesungguhnya adalah sosok paling dirindukannya.

Lalu semua penjelasan tentang konte sanguin, folkcloric atau sketsa usang memikatku untuk tahu lebih banyak tentang dunia arsitek yang begitu dikuasai oleh Windry.

Aku bahkan berandai andai puteriku akan mengagumi Gugenheim sama seperti Mahoni di novel ini.

Mahoni yang tersesat dlm gambaran semu dunia Mae yang kelam,
Mahoni yang mandiri mengejar impiannya hingga ke benua lain,
Mahoni yang memuja seorang lelaki yang lekat dengan masa lalunya,
Mahoni yang merindu hingga
Mahoni yang akhirnya luluh pada keteguhan dan kepolosan Sigi, adik tirinya.

Mahoni mengingatkanku bahwa ada kalanya mimpi yang kita kejar dengan sepenuh hati harus luruh demi sebua mimpi baru untuk seseorang yang kita sayangi.

Sigi dan Mahoni adalah penggambaran sempurna tentang kasih sayang pada saudara. Mahoni dan Sigi juga membuatku percaya, bahwa kebahagiaan itu adalah hak kita. Kita berhak bahagia sebagaimana kita bahagia bila orang yng kita sayangi juga bahagia.

Dan Mahoni membuktikan, dunia tak sekelam cerita Mae.


Aku mengingatmu.
Kau yang selalu menjaga jarak aman dariku.
Dengan badan tegap dan kulit kecokelatan yang kau dapat dari keseharianmu, fisikmu jauh melampaui teman-temanmu.

Tak seperti kami, kau selalu datang terlambat.
Dengan badan penuh keringat dan seragam yg  tampak lusuh, kau menjelaskan alasanmu.
Sekilas kulihat rona malu membanjiri wajahmu ketika teman sekelas kita mulai menyorakimu.

Kau tak pernah dekat denganku.
Bahkan kupikir kau sengaja menjauhiku.
Kau terlihat sebal setiap kali aku dianakemaskan guru.

Kau mungkin tak pernah tahu,
Betapa aku ingin berteman denganmu.
Betapa aku ingin menjadikan kau sahabatku.

Kau mungkin mengira
Aku hanyalah anak manja
Yang selalu mendapatkan hak hak istimewa karena aku anak kepala sekolah.

Aku mencarimu
Mencari khabarmu di setiap kepulanganku.
Tapi kau menghilang.

Hingga saat ini, aku masih merindukanmu
Sahabatku.

#SahabatMasaKecil


Kiara mengumpat kesal.
Dari kejauhan terlihat  lalu lalang kendaraan dengan sinar lampunya  yang menyilaukan.

Kembali dilihatnya layar televisi di depan, sambil menajamkan telinga.
Lagu Chantal mengalun pelan menyertai kepergian Ben Affleck dan Bruce Willis.
Biasanya Kiara akan ikut menangi bersama pemeran wanita yang bersedih itu.
Tapi suasana hatinya sedang gelisah.
Bahkan dengan sinis Kiara mengejeknya "cengeng."

Suara vespa butut terdengar berhenti di depan pagar kostnya.
Kiara tak bisa melihat dari lantai dua tempatnya duduk.
Jarak pandangnya terhalang kanopi tua yang mulai retak karena sinar matahari.

Dihitungnya sampai sepuluh sambil menahan napas.
Ponselnya bergeming.
Tak ada panggilan pun pesan yang masuk.

"Sial!!' umpat Kiara untuk kesekian kalinya sambil bergegas turun melewati tangga dengan suara tak tok tak tok yang tak berusaha disamarkannya.

Gerutuan tak jelas terdengar dari arah ruang televisi di lantai bawah, tempat induk semangnya yang cerewet sedang menonton sinetron yang dibencinya.
Kiara mempercepat langkahnya setengah berlari ke arah garasi, menyambar helm putih di motor matic-nya dan membuka pintu.

Udara dingin menyergapnya, lututnya yang tak tertutup kain berdesir.
Dipasangnya wajah cemberut ke arah lelaki tinggi di depannya.

"Sudah siap?, filmnya akan segera dimulai." ucap si lelaki sambil menaiki vespa biru dongker disampingnya.

Kiara perlahan menghampiri lelaki tersebut sambil menghentakkan kakinya.
"Kenapa Kia?, nggak jadi nonton?" tanya si lelaki santai.

Kiara hanya diam, sambil memakai helm Kiara duduk  di sadel belakang dengan melingkarkan tangannya ke pinggang lelaki itu.
Tubuhnya menggigil ketika sebuah tangan yang besar dan hangat membelai jemarinya.
Kain pantai motif bunga yang menutupi rok hitamnya berkibar pelan tersapu angin.

Mereka menuju bioskop tua tak jauh dari kost Kiara.
Jalanan ramai oleh muda mudi seperti mereka.
Sambil tetap melingkarkan lengannya, Kiara menyandarkan kepalanya di pinggang si lelaki.
Belaian di jemarinya semakin intens.
Kiara mendesah mengabaikan perasaan yang bergejolak di dadanya.

***
Kiara sibuk menatap etalase tempat pegawai wanita cantik itu melayani pembeli yang menginginkan popcorn dan coke.

"Dingin?" sambil mengulurkan jaket kulit cokelat ke Kiara,  tangan lelaki itu bergerak posesif memperbaiki letak kain pantai di pahanya.

Kiara mengabaikan pertanyaan lelaki itu.
"Mau berbagi?"
Kembali terdengar suara bass lelaki itu.
Tatapan penuh tanya Kiara bertemu dengan manik hitamnya.
Kiara kembali mendesah pelan.
Mengabaikan degup jantungnya sendiri, Kiara mencoba tersenyum.

"Kau menyesal pergi denganku malam ini?"
Sebuah tangan kembali bergerak di atas kain pantai motif Bali.

Suara merdu yang mengumumkan film segera dimulai menarik Kiara cepat dan membuatnya berdiri.
Kiara pura pura tak melihat tangan yang terulur kearahnya, berjalan cepat sambil menyodorkan tiket yang dipegangnya kepada petugas.

Kiara tidak mampu mencerna jelas adegan demi adegan di depannya sampai sosok wanita dengan leher hampir putus memenuhi layar di depannya.
Jeritan ngeri lepas dari mulutnya.

"Maaf sa... Kiara, "
Kiara tak tahan untuk tidak menangis.
Ditahannya isak tertahan dengan menutup mulutnya.
Sebuah rengkuhan erat menghangatkannya.
Kiara mendengarkan sedu sedan lain di telinganya.
Ada cairan hangat jatuh di bahunya.

Sepedih inikah perpisahan.
Kiara berharap film horor itu tak pernah selesai.
Kiara tak ingin melepaskan pelukan ini, Kiara tak sanggup melepas lelaki yg skrg menangis di bahunya.

"A good friend is hard to find, hard to lose and impossible to forget."

***
#part1


Boyen sedang mendengarkan lembut suara Mamak yang bercerita tentang Legenda Boneka Sigale-gale.

"Dulu sekali, boneka Sigale-gale dapat bergerak sendiri layaknya manusia karena ada roh yang merasuki boneka kayu tsb. Tapi itu dulu nak, sekarang bonekanya hanya dapat bergerak dengan bantuan tali tali yang dipegang sang dalang."

"Tapi Mak, apa Boneka Sigale-gale tidak capek harus menari 7 hari 7 malam?" desah Boyen dengan mata setengah tertutup.

"Roh yang masuk hanyalah roh tak berdaya yang terperangkap di sana krn keegoisan manusia nak."
Lirih suara Mamak hanya sayup terdengar di telinga Boyen kecil.

Lama setelah tertidur, Boyen bermimpi, Mamaknya menangis di atas tempat tidurnya.
Perlahan angin bertiup kencang, menghempas bilah kayu jendela di kamarnya.
Hujan turun lebat bagai ditumpahkan tergesa oleh manusia langit.
Boyen masih mampu melihat jelas di mimpinya, bagaimana sosok Mamaknya memudar dan kemudian menghilang bagai cahaya yang meredup perlahan.

"Mamak!!!"
Boyen tergesa keluar dari selimut tebal yang menghangatkannya semalam.

"Apa yang Mamak ceritakan semalam tidak sungguh sungguh terjadi kan Mak?, mana mungkin ada roh terperangkap di dalam boneka kayu."
Tanya Boyen tak sabar.

Mamak terdiam. Dibelainya lembut rambut, telinga, wajah dan mata Boyen.
Didekapnya sekuat tenaga ke dada sambil terisak lirih.

"Maafkan Mamak, Boyen, karena menunda kepergianmu. Tak seharusnya Mamak terus menginginkan kau tinggal disini.
Pergilah nak, pergilah temui roh Sigale-gale, kalian sama sama lelaki, mungkin kalian bisa berteman."

Dengan mantap di lemparkannya boneka kayu sebesar telapak tangan di meja makan ke tungku pembakaran tempatnya biasa menanak nasi.

Ada suara memilukan memanggil Mamak Mamak Mamak.
Ada suara terbakar dan rintihan lirih.
Ada jiwa  kecil yang tak rela pergi.

...

Buat Ikutan Kuis Barbie Yuni Zai


Total Tayangan Halaman

Popular Posts

www.penulistangguh.com. Diberdayakan oleh Blogger.