Jalanan desa penuh dengan siswa-siswi berseragam merah putih. Sekolah kami terletak di ujung desa berbatasan langsung dengan hutan Meruang yang terkenal angker. Rombongan babi hutan seringkali terlihat menyeberang pada jam enam ketika anak anak piket pagi.

Aku melewati Andini yang berjalan sendiri menenteng novel selebar buku tulis yang dibawanya sejak selasa. Anak ini kutu buku, aku tahu koleksi buku ayahnya sangat banyak. Aku pernah beberapa kali mampir ke rumah Kakeknya di hulu desa membawa kopi mentah untuk ditimbang. Di meja kayu panjang  di sisi teras samping, ada foto Andini dan Ayah Ibunya berlatar ribuan buku dari rak-rak kayu hitam. Andini berumur enam tahun di foto itu tampak bahagia dipangku orang tuanya.

Andini adalah gadis kecil yang kesepian. Teman baiknya adalah koleksi buku buku ayahnya. Tak punya saudara, tak punya teman dan tak punya kerabat. Ayahnya perantauan dari Jawa, Ibunya anak tunggal dari Uwak Marzuki. Satu-satunya teman yang terlihat dekat dengan Andini adalah Feri, sepupu jauhnya yang sekarang duduk di kelas tiga SMP. Tapi SMP terdekat berjarak hampir lima belas kilometer di dekat Pasar Baru di kecamatan, jadi mungkin hanya seminggu sekali Andini bisa bertemu sepupunya.

Meli pernah berkata Andini itu aneh, dia sering tertawa sendiri ketika membaca dan seperti berbicara sendiri di lain waktu. Bagiku itu juga aneh.

Aku pernah menegur Meli agar lebih akrab dan bersikap baik dengan teman sebangkunya. Meli balas melotot dengan marah “Kenapa tak kau sendiri yang akrab, kau malah jahat, setiap kali Andini menyapa hanya kau balas dengan tatapan”.

 

HARI MINGGU

Andini

Tak terasa kami sudah kelas enam. Sejak masuk tahun ajaran baru kami disiapkan untuk belajar dan mengikuti les tambahan dari Pak Sanusi. Ibuku sudah sering mengingatkanku untuk fokus dengn pelajaran dan mengurangi membaca novel.

Hari ini hari minggu, lepas pulang mengaji dari langgar Kyai Kip, aku duduk di ayunan tua di samping jendela besar yang menghadap ke kebun. Aku ingin menyempatkan membaca Buku Atheis. Aku sudah memohon selama hampir dua minggu pada Ayah agar diperbolehkan membacanya. Ayah sempat menunda-nunda dan berkilah masih banyak buku lain yang belum kubaca. Tapi buku yang ditandai Ayah sudah habis. Buku lainnya tak diperbolehkan karena belum cukup umur. Bahkan koleksi S Mara GD dengan Kapten Kosasihnya sudah habis kulahap. Aku tertarik dengan buku-buku ayah di rak kaca itu karena ada tulisan besar KARYA PUJANGGA BARU.

Sambil menimang buku bersampul hitam setebal hampir 500 halaman di tanganku aku melamun. Aku ingin menulis seperti Ayah. Aku ingin menjadi pendongeng hebat seperti Ayah. Dan aku akan menulis kisah yang bagus sampai diterjemahkan ke seluruh dunia. Ayah bilang buku yang bagus akan dibaca oleh semua bangsa. Buku yang bagus lekat di hati pembaca, meninggalkan jejak dan menjadi penyemangat bagi yang membaca. Aku ingin menulis buku seperti yang dimaksud Ayah.

 

Kisahnya baru dimulai ketika hidungku kembang kempis menghirup aroma sambal kentang dari dapur. Aromanya menguar memenuhi ruang tempatku duduk. Lantai kayu hitam berdecit ringan mengiringi kakiku menuju dapur. “Hatchiiiim, hatchiiim...”

Bersinku tak terkendali. Kulihat pinggan putih di meja bulat sudah terisi irisan tipis kentang goreng berbalut cabai merah. Ah tak tahan kuulurkan tanganku untuk mencicip ketika tepukan lembut dibahu membuatku urung.

“Cucilah tangan dulu Andin dan lekas panggil Ayah dan Kak Feri di depan,” Ibu menatapku dengan tersenyum sambil matanya bergerak lucu kearah ruang depan tempat Ayah dan Kak Feri mengobrol.

“Bolehlah cicip dikit Bu?” ujarku dengan tatapan memohon.

“Tak nak!, Tak elok anak perawan suka incip, nanti tak baik kalo sudah besar” Ibuku menjawab dengan sabar sambil mendorongku ke arah ruang tamu.

Aku bergegas menemui Ayah, kulihat sepupuku sedang asyik menghirup cuko berwarna hitam bikinan ibu. Gigi putihnya menyembul dari balik mangkok ketika melihatku mendekat. Kak Feri anak Makwo Eteh, ponakan Kakek. Usianya hampir 14 tahun, beda 5 tahun denganku. Berkulit putih dan berbadan gempal hampir seukuran Juno. Mungkin Kak Feri kalah tinggi dibanding Juno tapi Kak Feri jelas lebih tampan dibanding Juno. Aku tersenyum mebayangkan Juno bertemu dan berkelahi dengan Kak Feri, menebak siapa yang bakal menang. Seandainya Kak Feri tinggal dekat denganku aku akan mengadu setiap detik, mengadukan perlakuan teman-temanku, mengadukan Juno yang tak pernah ramah denganku. Rasanya menyenangkan hanya dengan membayangkan.

“Pagi-pagi sudah ngelamun aja adeknya kakak,” sapa Kak Feri hangat. Pipiku memerah ketahuan melamun.

“Kapan Kak Feri nyampe?” sahutku cepat menutupi gugup karena ketahuan membayangkan yang tidak-tidak.

“Baru lah, baru abis 8 ikok pempek” sahut Kak Feri dengan senyum lebar.

Ayah menghirup kopi hitam dari gelas panjang di atas meja, mengabaikan kami. Ayah sibuk dengan pikirannya sendiri. Kulirik meja segi empat kecil yang terlihat penuh dengan dua gelas kopi, cuko dan piring berisi pempek. Hanya tersisa dua buah pempek lenjer di sana, kuambil dan kumakan tanpa cuko. Aku masih mengunyah pempek kedua ketika Ibu mendekat dan mengajak kami ke dapur untuk sarapan nasi.

Kak Feri dan Ayah makan dengan lahap.

“Loh katanya dah habis 8 ikok pempek, ih kok masih kelaparan?” protesku melihat Kak Feri makan. Yang ditanya hanya senyum-senyum karena mulutnya penuh dengan makanan. Ibu kembali menepuk pundakku.

“Iya, nggak boleh bersuara kalo lagi makan, kecuali kentut,” jawabku dengan cemberut. Ayah hampir tersedak mendengar jawabanku lalu bunyi seperti kentut yang ditahan terdengar. Aku celingukan mencari siapa yang kentut. Dan senyum lebar Ayah menjawab rasa penasaranku.

“Maaf, nggak sengaja,” kata Ayah masih dengan senyum pepsodennya. Kak Feri dan Ibu ikut tertawa kecil.

Bersambung...

 



Mudik..

Lebaran..

Ya Makan ketupat dan opor rendang.

Tapi apa daya itu tidak berlaku untukku sebagai anak rantau.

Jika yang lain bisa mudik ke kampung halaman nun jauh disana, di tengah hutan rimba dan deretan rumah panggung yang berjejer rapi dengan suasana hangat naik turun tangga untuk saling mengunjungi dan menuntaskan silaturahmi.

Aku mudik ke desa tapi bukan untuk mencari kehangatan sambutan orang tua tapi lebih untuk menemani suami menuntaskan rindunya kepada kampung halamannya yg indah.

Bukan aku tak bersyukur dengan yang ada.

Di sini aku bisa wisata kuliner kemanapun selagi dompet cukup. Mencoba cita rasa pecel Ngawi, Soto Mbah Tunggak perbatasan wilayah Magetan dan Ngawi, sate gule kambing khas Ngawi yang dicampur dengan taburan sambal kacang dan kecap, tahu tepo, kripik tempe dan tentunya pemeran utamanya adalah ayam panggang ayam kampung, lagi-lagi di Magetan pinggiran yang tidak jauh dari kampung halaman suami.

Disini aku juga bisa healing gratis mengelilingi rumah tempat suamiku dibesarkan. Pohon Jati di belakang rumah, bisa kupakai untuk backgroud foto yang cantik. Ada banyak bangunan tua yang tampak estetik bagi mereka yang suka bergaya. "Selep" tua di halaman yang super luas di depan pendopo cantik juga menjadi tempat favorit untuk berpose. 

Alhamdulillah senang bisa mudik ke kota ini.

Silaturahiim dari Bulik satu ke bulik lain, ke Mbah, Budhe dan banyak kerabat yang tak bisa disebut satu persatu. 

Perlahan aku mulai jatuh cinta dengan rutinitasku mudik ke kampung suami meskipun yang kami tuju adalah rumah besar yang hanya berpenghuni bila lebaran tiba. Rumah yang banyak menyimpan kerinduan bagi suamiku, rumah yang banyak menyimpan kenangan manis.

Jika ada yang membuatku sedikit kesal disini itul adalah opor dan rendang. 

Aku berharap  ada yang menjamu atau menawarkan untuk makan rendang dan opor di rumahnya tapi sampai belasan kali aku mudik tak pernah terjadi. 

Aku membayangkan riuhnya lebaran di rumah panggung biruku nun jauh di pelosok Sumatera.

Aroma opor ayam sengan potongan nanas membuatku menelan ludah, potongan ayam yang tak pernah kecil, lontong buatan mami dan dilengkapi rendang malbi dan sambal goreng hati ampela dan pete duh nikmatnyaaaa.

Aku ingin sekali saja merasakan makan opor pada waktu lebaran tapi sampai sekarang belum terwujud.

Akun tak punya orang tua di kota ini, orang tua suamiku telah lama tiada dan ternyata di Jawa tradisi makan opor bukan pada saat lebaran melainkan seminggu setelah puasa Syawal.


Jadi ketika aku sudah arus balik ke Surabaya, barulah bulik paklik dan saudara sekampung memasak opor, membuat ketupat, sambal goreng hati dan rendang. 

Aaaah kenapa harus gitu.

Duh jadi kesal kalau ingat dan ngebayangin meja besar di ruang makan rumah panggung biruku yang dipenuhi masakan kesukaanku.

Kubayangkan Mami meladen tetamu yang datang  selesai sholat ied untuk makan satu hidangan di rumah yang mengundang. 

Opor nanas oh opor nanas..

See you next year at Eid Fitri

Bismillah..



 


BAGIAN SATU

TERLAMBAT

 

Andini

Aku masih asyik menyelesaikan pohon faktor dari tugas yang diberikan Bu Mutia ketika pintu terhempas membuka dan seorang laki laki dengan tinggi badan melampaui teman sekelasku masuk bergegas menuju meja guru yang berjarak sejengkal dari tempatku. Aku tersentak ketika Bu Mutia memanggil namaku dan menyuruhku mengambil buku absensi kedisiplinan. “Tuliskan nama Jano, catat hari dan jam kedatangannya. Jangan lupa laporkan sabtu depan ke meja Ibu.” “Baik Bu Mutia” balasku memberanikan diri menatap Jano dengan penasaran, meskipun obyek didepanku tampak sibuk sendiri mengusap peluh yang menetes dari kening, leher dan lengannya yang gempal.

Bagaimana mungkin seorang anak kelas lima SD berpeluh sedemikian banyak pada jam delapan pagi, pikirku heran. Kami tinggal di  pegunungan dengan hutan lebat terbentang antar desa. Gigil kami di pagi hari rasanya masih membekas. Aneh.

 

...

Tatapan

Suara bel dari gong kecil didepan ruang guru terdengar sampai ke kelas kami yang terletak di ujung, dan berbatasan dengan pagar sekolah. Meli melompatiku yang masih berusaha memasukkan  LKS Matematika ke dalam laci meja. Sial, kepalaku hampir saja membentur meja. Aku sudah  bersiap meneriaki Meli ketika Jano melewati mejaku dan pukulan tangannya mendarat cukup keras di meja dan membuatku mendongak.

“Apa apan sih!” teriakku keras. Omelan yang seharusnya untuk Meli kualihkan ke Jano. Tanpa sadar aku berdiri menatapnya dengan sedikit mendongak berusaha menerka maksudnya.

Pertanyaanku hanya berbalas tatapan sekilas dari Jano. Tanpa berhenti, Jano melewatiku dengan pelan, tanpa bergegas tanpa menoleh dan tanpa rasa bersalah.

Aku teringat nasehat emak tentang Jano, “jangan terlalu dekat dengan Jano, dia berbahaya, dia berbeda dengan kita Andini, ”entah apa maksud emak.”

Aku masih berusaha menebak apa yang terjadi ketika suara riuh teman sekelas membuatku menoleh dan menghampiri. Keingintahuanku membuatku setengah berlari menuju pintu keluar dan menabrak tubuh hitam legam yang sedang bersandar santai di pintu kelas kami yang setengah terbuka. Tatapan mematikan kembali mengarah padaku, aku melupakan pening dan denyutan di keningku yang mungkin akan membiru karena kerasnya benturan dan segera berlalu menjauh. Jika tadi tujuan utamaku berlari untuk melihat paa ynag terjadi, sekaramg aku hanya ingin lari menjauh dari tubuh hitam menakutkan yang ada di depanku.

Suara Meli  dan Torik  yang memanggilku bersahutan makin keras ketika aku sudah mencapai lapangan. Puluhan anak riuh memperhatikan seekor kerbau yang terihat bingung menerjang kesana kemari di tengah lapangan. Bu Mutia, Pak Didi, Pak Dani dan guru lainnya terlihat berusaha menenangkan kerbau hitam itu ditengah riuh suara tepuk dan sorai murid. Terlihat kerbau semakin menjadi dan menerjang makin mendekat, semua murid berlarian masuk ke kelas  untuk menghindar termasuk aku. Sambil berusaha mengintip kerbau yang masih liar di halaman tiba tiba aku teringat Juno. Juno sehari hari bekerja dengan kerbau Pakwo Dodik.

 

Jano

Sial!!!

Untuk ketiga kalinya di minggu ini aku terlambat masuk kelas. Aku membuka pintu kelas dengan tergesa. Sambil melihat jam dinding di  atas papan tulis hitam, aku melihat sekilas ke arah meja diseberang meja Bu Mutia.

Benar benar murid teladan dan anak emas guru. Sementara teman sekelas lainnya asyik mengobrol atau saling melempar pesawat terbang kertas, anak perempuan itu asyik menyelesaikan soal matematika.

Aku tak perlu mengarang alasan berbeda setiap kali bertemu Bu Mutia. Beliau tahu dan mengerti benar alasanku terlambat. Hanya rutinitas yang membuatnya memanggil si judes itu untuk menuliskan namaku di buku catatan kedisiplinan siswa.

Namanya Andini. Si juara satu, jago bahasa inggris dan jago pidato. Aku lupa apakah karena kepintarannya atau judesnya yang membuat ia selalu diingat. Atau silsilah keluarga sebagai cucu Uwak Marzuki yang kaya raya.

 

Bel baru saja berbunyi ketika Si Bengal yang duduk disamping Andini melompatinya dengan tiba tiba. Aku akan lewat dan tak sadar mengetuk meja mereka dengan sedikit keras. Aku memberikan pandangan tak setuju dengan tingkah Meli ketika Si Jutek mulai berkicau. Sial!!! Suara cemprengnya langsung memecah keriuhan yang tadinya  tak seberapa.

Aku membayangkan Andini adalah sebuah petasan yang dipegang seorang penggugup. Kapanpun , kita harus selalu siap mendengar  ceracaunya. Terus terang suara omelannya membuat telingaku pekak. Kasihan sekali mamak dan bapaknya. Untunglah dia tak bersaudara.

 

LOMPAT JAUH

Andini

Suara Pak Ashari menggelegar di lapangan. Teriakannya membuat ciut semua siswi termasuk aku, tentu saja kecuali Meli. Kulirik sekilas tatapannya yang fokus menatap kolam pasir sekitar lima meter dari tempat kami berdiri.
Training putih hijau yang dipakainya terlihat pas di tubuhnya yang tinggi. Sambil bersiap menunggu peluit dari Pak Ashari, Meli menautkan jemarinya dan kletak kletak, terdengar suara mengerikan dari jemarinya yang direnggangkan dengan kencang. Oh ya ampun, dasar bengal!!.

“Priiit” suara peluit Pak Ashari hampir membuatku terjatuh. Sial!!. Untung tak ada yang memperhatikan betapa gemetarnya aku. Jika ada pelajaran yang paling kuhindari itu adalah Olahraga. Dan jika ditanya olahraga apa yang membuatku tak suka, aku akan berteriak semuanya.

Suara tepukan  mulai terpindai. Meli melompat dengan sempurna. Lompatannya jauh, bahkan mungkin paling jauh dibanding anak laki-laki yang sok jago sekalipun. Kalau ada yang menandinginya. Jano lah orangnya.

“Andini, giliranmu,” teriak Pak Ashari tanpa ampun.

Dan anak-anak mulai riuh menyorakiku. Aku tahu mereka senang menertawakanku di belakang. Mereka hanya bermanis manis jika butuh aku untuk menjelaskan soal Matematika atau membantu membuat pantun untuk tugas Bahasa Indonesia. Teman temanku semuanya munafik.

Lututku gemetar, pijakanku goyah dan bahkan beberapa detik setelah peluit ditiup aku masih gemetar berlari ke arah bak pasir lima meter di depanku. Aku berlari pelan dengan ragu. Hasilnya membuat pak Ashari melotot. Aku berlalu berusaha menepikan pelototan Pak Ashari dan  berlari menuju ke arah sungai kecil di belakang sekolah.

Sungai di belakang gedung  sekolah mengalir pelan tanpa riak. Dalamnya hanya sekitar lima belas sentimeter dengan luas sekitar dua meter. Airnya mengalir jernih dan menenangkan. Sambil mengusap titik air mata yang tak mampu kutahan, aku merendam kakiku. Sorakan teman teman di lapangan sayup terdengar dari tempatku duduk. Aku tak menyadari berapa waktu berlalu hingga hening. Tanpa tergesa kupakai kembali sepatu kets merah hadiah Ayah yang masih menyisakan ruang di kaki mungilku.

Aku berjarak lima meter dari pintu kelasku, pintu cokelat dengan tulisan akrilik  KELAS ENAM warna hitam yang baru dipasang sekitar sebulan lalu ketika langkah cepat seseorang melewatiku. Aku tahu tanpa menoleh siapa. Aromanya adalah aroma wangi kopi merah bercampur peluh, sedikit manis dan menyegarkan. Aku heran darimana kulit hitam legamnya berasal. Yang kutahu Uwak Ken punya kulit yang menarik untuk dilihat, bahkan Makwo Emi punya mata sipit dengan kulit putih seperti orang Tionghoa yang memang merupakan ras kebanyakan di kampungku. Mungkin benar kata orang, Jano anak buangan, Jano anak titipan penghuni kebun kopi di seberang sungai Lintang. Anak makhluk jadi jadian. Tanpa sadar aku bergidik pelan sambil mendekapkan tangan ke tubuh.

Tepat jam dua belas, gong kecil kembali berkelontang. Setiap pintu cokelat dihempas dengan keras diiringi teriakan ramai dari teman teman sebayaku. Aku membayangkan mereka adalah peluru yang berdesing dari senapan otomatis. Suara teriakan mereka adalah desingnya. Tanpa tergesa kusandang ransel hitam di atas meja dan menenteng novel Alisyahbana yang belum selesai kubaca menyusul teman temanku.

 

Juno

Jam tujuh kurang sepuluh menit aku sudah meletakkan tas  di meja. Meli tersenyum lebar menyambutku. Celotehnya lebih banyak terdengar kalau teman sebangkunya tak ada. Dengan tangan kurusnya Meli mengajakku ber-high five. Ditariknya lenganku menuju pintu keluar. Kekuatan tubuh Meli sedikit tak terduga. Orang mengira Meli kurang gizi karena tampak ceking dibanding teman temannya. Tapi banyak menduga ia punya kekuatan herkules wanita. Seperti sekarang, tarikannya membuat lenganku berdenyut protes. Makan apa sih nih anak.

“Hari ini Olahraganya lompat jauh!. Lihat bak pasirnya sudah diratakan dan bantalannya sudah disiapkan,” sapa Meli dengan gembira.

“Hmm, membosankan!” jawabku pelan sambil  bergerak meninggalkannya yang masih tersenyum memandang bak pasir  di ujung kiri lapangan.

 

...

Aku masih asyik memandangi sepatu bututku ketika suara anak anak terdengar lebih riuh dari biasanya. Giliran kami anak laki laki sudah selesai. Kulirik sekilas temanku yang masih berdiri pucat di garis start. Tubuh mungil itu gemetar. Melihat wajahnya aku teringat kambing Wak Samem yang terjebak di pagar kayu kemarin petang, putus asa.

Suara peluit Pak Ashari hampir saja membuat Andini terjungkal. Dengan  tak pasti diseretnya kaki kecil itu hingga akhirnya  sampai juga di bak pasir dengan pelan. Aku bahkan  mampu menghitung pasti berapa langkah yang dibutuhkannya untuk sampai di sana. Hasilnya bahkan lebih buruk dari perkiraanku.

Sorakan mengejek makin ramai terdengar. Mungkin itu luapan kekesalan teman temanku pada si anak emas. Mereka tak mampu mengunggulinya di mata pelajaran apapun, mereka selalu kalah, mereka jengkel. Hanya di pelajaran Olahraga mereka mampu membuat seorang anak kepala sekolah keok.

Kupikir pikir teman temanku cukup kejam. Mereka meneriaki Andini yang berlalu dengan kepala tertunduk ke arah belakang sekolah tanpa henti. Pak Ashari  seperti membiarkan. Aku sempat menatap Pamanku dengan tatapan bertanya, dan berbalas gerakan di bahu seakan berkata biarkan saja.

Lima menit setelah Andini menghilang di balik gedung sekolah, rasa ingin tahu membuatku melangkah ke arah yang sama. Aku melihat seorang anak kecil sedang merendam kaki di sungai dengan sesekali tangannya mengusap matanya yang basah. Andini menangis, aku tak pernah melihatnya menangis. Kurasa apa yang terjadi hari ini membuatnya malu. Aneh membayangkan si gadis jutek itu bersedih. Seperti minum seduhan  kopi yang bercampur dengan kulit, membuat kening bertaut.

Aku menunggu saat yang tepat untuk mengajaknya bicara, meskipun terlihat mustahil melihat sikapnya denganku. Bagaimanapun aku ingin bercerita yang sejujurnya pada Andini, adikku.

Bersambung...


 


Aku tahu tanpa melihat, sekarang sudah lebih dari jam Sembilan malam. Warung Ayuk Deti sudah tutup sekitar sejam lalu. Anak-anak sudah dipanggil pulang dan tidur dalam gelap. Pendar obor berkilauan dari  celah celah papan rumah panggung di desaku. Sebagian besar tetanggaku sudah terlelap. Disini malam beranjak lebih lambat. Jarum jam seakan bosan  berputar. Malam pekat dan mencekam. Ada banyak maling yang sedang mempersiapkan diri menyatroni rumah rumah juragan kopi. Musim kopi sedang berlangsung. Panen berhasil. Emas emas kuning yang dibeli di Pasar Besak pagar Alam dibeli dan ditumpuk di lemari pakaian  ditutup berlapis tumpukan pakaian. Banyak orang kaya dadakan di desa. Tapi tak ada yang bermewah mewah seperti orang kota. Kami terbiasa menimbun emas untuk dijual pada musim paceklik atau ujung musim. Kami hanya merayakan panen melimpah dengan membeli sekilo dua kilo daging kerbau atau ikan Guan. Itu sudah cukup untuk merayakan kebahagiaan kami. Budak kecik dibelikan baju baru, tak lebih dari sehelai.

Panen kebon Abah juga  berhasil. Hampir tiga ton kopi berhasil kami jual ke Toke Asep. Abah menyuruhku menitipkan uang hasil kopi pada Uwak Soleh untuk disetor ke Bank. Abah dari dulu bukan orang yang  senang membeli barang. Kasur kapuknya saja tak kunjung diganti.  Abah  bahkan cenderung pelit untuk urusan uang. Aku maklum kalau Abah punya anak perempuan, setahuku aku anak satu satunya Abah dan aku tidak tahu untuk apa uang  hasil panen di setor ke Uwak Soleh. Aku tahu Abah tidak suka berhutang. Menanyakan langsung ke Uwak Soleh aku merasa tidak enak. Abah sendiri diam setiap kali kutanya untuk apa uang hasil panen.

Di sini anak perempuan butuh uang untuk  biaya menikahkan. Dua ekor kerbau, sewa orkes melayu, negak balai dan lain-lain. Punya banyak anak gadis artinya harus siap uang banyak untuk sedekah. Anak lanang leb ih praktis. Tak kuat melamar anak gadis, merantau masih bisa jadi pilihan. Menikah dengan orang luar Sumatera. Gadis Jawa kabarnya tak telau banyak meminta asal saling suka.

Tiba-tiba aku ingin menghentikan waktu untuk sesaat. Tak sampai dua bulan lagi, ujian kelulusan SMP dilaksanakan. Aku sudah lama bertekat merantau ke tanah Jawa. Andi dan Ujang sudah pasti meneruskan SMA di Palembang. Meli dan Aida ingin merantau ke Bengkulu. Anton berangkat ke Jambi menyusul ayuknya. Aku ingin ke Pulau Jawa. Tepatnya ke Pulau Jawa paling timur. Ke tempat teman masa kecilnya sekarang berada.

Rutinitas yang biasanya Abah lakukan setiap hari sekarang menjadi rutinitasku selama liburan. Libur dua minggu sebelum ujian kelulusan bertepatan dengan musim panen kopi. Sekarang  Jam enam pagi, jalanan masih belum sepenuhnya terlihat. Jaket tebal yang biasa dipakai Abah rasanya tak mampu menahan dinginnya udara pegunungan. Mulutku mengeluarkan uap. Kugenggam cangkir kopiku lebih erat mencoba menyerap hangat yang masih tersisa di sana. Masih sekitar sepuluh menit lagi sebelum taksi tua milik Mang Ujang datang dan mengantar kami ke Kebon.

Banyak pekerja musiman yang ikut menunggu di pinggir jalan disamping warung Ayuk Deti. Panen Kopi memang menjadi magnet bagi perantau dari tanah jawa untuk ikut mengais rejeki dengan menyewakan tenaga mereka yang kuat untuk ikut memetik biji merah itu lalu memanggulnya hingga ke lumbung. Mereka tak banyak minta, dibayar sesuai banyaknya kopi yang berhasil dipetik lalu pulang. Abah pernah berkata, mereka adalah imigran yang ingin mengadu nasib disini. Secara materi hidup mereka sudah mencukupi. Rata-rata punya kebun sendiri atau usaha buka warung. Tapi panen kopi yang melimpah butuh banyak tenaga ekstra. Tak banyak orang aseli Tebing atau aseli Sumatera yang tertarik menjadi petani kopi kecuali mereka tak punya pilihan lain. Suatu pagi Abah pernah bertanya, apakah aku ingin menjual kebun kopi yang kami miliki dan menggunakannya untuk membuka usaha. Aku hanya diam sambil menatap mata Abah. Sejak itu Abah tak pernah bertanya lagi. Abah tahu, aku takkan pernah menjual kebunnya. Kebun kopi itu adalah hidupku.

Taksi berhenti tak jauh dari tempat pekerja itu berkumpul. Penampakan mereka tak jauh berbeda denganku. Jaket tebal, keranjang rotan dengan tali dari sarung yang dililit dan kupluk tebal sambil tak henti menautkan tangan mencoba menghalau dingin. Aku menyeberangi jalan penuh lubang dengan aspal yang berlubang disana sini, bergabung dengan mereka. Tinggiku menjulang hampir menyamai Mang Diran yang kutahu berasal dari suatu kota di Jawa Timur. “Ai ado bujang alap,“ suara Mang Ujang menyapaku dari balik kemudi. Kusambut tangan Mang Ujang dan menciumnya dengan takzim. Mang Ujang adalah adik Abah. Kuraih satu persatu tangan orang orang yang duduk berhadapan di taksi, aku yang paling kecil di sini. 

Aku duduk dekat pintu yang terbuka dengan kaki terjulur di depan. Diiringi udara yang mendesir dan gemeletuk mulut kami, taksi melaju kencang di jalanan yang lebih banyak lubang daripada aspalnya. Desaku tak pernah tersentuh roda pembangunan. Jangankan jalan, listrik pun masih tak kunjung datang. Suara klakson bersahutan memenuhi pagi. Setiap kali ada kendaraan terlihat dari arah depan dengan laju yang tak kalah kencangnya, tangan Mang Ujang otomatis menekan klakson panjang  untuk peringatan agar menjauh. Taksi kami tak mengurangi kecepatannya meskipun di tikungan atau berpapasan jalan dengan  taksi lain. Mang Ujang adalah satu dari banyak sopir ugal-ugalan di sini. Darah Sumatera memang tak bisa bohong, meledak ledak dan tak mau kalah. Doa sapu jagat kuucap dalam hati  sambil memohon Tuhan agar jangan terlalu cepat memanggil kami. Jangan sekarang, di saat ada banyak biji kopi yang siap kami petik dan ditukar emas. Kulirik Mang Diran dan teman temannya. Dengan mulut komat kamit dan muka seputih kertas mereka  khusyuk berdoa. Memang berbeda perangai orang Jawa dan Sumatera. Seperti wajan dan panci pindang. Aku tergelak dalam hati sampai lupa doaku  sendiri.

Setelah  lima belas menit perjalanan ke hulu desa. Kami sampai di pematang. Taksi Mang Ujang tak mampu mengantar kami lebih jauh. Jalan yang mendaki dan terjal tanpa aspal bukan tandingan. Di sinilah stamina kami diuji. Dua sampai tiga kilometer kedepan harus kami lalui dengan cepat sebelum matahari meninggi dan membuat perjalanan semakin sulit. Jalan itu selebar dua meter dan didominasi batu kerikil berukuran sedang dan batu batu besar yang menonjol disana sini. Kami berjalan beriringan dalam hening. Keranjang bergelayutan di leher kami. Kanan kiri kami adalah kebun orang yang mujur benar dekat dengan jalan raya tanpa perlu berjalan seperti kami. Makin dekat dengan jalan raya makin rawan dijarah garong kopi yang berkeliaran.

Kira-kira satu kilometer berjalan terlihat Dangau kecil rapi dari celah pepohonan. Aku melambatkan langkah. Terdengar gemericik air dari sungai kecil di belakang danau. Ada sebelas pijakan batu dari mulai ujung tangga di belakang dangau sampai ke tepian sungai kecil itu. Ada jemuran kayu di sebelah kanan dan kandang ayam di kirinya. Dangau itu terlihat sunyi. Tapi bekas api unggun di dekat gunungan biru terpal menandakan adanya  kehidupan. Tiba tiba aku membayangkan kaki kecil Andini melompat dari batu satu ke batu lainnya sambil membawa keranjang baju menuju sungai. Rambut ekor kudanya bergerak ke kanan ke kiri. Andini terlihat setidaknya empat kali dalam setahun di pondok itu ketika masih duduk di sekolah dasar. Pondok  itu milik Kakeknya yang tersohor. Uwak Marzuki. Tapi itu dulu, sebelum Andini merantau ke tanah jawa.

Bersambung ...





Jika kau sekedar singgah, 
Aku mohon, bersikaplah seperti tamu,
Agar aku tak salah,

Harus menyuguhkan kopi atau hati.

Juno masih tenggelam dengan buku tulis biru tipis di tangannya, ketika suara Abah terdengar memanggil namanya pelan. Abah tak segarang dulu lagi. Suaranya sekarang tak lagi lantang dan menggelegar. Suaranya meredup bersamaan dengan berat badan yang kian meyusut. Dulu Abah adalah orang paling perkasa di kampung satu. Badannya kekar dan atletis. Kulit sawo matang dan rambut hitam legam dengan tinggi di atas rata-rata orang Desa Tebing, 187 cm. Abah menonjol diantara kebanyakan petani kopi di daerah sini. 

Tapi empat tahun yang lalu tragedi menghampiri Abah, merampas harga diri Abah. Sejak itu Abah berubah. Abah makin jarang berkumpul dengan warga sekitar. Kalau dulu Abah bukan orang yang suka mengobrol, sekarang Abah benar-benar tidak ingin mengobrol dengan tetangga kanan kiri. Abah tetap rajin pulang pergi ke kebon kopi yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari desa menuju ke arah bukit di hulu desa. Tapi Abah mengabaikan undangan sedekah yang tak putus datangnya. Biasanya Abah paling diandalkan di Balai Lembongan untuk urusan menanak nasi dan memotong kerbau menjadi potongan yang tepat dimasak rendang, malbi, gulai sampai pindang daging. Dibutuhkan orang yang punya fisik kuat dan pengalaman seperti Abah agar daging kerbau bisa dimasak sesuai dengan jenisnya. 

“Ini Kopi Abah, masih panas, tunggulah sebentar” kuletakkan segelas kopi hitam pekat tanpa gula kesukaan Abah. Seperti kebanyakan orang Tebing dan sekitar, kopi adalah minuman wajib di pagi, siang, sore, malam dan ketika berbincang menemani malam. Semakin banyak orang bertamu atau kita bertamu, yang hampir setiap malam, sebanyak itu juga kopi diminum. Lima gelas kopi perhari adalah jumlah minimal yang diminum orang Tebing. Kopi adalah urat nadi dan hidangan sehari-hari di sini. Jika ada yang bisa menyaingi kopi itu adalah pempek dan cuko. Apalah jadinya penduduk Tebing tanpa kopi, pempek dan cuko hitam. 

“Besok senin kau baliklah ke Muaro Enim, naik mobil Pakcik Ujang, berangkat jam tujuh” suara Abah membuatku urung berdiri. “Juno masuk sekolah masih tigo hari lagi Abah, Juno balik minggu sore be” aku duduk di sisi pembaringan Ayah. Dipan baghi peninggalan Nek Anang. Sehelai kasur kapuk tipis tampak mengenaskan dibawah tubuh kurus Abah. Kasur kapuk itu menjadi saksi kekuatan dan keperkasaan Abah. Menampung berat tubuh Abah bertahun-tahun dan tetap setia meskipun  terlihat sekarat. Kasihan Abah harus merasakan papan kayu yg keras yang tak mampu dihadang kasur kapuk, kasihan mereka berdua.

“Ai alangke senang kau nih melamun, kau tuh lanang bukan gadis tujuh belasan”, bentakan Abah membuat mataku tertunduk. Merasa tak semestinya mengasihani Abah dan kasur kapuknya. Abah paling benci dengan rasa kasihan. “Abah istirahatlah, Juno besok yang ke Kebon” kutinggalkan Abah sebelum sempat membantah. Kututup pintu kayu cokelat dengan pelan, suara deritan papan yang kuinjak mengikutiku hingga di pintu ruang tengah. Kamarku terletak di ujung depan di sebelah kiri, dengan pintu tepat menghadap ke pintu masuk rumah. Tiga jendela kecil yang mengarah ke jalan utama masih terbuka lebar. Gorden bergoyang-goyang di topang papan bulat yang diletakkan seperti palang di tiap jendela. Ada kursi rotan kecil di dekat jendela paling kiri tempatku tadi duduk sambil merokok. Gelas berisi kopi sudah tandas, abu rokok berserakan di asbak putih bening yang rempal di salah satu bagian. Aku sengaja merokok di depan jendela sehingga asapnya terhisap udara pegunungan yang membuat gigil. Abah tak suka melihatku merokok, aku tahu. Tapi Abah tak pernah mengucapkannya. Aku malu sendiri menyadari kebodohanku. 

Andai Abah tahu alasan utamaku merokok sepanjang waktu. Tanganku terkepal ketika melihat wanita tua di bale-bale tua tepat di jendela seberang sedang mengaji seperti sengaja mencemoohku.

bersambung....


Malam ini terasa bergerak lebih lambat dari malam-malam biasanya. Jam malam sudah lama berlalu. Tinggal di asrama memaksaku bertoleransi lebih dengan peraturan peraturan asrama yang terkadang terasa mengada-ada.

 
Aku tinggal di asrama sekolah di kamar nomor delapan di tingkat dua bangunan sayap timur. Aku tidur bersama sembilan anak dari masing masing kelas. Seharusnya ada dua belas anak yang menempati kamar nomor delapan. Tapi ketiganya pulang kampung tanpa khabar alias menghilang.

 
Alina bilang mereka tidak betah dengan peraturan ketat Suster Wiji selaku kepala asrama. Tapi Phoebe teman dekatku yang terkenal pendiam memberitahuku kalau tiga orang teman kami tersebut dipaksa pulang orang tuanya. Ketika kutanya alasannya, Phoebe hanya mengangkat bahu yang kuartikan dia tidak tahu.

 
Aku punya dugaan sendiri. Aku pernah memergoki mereka tertawa di waktu malam dan membuat ribut kamar kami. Dua minggu sebelumnya Suster Wiji menemukan botol minuman Jack Daniel di dalam tumpukan baju paling bawah di lemari. Kuduga mereka dikeluarkan. Peraturan di sini benar-benar mengerikan.


Kertas surat berwarna pink di depanku baru tertulis delapan kata, “Dear Juno” dan selanjutnya kosong. Aku masih memutar pulpen boxi–ku ketika suara Eva yang cempreng memanggilku. Langkah kaki mendekat terdengar di balik pintu dan pintu yang membuka lalu menutup membuatku yakin untuk mematikan lampu mejaku.

 
Aku masih berusaha menemukan selimut biruku dengan meraba-raba dalam gelap dengan posisi tidur ketika pintu kamar kami dibuka perlahan. Langkah kaki suster Wiji dan Kak Grace mendekat ke ranjang tempatku berbaring. Kulihat Kak Grace iseng menyorot senter ke arah mukaku membuatku silau. Aku masih berpura-pura tertidur ketika terasa seseorang menggelitik kakiku. Kutahan sedapat mungkin sambil mengumpat pelan. Akhirnya pintu menutup dan kamar kami kembali hening.


Sambil menghitung mundur bilangan prima dari angka 101, aku akhirnya terhanyut dalam mimpi. “Mengapa kau tak memberi khabar?” aku menatap Juno dengan pandangan bertanya yang hanya berbalas diam. Aku sudah siap membalikkan badan ketika terdengar suara beratnya memanggil namaku pelan dan ragu. “Andini...” Juno menyebut namaku dengan nada yang kusuka. Aku ingat ketika hari pertama kami tak sengaja bertemu di Pasar Besak. Juno sedang berdiri dibawah terik matahari dengan lipatan karung kosong disampingnya di dekat kios Kerupuk Kemplang langgananku. Dia terlihat bediri sambil lalu dengan tangan yang sesekali bertaut dan mata yang menerawang menatap taksi merah yang memanggil-manggil. 


Aku menggenggam tangan Ibu lebih erat ketika akhirnya harus melewati Juno untuk bisa masuk ke toko itu. Panggilan pelannya membuatku ragu untuk menoleh. Dan aku tidak menoleh. Aku terlalu takut dan malu bila ternyata aku yang salah mendengar. Tapi panggilannya  kali ini membuatku merasa dejavu. Sekarang aku yakin. Di Pasar Besak di depan Toko Kerupuk itu, Juno memang memanggil namaku.


“Aku menitipkan surat pada Ayuk Leni di subuh keberangkatanmu.” Suara Juno membuatku ingin menatapnya. “Aku menitipkan surat samo Kak Feri di pagi pertama kepulanganmu setelah wisuda SMP,” terdengar Juno meninggikan suaranya sedikit membuatku semakin ciut. “Aku menemui Pak Subroto pada tahun pertama kau masuk SMA ketika Ayahmu berniat ke Surabaya menemuimu dan aku  menitipkan surat yang ketiga” suara Juno kembali terdengar dan aku tak sabar pergi dari hadapannya. Aku tak siap dengan jawabanku. 


Kriiiiiiiiing!!!


Terdengar jam beker berbunyi tepat di telinga kiriku. Aku menyembunyikan kepalaku di bantal bersarung putih dengan logo SM. “ Duggg” teriakanku terdengar mengenaskan ketika bantal itu ditarik paksa tangan putih pucat dan ringkih. Aku ingin berteriak hantu ketika tatapan marah Kak Grace mendominasi mukaku. Sial kenapa makhluk pucat ini senang sekali menggangguku. Kusibakkan selimutku dengan kasar, melemparnya asal-asalan ketika suara Suster Wiji tertangkap inderaku sedang menuju ke kamar nomor Dua Belas. Kuambil kembali selimut yang tadi kulempar dan kulipat serapi mungkin lalu kutarik ujung-ujung seprai yang mencuat di ujung.

 
Bantal putih, selimut putih dan seprai putih di kamar asrama ini membuatku menggigil. Aku tak pernah suka warna putih. Aku terintimidasi dengan warna putih. Itu sebabnya aku meletakkan butiran M&M di permukaan kasurku. Aku tahu Alina sering mengambil M&M yang kutabur tanpa sepengetahuanku dan dengan sepengetahuanku. Alina berlagak tak peduli sambil terus mengunyah MnM-ku. Dasar pencuri tak punya malu.


Aku keluar dari kamar mandi ketika jam berdentang di angka lima. Teman-temanku sudah banyak yang berseragam rapi. Alina  dan Phoebe tampak asyik membicarakan sesuatu. Hmm.. aku menebak mereka pasti sedang merencanakan untuk menyontek di ulangan kimia nanti. Alina, Phoebe dan Aku teman sekelas. Alina  berasal dari Fakfak Irian Jaya sedangkan Phoebe dari Papua. 


Alina keturunan Chinese sedangkan Phoebe puteri Papua aseli. Aku lebih dekat dengan Phoebe karena Alina terlalu cerewet untukku. Kadang tanpa kuminta Alina akan sibuk meracau bercerita ke Kak Grace ketua asrama yang juga kakaknya tentang tingkahku. Dan kak grace seperti magnet yang menemukan kutubnya mulai sibuk memantauku, mengusiliku dan menguntitku. Menyebalkan. Aku tak tahu persis cerita apa yang didongengkan Alina ke Kak Grace atau tepatnya apa yang membuat Kak Grace tertarik pada kelakuanku. Sial memikirkan kakak beradik itu  membuat kepalaku pening seketika.


Aku masih menyisir rambut ikalku ketika  Andrea, anak kelas 10 yang tidur di kasur paling ujung mengingatkanku lima menit lagi bel berbunyi. Lamunanku putus, kuambil tas hitam di atas meja belajar dan buku gambarA3 di bawahnya sambil berlali menyusul Andrea yang sudah hilang dari pandangan. Cepat sekali larinya. Tepat di ujung anak tangga terakhir bel berdentang keras. Sial terlambat lagi.
Aku berlari sekencang kumampu melintasi halaman luas pemisah asrama dan bangunan merah bata di depanku. Huff.. jantungku berdetak lebih kencang sampai kukira bakal lepas dan menggelinding di lantai marmer putih mengkilat di sebelah ruang TU. Pak Sandro sedang berjalan menuju kelasku. Aku mengikutinya dengan langkah tertahan  berusaha tak menimbulkan suara. Ketika pintu kelas 11A2 dibuka aku mengikutinya dan berlari cepat menuju bangku di meja terdepan. Lavenia teman sebangkuku  melirik sekilas sambil melempar senyum pengertiannya.


“Mimpiin Juno lagi ya sampai kesiangan?” terdengar nada sok tahu Nia. “Aku kok mimpiin dia terus ya?” aku balik bertanya bingung ke Nia. Nia mengabaikan pertanyaanku. Pak Sandro menyuruh anak-anak membuka Buku Paket Biologi kami dan bersama-sama mengoreksi PR pilihan ganda sebanyak 30 soal tentang Amoeba. 


Aku suka cara mengajar Pak Sandro dan aku suka pelajaran Biologi. Aku tiba tiba ingat Ayah setiap kali Pak Sandro mulai menyebutkan nama-nama latin dari sejumlah spesies yang kami kenal. Aku senang melafalkan nama nama latin yag kutahu. Lidahku seakan menari ketika aku melakukannya. Aku sangat suka Biologi. Aku ingin tahu apa nama latin kopi merah yang aromanya lekat dengan masa kecilku. Aroma kopi merah basah dan keringat. Aroma Juno. Tiba tiba aku ingat dengan kertas surat pink pucat yang hanya berisi dua kata Dear Juno.


Kami masih berkonsentrasi dengan buku paket masing-masing ketika terdengar suara nyaring yang sangat kukenal. Tawa anak pecah dan tertuduhnya adalah Terre anak Bu Lestari guru Kimia kami. Aku ikut merasa tak enak atas bencana kecil itu. Teriakan mengejek yang membuat pipi memerah, terdengar tak berkesudahan. Kulirik Pak Sandro memintanya meredam keriuhan di kelas kami. Terre menunduk  dan merosot jauh di kursi kayu besar di pojok ruangan depan.


Aku teringat dengan teman-teman yang mengejekku di kelas olah raga selama aku SD, rasanya seperti merasakan lagi momentum itu. Tersudut di tempatku berdiri memohon dalam hati teman-temanku behenti menyoraki kebodohanku. “Pak Sandro, aku nggak bisa konsentrasi nih, anak anak ribut” suaraku lantang terdengar. Pak Sandro tersentak, sedetik sebelum memukulkan penggaris kayu ke atas papan tulis hitam di depan kelas. Semburan kapur putih  dan suara pukulan yang keras membuat teman temanku terdiam seketika. 


Kulirik Alina dan Phoebe terkikik pelan sambil melihatku. Aku tahu banyak mata yang memandangi punggungku, mungkin mengira-ngira sejak kapan Andini bisa berteriak lantang. Sejak kapan Andini bisa bersuara di kelas tanpa diminta. Aku menimbulkan kebingungan baru di pikiran teman-temanku. Andini yang pendiam. Andini yang pemurung. Andini yang penyendiri ternyata bisa bersuara.


“Andin tunggu” teriakan Alina membuatku mempercepat langkahku. Aku tak ingin Alina punya gossip baru yang bisa dibaginya pada Kak Grace. 


“Andin, bukumu jatuh!” suara buku yang menampar pundakku akhirnya membuatku berhenti.“ Apa-apaan sih kamu, dipanggil kura-kura dalam perahu” dengan napas tersengal Alina melotot tajam seakan meminta penjelasan mengapa. “Kamu sengaja ya cepet-cepetan ninggalin aku” cerocos Alina sambil menyodorkan buku paket biologi ke tanganku.

 
Sebuah amplop biru tersembul. Kutatap Alina dengan tatapan bertanya. Alina dengan muka menyebalkan mulai kedip-kedip kayak orang kelilipan semut rangrang. ish... Kutinggalkan Alina cepat setelah mengucapkan terima kasih dengan tergesa. Aku tak ingin Alina tahu tentang surat biru muda itu.Tapi aku tak yakin Alina tidak usil membukanya. OH Tuhan, jangan Alina deh. Alina kan ember bocor. Apa saja yang dituangkan ke dalamnya... bakal abis tumpah teka bersisa selain basah dan jadi gossip  paling hits di asrama dan di sekolah. 

Bersambung..









Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikan.
Sebagai balasannya, km menangis sepanjang malam.
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.
Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih
sayang. Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna Sebagai balasannya,
kau coret-coret dinding rumah dan meja makan
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian2 yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat
rumah
Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah. Sebagai
balasannya, kau berteriak.”NGGAK MAU!!”
Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.
Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.
Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu. Sebagai
balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.
Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang
hingga pesta ulang tahun
Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.
Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain
Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus
orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai di keluar rumah
Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena
sudah waktunya
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.
Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama
sebulan liburan
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya..
Saat kau berumur 15 tahun, pulang kerja ingin memelukmu Sebagai
balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli
kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke
kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau
tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?”
Sebagai balasannya, kau jawab,”Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan
orang!”
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus utk
karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,”Aku tidak ingin seperti Ibu.”
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus
perguruan tinggi
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1set furnitur untuk rumah
barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya
furnitur itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya ttg
rencananya di masa depan
Sebagai balasannya, kau mengeluh,”Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya spt
itu?”
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu Sebagai
balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana
merawat bayimu.
Sebagai balasannya, kau katakan padanya,”Bu, sekarang jamannya sudah
berbeda!”
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang
tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,”Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”.
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan
perawatanmu
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua
yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang, dan tiba-tiba kau
teringat semua yang belum pernah kau lakukan.



Sesungguhnya Mami  Papi adalah guru terhebat sekaligus pengobar semangat  yang takkan pernah padam bagi aku dan adik adikku... bagi kami ANAK ANAKMU.

Terima kasih ya Allah untuk jiwa jiwa baik hati, jiwa jiwa pahlawan yang punya tekad setegar karang, jiwa jiwa yang tak mengenal lelah  untuk membimbing dan mendidik anak anaknya.... yang kau sematkan pada MAMI PAPI kami.


Jadi inget dulu pas kuliah, kos–kosan yang menyenangkan. Bisa kelayapan kapanpun karena nggak ada ortu atau saudara yang tahu haha, tapi itu juga kalo bisa ngibulin ibu kostku yang galak abis.Aku memang anak rantau, hampir  21 tahun dari usiaku kuhabiskan di tanah rantau, sampai akhirnya aku terjebak  dan tertawan di kota Surabaya. Tapi jauh sebelum aku menjejakkan kaki di Surabaya atau Yogyakarta, aku pernah tinggal di sebuah kota kecil bernama LAHAT.

Kalo mau ditelusuri, aku ngerasa udah ngekost sejak kelas 1 SMP, maklum karena hidup didesa nan jauh terpencil di kaki gunung di pelosok Sumatera, sekolah waktu itu jadi hal yang mahal. Tapi bersyukur aku punya Mami Papi yang berfikiran sangat maju. Meskipun mereka hanyalah guru SD yang tinggal dipelosok, tapi mereka bertekad ke 5 anak anaknya harus maju. Dan maju itu artinya sekolah yang setinggi tingginya dan keluar dari desaku yang memang harus kuakui tidak terlalu bersahabat dengan pendidikan bagus.

Lepas SD, aku hijrah ke kota kabupaten Lahat yang jaraknya lumayan jauh untuk ukuran anak sekecil aku, sekitar 4 jam perjalanan yang menakutkan, mengerikan dan selalu menghantui malam malamku menjadi sebuah  mimpi buruk. Betapa tidak kontur jalan yang berliku tajam, dengan kelokan yang mengerikan, jurang di kiri kanan, hutan belantara yang sangat lebat... plus supir yang mengemudi sedikit diluar aturan.

Di Lahat, aku tinggal di rumah perumnas bersama tanteku yang ku panggil Cik Nis, aku belajar memasak sendiri, mencuci baju sendiri, nyetrika sendiri, aku belajar mandiri. Aku juga mulai menyadari perbedaanku dengan teman yang lain. Meskipun mampu, Mami tidak menyediakan fasilitas televisi di rumah, jadinya aku menjadi  tamu tetap tetanggaku yang kugilir secara teratur agar mereka tidak bosan menerima aku  yang ‘ numpang nonton TV’. Aku paling tak punya dibanding temanku. Bahkan untuk sekedar les tambahan pelajaran saja aku malu karena bajuku hanya itu itu saja. Satu satunya fasilitas paling mewah yang pernah kudapat waktu itu adalah “meja ligna“ sebutanku untuk sebuah meja belajar bagus dilengkapi laci, lemari berkunci, dan tentunya tempat buku.


Acara favoritku "Friday the 13th", hampir setiap malam jumat aku menantikannya, paling seru kalo pas hujan turun, atau tetanggaku pergi atau malah mati lampu. Aku akan menunggu tak sabar didepan rumah sambil membayangkan episode episode yang udah lewat dengan tak sabar didepan rumah. Akhirnya setelah dipanggil masuk, baru deh dengan langkah berat aku menuju kamar dan  mencoba tidur, sambil tetap komat kamit di mulut, berdoa semoga hujan reda, lamu cepat menyala  atau tetanggaku cepat pulang ...

Di Lahat, aku punya beberapa teman yang cukup akrab, tapi karena aku bukanlah seorang yang hebat ingatannya, lebih banyak yang lupa namanya dibanding yang kuingat. Di Perumnas, aku punya teman sekaligus tetangga yang selalu kudatangi kalau aku pengen lihat Film kesukaanku, namanya Riski, panggilannya Kiki. Kami bersekolah di SMP yang sama, berangkat dengan taksi ( sebutan untuk angkutan di Lahat ) yang sama dan pulang juga selalu bersama walaupun beda kelas. Yang kuingat, Kiki anak pertama, punya 2 adik, tidak terlalu banyak bicara, cenderung pendiam, dan jarang sekali keluar rumah. Rumah Kiki tepat didepan rumahku, rumah yang besar dan mewah dibanding rumahku. Kiki punya banyak barang barang mewah untuk anak seusiaku, alat tulisnya bagus, tasnya bagus, sepatunya bagus, bajunya juga bagus. Tapi aku ingat aku tidak terlalu iri melihat barang barang Kiki, mungkin karena Kiki baik denganku, entahlah.

Di Lahat, aku bersekolah di SMP Santo Yoseph, sebuah sekolah yang selalu kusebut keren karena seragamnya. Seragam merah kotak kotak yang menyala dnegan bentuk rok lipit yang bagus banget selalu membuatku bangga. Aku punya banyak teman di SMP, beberapa yang paling kuingat Venny, Melly, Iis, Jimmy, Yeti, Erika, dan lainnya. Sekali lagi , aku cukup parah dalam mengingat nama,  tapi aku masih sangat ingat wajah wajahnya. Layaknya di sekolah sedikit  swasta, selalu ada Kelompok orang Pinter, Kelompok Cewek Cantik dan Populer, Kelompok Anak tajir dan Kaya Raya, Kelompok anak Guru, Kelompok anak Pejabat,  dan seperti bisa ditebak , aku tidak masuk dalam kelompok manapun hahahaha...

Tapi aku bukan orang yang terlalu peduli dengan hal  hal itu, minimal waktu itu. Yang kuingat adalah meskipun sekolah katholik, dan aku seorang muslim, aku diperlakukan sama baiknya dengan yang lain oleh para guru, dan susternya. Aku belajar banyak hal, dari mulai kaligrafi, melukis, menari dan kegiatan kegiatan menarik lain. Aku pernah berkemah di halaman sekolah bersama teman sekolahku, Aku pernah ikut mengenal yang namanya Retret, aku boleh pinjam buku buku bacaan yang keren abis di perpus sekolahku, aku bahkan diajari nyanyi lagu “Twinkle Twinkle“ yang akhirnya menjadi lagu favorit aku dan anakku. Aku belajar banyak hal di sekolahku, aku belajar mengenal dunia yang jauh lebih menyenangkan  disini... aku membuka cakrawala baru di SMPku.

Masa kecilku, masa SMPku yang kurang lebih 3 tahun berjalan dengan sangat baik dan meninggalkan berjuta kenangan bagiku. Walaupun semangat belajarku belum tumbuh dengan baik, tapi aku menilai  masa ini adalah  awal baru dalam hidupku. Begitu banyak hal baru yang kudapat  waktu itu, dari  nonton bioskop  yang sebelumnya kebayangpun enggak, naik taksi pulang pergi sekolah, les tambahan, jalan jalan  sepulang sekolah, ... ah jadi kangeeen.

Untuk masalah pelajaran, aku tidak seperti anak kebanyakan yang belajar tiap malam,aku bahkan hampir tidak pernah belajar karena tidaka ada mami papi yang biasanya selalu setia mengajariku mengerjakan PR atau sekedar mengulang pelajaran yang didapat. Bahkan hampir tiap malam aku begadang, keluyuran ke tempat tetangga untuk numpang lihat TV. Tidak ada yang mengawasiku. Mungkin itulah penyebabnya , atau aku belum seratus persen bertanggung jawab terhadap tugas utamaku yaitu belajar.

Tapi walaupun akau selalu rangking 15-17 diantara 40 siswa sekelas, ada satu pelajaran yang aku sangat menonjol. Aku sangat suka bahasa Inggris, gurunya biasa kami panggil Ibu ATIK, wah aku sangat suka cara mengajar bu Atik, karena dia selalu memberi kami 10 kosa kata setiap pertemuan untuk diingat  di pelajaran berikutnya. Pokoknya top deh, bahkan aku sampai ambil les tambahan demi kesukaanku belajar bahasa inggris, dan hasilnya tidak mengecewakan. Di ujian akhir,  nilai NEMku untuk bahasa inggris adalah nilai sempurna atau 10. Pelajaran lain yang kusuka adalah matematika, yang ngajar ibu Yustina, sukaaaaa banget. Dari Bu Atik dan Bu Yustina aku belajar bahwa jadi guru yang baik adalah dengan  mengajar seikhlas mungkin, seceria mungkin dengan metode metode yang menyenangkan, jadi muridnya suka. Dulu pas ada pertanyaan guru favorit, Bu Atik dan Bu Yustina selalu dipilih oleh kami semua.

Terima kasih Mami, terima kasih Papi, karena berkat keikhlasan  kalian menjadikan kami anak anak hebat yang berpendidikan tinggi untuk bekal sukses  kami,
aku`bisa belajar banyak hal,
aku bisa mengenal hal hal baru yang sungguh menyenangkan,
aku bisa menanam berjuta kenangan yang akan selalu indah untuk diingat,
aku bisa merajut liar imajinasiku tanpa batas ..
aku bisa seperti sekarang.



 

Daun menguning.

Udara panas menyengat.

Rumput di teras depan yang bisanya hijaunya meneduhkan tampak menguning, kusam dan pucat.

Seekor kecoak kecil tampak melompat keluar dari lubang kecil disamping teras. Badannya yang gemuk dan hitam legam melenggak lenggok di bebatuan putih yang membatasi rumput taman. Kutajamkan penghilahatanku dan mulai menyiapkan senjata mematikan. Plaak!! Terdengar suara keras ketika sendal jepit lusuh yang tadinya kupakai kuhantamkan ke paving. Sial! Kecoaknya lepas dan berlari cepat ke balik rerimbunan bunga asoka yang sedang mekar.

Terdengar suara keras memekakkan telinga ketika motor merah di sudut carpot dihidupkan. Sekilas kulirik lelaki yang sedang sibuk mengoles oli di rantai. Kerutan di sekitar keningnya semakin jelas terlihat sekarang. Tak menyadari  sedang diamati, bibirnya begerak mendendangkan lagu yang kuhafal luar kepala. Suara mesin masih menggaung dan kecoak hitam itu masih bermain petak umpet di sekitar asoka. Kuusap peluh yang menetes dari keningku dan perlahan kutinggalkan kursi tempatku duduk.

Ruang tamu terlihat ramai dengan suara anak anak kecil. Aku terus berjalan melewati mereka menuju dapur. Langkahku terhenti melihat betapa porak porandanya dapur dan wastafel pencucian piring. Wajan bekas menggoreng ayam masih terihat berlumuran minyak hitam, magic com terbuka memberikan pandangan panci kosong dan sisa nasi yang mulai mengeras. Tanpa sadar aku berbalik arah menuju kamar tidur. Kurebahkan  badan dan mulai bernafas teratur, kupejamkan mata tanpa berniat memikiran gundukan baju di sudut kamar. 

Bismilah biarkan aku rehat sejenak dari rutinitas yang menjemukan ini.

Aku hanya ingin tidur dan melupakan semua. Sejenak mengambil jeda, sebentar mengurai lelah tanpa bermaksud menyerah.



Monster kesepian

Detail buku:
Judul asli: Frankenstein
Penulis: Mary Shelley
Penerjemah: Anton Adiwiyoto
Tebal: 312 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan III 2009
ISBN: 978-979-22-5096-1

Sinopsis:

Dokter Victor Frankenstein ingin menciptakan makhluk sempurna dengan menggabungkan ilmu pengetahuan dan ilmu gaib. Dari sisa-sisa tubuh orang mati, ia membuat makhluk raksasa dengan kekuatan luar biasa… dan menghidupkannya. Tetapi ketika makhluk itu membuka mata, Frankenstein melarikan diri denganrasa takut yang amat sangat.

Makhluk itu pun keluar ke dunia ramai, berusaha mencari teman dan cinta, namun yang diperolehnya justru kebencian dan ketakutan. maka ia pun bersumpah akan membalas dendam pada sang pencipta yang telah memberikan napas hidup baginya. Dengan kekuatannya yang luar biasa, ia berkelana hingga ke ujung dunia… untuk menghancurkan semua orang yang dicintai Frankenstein

Diawali oleh surat yang ditulis Robert Walton kepada Margareth adiknya. Walton bercerita tentang pelayarannya untuk mencari tempat yang jauh dan belum terjamah manusia. Pelayarannya terjadi pada abad ke 17, seabad sebelum kisah ini dibuat (1818). Obsesi Walton tentang keinginannya untuk menyingkap lebih dalam misteri kehidupan dan keinginannya untuk mencari seorang sahabat diceritakan dgn indah disetiap suratnya. Pada akhir suratnya Walton bercerita tentang pertemuannya dengan seorang pemuda yang kelak diketahui bernama Victor Frankenstein.

Lalu Frankenstein memulai ceritanya kepada Wilton. Frankenstein kecil yang putra dari salah seorang paling terkemuka di Jenewa, ibunya seorang yang baik hati dan penuh kasih sayang. Frankenstein mempunyai adik lelaki kecil Ernest dan William, adik angkat cantik yang begitu disayanginya bernama Elizabeth dan seorang sahabat setia bernama Clerval.
Hidupnya sangat bahagia, meskipun ibunya meninggal di usia yg sangat muda. Frankenstein lebih dulu mengenal dunia gaib lewat buku Cornellius Agrippa, sampai akhirnya Frankenstein masuk perguruan tinggi dan mulai terobsesi dengan ilmu pengetahuan.
Frankenstein muda yang tampan mulai terobsesi untuk menciptakan sesuatu dari pengetahuan yang dimilikinya.
Siang dan malam sampai berbulan bulan Frankenstein hidup terasing di lab kecil di apartemennya untuk mewujudkan mimpinya.
Sampai akhirnya Monster itu benar benar hidup. Makhluk setinggi 2 Meter dengan wajah pucat dan wajah mengerikan itu akhirnya hidup.

Frankenstein setelah berbulan bulan menyiksa diri tanpa makan, tanpa tidur begitu terkejut melihat sapaan makhluk yang diciptakannya. Bayangkan seluruh tubuhnya diambil dari potongan mayat yang dijahit satu persatu.
Frankenstein bukan saja takut dengan makhluk ciptaanya, tapi juga membencinya.

Makhluk tak bernama itu, dengan fisik yang menjulang dan wajah mengerikan ternyata tak mampu menemukan teman. Diceritakan bagaimana makhluk tsb tinggal sembunyi sembunyi di kandang milik sebuah keluarga Prancis yang baik hati, menolong keluarga tsb dgn menyediakan kayu bakar dan menebang pohon tapi pada akhirnya ketika makhluk itu menampakkan wajahnya, keluarga tsb menjerit, pingsan, berusaha memukulnya dan akhirnya tergesa pindah dan meninggalkannya sendirian.

Perasaan tak diinginkan, ditolak dan dibenci membuat makhluk itu menyimpan dendam dan kebencian pada penciptanya.
Satu persatu orang orang dekat dan disayangi Frankenstein terbunuh. Sampai akhirnya  makhluk itu berjanji tidak akan menyakiti manusia jika Frankenstein bersedia menciptakan pasangan untuknya. Kalut dan tak berdaya Frankenstein mengabulkan keinginan makhluk ciptaannya.

Cerita ini adalah sebuah kisah tragedi yang diceritakan dengan bahasa yang indah khas sastra klasik. Menceritakan bagaimana ilmu pengetahuan dianggap segalanya pada waktu kisah ini ditulis. Obsesi yang berlebihan dan kepercayaan yang mulai luntur pada Tuhan.

Penyesalan Frankenstein tak mampu mengembalikan keadaan. Bahkan meskipun mampu menciptakan makhluk, Frankenstein tak mampu menghidupkan Elizabethnya tersayang dan orang orang yang disayanginya.

Penyangkalan terhadap hasil ciptaannya membuat Frankenstein malah menciptakan monster, padahal di awal penciptaannya, walaupun secara fisik rupanya  sangat buruk, makhluk tersebut bukanlah makhluk yang jahat. Keterasingan dan penolakanlah yang mengubahnya juga ejekan dan pandangan merendahkan dari makhluk lainnya (manusia).

Banyak sekali hikmah dan renungan yang bisa kita ambil dari kisah ini. Obsesi dan ambisi yang berlebihan tak akan menghasilkan kebahagiaan.

Banyak juga kutipan dan kata kata berupa pertanyaan yang sering kita temukan dlm hidup.

“Semua orang membenci apa saja yang punya buruk rupa. Tapi mengapa aku harus dibenci kalau keadaanku paling penyedihkan di antara semua makhluk hidup. Bahkan kau, penciptaku, membenciku dan mencelaku, ciptaanmu?” p.131

“Sadarilah betapa berbahaya orang memiliki ilmu pengetahuan. Dan juga yakinlah betapa lebih bahagia orang yang menganggap kota kediamannya sebagai dunianya, daripada orang yang ingin menjadi lebih besar daripada yang diizinkan kondratnya.” p. 63

“Sungguh aneh hakikat ilmu pengetahuan! Sekali masuk ke otak, ilmu pengetahuan akan terus berpegangan erat-erat seperti kancing-kancingan melekat pada batu.” p.163

“Kita beristirahat, tetapi impian mampu meracuni tidur lelap.Kita bangun; satu pikiran akan mengeruhkan perasaan.Kita merasakan, membayangkan, mempertimbangkan; tertawa atau menangis.Memeluk kesedihan, atau melemparkan kemalangan.Semua sama saja: sebab sbaik kegembiraan maupun kesedihan akan lenyap dengan mudah.Kemarin takkan sama dengan esok.Semua akan selalu berubah-ubah!” p. 129


Total Tayangan Halaman

Popular Posts

www.penulistangguh.com. Diberdayakan oleh Blogger.